Sehari jelang laga, seorang spiritualis Ghana, Nana Kwaku Bonsam, membuat pernyataan mengejutkan. Ia mengklaim mampu “mengunci” pergerakan kapten Inggris, Harry Kane. Tanpa melukai. Tapi cukup membuatnya kehilangan ketajaman (viewsbangladesh.com).
Ucapan itu awalnya dianggap sensasi.
Namun hasil di lapangan berkata lain.
Inggris tampil dominan. Tapi tumpul. Kane gagal memanfaatkan peluang. Bahkan satu kans emas melambung tinggi. Serangan The Three Lions mentok di pertahanan disiplin Ghana.
Kebetulan itu langsung memicu kehebohan.
Media sosial meledak. Narasi “black magic” atau “ilmu hitam” jadi perbincangan liar. Banyak yang mengaitkan performa buruk Inggris dengan klaim sang dukun.
Situasi makin panas setelah beredar video dari tribun.
Sejumlah suporter Ghana terlihat menaburkan bubuk putih dan melakukan ritual. Aksi itu dikaitkan dengan praktik spiritual tradisional Afrika yang dikenal sebagai “juju”.
Spekulasi pun tak terbendung.
Gelandang Inggris, Declan Rice, ikut menyinggung. Ia berseloroh usai laga, menyebut mungkin saja ada “ilmu hitam” karena timnya gagal mencetak gol meski menguasai permainan.
Di tengah kontroversi, Ghana justru tampil impresif.
Sebelumnya mereka menang 1-0 atas Panama. Kini menahan Inggris tanpa gol. Belum kebobolan. Menjadi salah satu tim paling solid di fase grup.
Apakah ini murni taktik dan disiplin?
Atau benar ada faktor lain?
Yang jelas, laga 23 Juni itu bukan sekadar pertandingan. Tapi juga awal dari salah satu cerita paling heboh di Piala Dunia 2026.
0 Komentar