ERABRITA.COM – Kabupaten Maros menjadi daerah pertama yang mulai mengembangkan Ayam Alope Unhas-1 di tingkat peternak. Melalui dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Pemerintah Kabupaten Maros menyalurkan 1.000 ekor day old chick (DOC) kepada peternak di Desa Tompobulu, Kecamatan Tompobulu. 

Sebagai penunjang budidaya, pemerintah juga membangun kandang berukuran 5 x 35 meter, sementara Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Unhas) memberikan pendampingan teknis mulai dari pemeliharaan hingga manajemen usaha.

Sekitar tujuh bulan setelah program berjalan, peternakan tersebut telah memiliki sekitar 500 ekor indukan. Bagi Maros, pengembangan Ayam Alope bukan sekadar program bantuan ternak, melainkan upaya membangun sumber ekonomi baru berbasis hasil riset perguruan tinggi.

Selama ini ayam kampung memiliki pasar yang kuat. Permintaan datang dari rumah tangga, rumah makan hingga pelaku usaha kuliner karena cita rasanya yang khas. Namun di sisi lain, peternak menghadapi persoalan klasik: pertumbuhan ayam kampung relatif lambat sehingga masa pemeliharaan menjadi panjang dan biaya pakan terus meningkat. Kondisi itu membuat keuntungan peternak tidak selalu sebanding dengan waktu dan biaya yang dikeluarkan.

Persoalan tersebut menjadi titik awal penelitian panjang yang dilakukan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.

Program pengembangan ayam unggul tersebut mulai dikerjakan pada 2019 melalui Program Prioritas Riset Nasional (PRN). Dalam program ini, Universitas Hasanuddin bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) mendapat mandat untuk menghasilkan ayam kampung unggul yang mampu tumbuh lebih cepat, tetapi tetap mempertahankan karakter ayam lokal yang menjadi favorit masyarakat.

Menyempurnakan ayam kampung, bukan menggantinya

Ayam Alope Unhas-1 bukan hasil rekayasa genetika, melainkan hasil pemuliaan melalui seleksi yang dilakukan selama bertahun-tahun. Tim peneliti memilih indukan-indukan terbaik secara berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga diperoleh galur yang memiliki sifat unggul dan stabil.

Menurut Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 838/Kpts/HK.150/M/09/2025, Ayam Alope Unhas-1 merupakan hasil within breed selection atau seleksi dalam satu rumpun ayam kampung yang berasal dari Kabupaten Gowa, Takalar, dan Soppeng, Sulawesi Selatan. Seleksi dilakukan berdasarkan sifat pertumbuhan atau bobot hidup umur 70 hari, efisiensi penggunaan pakan, warna shank hitam, serta tipe jengger tunggal (single comb) selama lima generasi sebelum akhirnya dilepas sebagai galur ayam unggul nasional.

Penelitian tersebut dipimpin Dr. Ir. Wempie Pakiding, M.Sc. bersama Dr. Muhammad Ihsan A. Dagong, S.Pt., M.Si., Prof. Ir. Raden Roro Sri R.A. Bugiwati, M.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Ir. Sri Purwanti, S.Pt., M.Si., IPU., ASEAN Eng., drh. Kusumandari Indah Prahesti, M.Si., Muhammad Rachman Hakim, S.Pt., M.P., Ir. Dayatmo, S.Pt., M.P., IPM., Prof. Dr. Ir. Syahdar Baba, S.Pt., M.Si., IPU., serta Dr. Muhammad Risal, S.Pt., M.Si.

Target para peneliti bukan menciptakan ayam yang sama sekali baru. Yang ingin dicapai adalah mempertahankan keunggulan ayam kampung terutama cita rasa dan tekstur dagingnya namun memperbaiki produktivitasnya agar lebih menguntungkan bagi peternak.

Perjalanan riset yang berlangsung sekitar enam tahun itu menunjukkan hasil yang melampaui target awal. Jika sasaran program adalah menghasilkan ayam kampung dengan bobot satu kilogram pada umur 70 hari, pada generasi kelima Ayam Alope Unhas-1 telah mampu mencapai bobot tersebut pada umur sekitar 60 hari. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan program pemuliaan yang dikembangkan Fakultas Peternakan Unhas.

Hasilnya, Ayam Alope Unhas-1 mampu tumbuh lebih cepat dibanding ayam kampung pada umumnya. Pada umur sekitar 10 minggu, ayam jantan dapat mencapai bobot sekitar 1,4 kilogram, sedangkan ayam betina sekitar 1,1 kilogram.

Keunggulan lainnya terletak pada efisiensi penggunaan pakan. Dengan kebutuhan pakan yang lebih hemat untuk menghasilkan bobot yang sama, biaya produksi peternak dapat ditekan. Ayam ini juga dikenal adaptif terhadap lingkungan tropis Indonesia dan memiliki ketahanan yang baik terhadap penyakit, termasuk Newcastle Disease (ND).

Meski mengalami peningkatan produktivitas, karakter ayam kampung tetap dipertahankan. Tekstur dagingnya padat, seratnya rapat, dengan ukuran tubuh yang lebih besar sehingga menghasilkan karkas lebih banyak. Karakter inilah yang diharapkan mampu memenuhi selera konsumen yang selama ini memilih ayam kampung karena rasa dan kualitas dagingnya.

Resmi menjadi galur unggul nasional

Kerja panjang para peneliti Unhas akhirnya memperoleh pengakuan dari pemerintah. Melalui Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 838/Kpts/HK.150/M/09/2025, Ayam Alope Unhas-1 resmi ditetapkan sebagai galur ayam unggul Indonesia.

Penetapan tersebut menandai bahwa galur ini telah memenuhi persyaratan ilmiah sebagai sumber daya genetik ternak yang layak dikembangkan secara luas. Bagi dunia akademik, pengakuan itu menjadi validasi atas penelitian yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Bagi peternak, status tersebut membuka peluang agar Ayam Alope dapat diproduksi dan dikembangkan secara lebih luas.

Beberapa waktu lalu, peresmian pelepasan galur Ayam Alope Unhas-1 dilakukan langsung oleh Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., di Aula Fakultas Peternakan Unhas.

Dalam kesempatan itu, Rektor Unhas berharap Ayam Alope tidak berhenti sebagai hasil penelitian kampus. Ia bahkan membayangkan hadirnya restoran dengan menu khusus Ayam Alope sebagai bagian dari penguatan identitas Universitas Hasanuddin sekaligus memperkenalkan produk unggulan Sulawesi Selatan kepada masyarakat.

Harapan tersebut mulai menemukan jalannya di Maros. Pengembangan yang kini dilakukan di tingkat peternak menjadi tahap awal untuk melihat bagaimana hasil penelitian dapat diterapkan dalam skala usaha.

Apabila mampu diproduksi secara berkelanjutan, Ayam Alope Unhas-1 berpeluang menjadi alternatif baru bagi peternak ayam kampung. Produktivitas yang lebih baik, biaya pemeliharaan yang lebih efisien, serta tetap mempertahankan cita rasa ayam kampung dapat menjadi kombinasi yang dibutuhkan untuk memperkuat ekonomi peternakan rakyat di masa mendatang.
Baca Juga