Breaking News

Bioetanol Dibuka untuk Swasta, Pengusaha Daerah Punya Ruang Masuk

JAKARTA — Pengembangan industri bioetanol nasional membuka ruang bagi sektor swasta, termasuk pengusaha daerah, untuk masuk dalam ekosistem bisnis berbasis komoditas pertanian.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan hal itu setelah memimpin rapat pengembangan bioetanol bersama 44 bupati dari berbagai daerah di Jakarta, Senin (21/9/2026).

Menurut Amran, pemerintah akan mengambil peran dalam menyiapkan kawasan dan kepastian lahan, sementara pembangunan industri dapat diperkuat melalui investasi BUMN dan swasta.

Ia menyebut porsi pembiayaan yang sedang dibicarakan dapat berada di kisaran 30 persen dari BUMN dan 70 persen dari swasta.

“Anggarannya mungkin 30 persen dari BUMN, 70 persen dari swasta dan pasti swasta mau karena tanahnya disiapkan oleh negara,” kata Amran.

Kata “mungkin” dalam pernyataan tersebut menunjukkan skema itu masih berupa gambaran, bukan ketentuan pembiayaan yang telah ditetapkan. Namun, arah kebijakan yang disampaikan pemerintah menunjukkan sektor swasta disiapkan menjadi salah satu sumber investasi pembangunan industri bioetanol.

Amran mengatakan kepastian lahan menjadi salah satu faktor yang dapat menarik investor. Pemerintah akan melakukan konsolidasi lahan sekaligus menyiapkan kawasan produksi sebelum pembangunan industri dilakukan secara lebih luas.

“Itu swasta dan BUMN. BUMN kita upayakan, kita prioritaskan BUMN dulu. Kalau BUMN oke, sudah maksimal, bisa 30 persen, bisa 40 persen, bisa 50 persen. Pokoknya, berapa kemampuan BUMN, sesudah itu, swasta, dan swasta pasti antre,” ujar Amran.

Peluang investasi tersebut tidak hanya diarahkan kepada perusahaan berskala nasional. Pemerintah juga secara khusus mendorong keterlibatan pengusaha daerah agar pertumbuhan industri bioetanol ikut membentuk pusat-pusat ekonomi baru di daerah.

Dalam konsep yang disampaikan pemerintah, industri akan dibangun dengan basis bahan baku pertanian setempat. Tebu, singkong dan jagung menjadi tiga komoditas yang disiapkan untuk mendukung industri tersebut.

Artinya, ruang ekonomi yang terbentuk tidak hanya berada di pabrik pengolahan. Kegiatan produksi bahan baku, perdagangan hasil pertanian, jasa pendukung dan kegiatan ekonomi di sekitar kawasan produksi juga menjadi bagian dari ekosistem yang akan berkembang.

Kementan menyebut pengembangan bioetanol akan mengintegrasikan kawasan pertanian dengan industri pengolahan. Pemerintah menyiapkan pengembangan lahan hingga 2 juta hektare untuk mendukung kebutuhan bahan baku.

Di sisi lain, pemerintah juga menegaskan bahwa pengembangan industri tidak boleh hanya berorientasi pada pemodal. Masyarakat akan ditempatkan dalam skema kemitraan dengan porsi yang disebut Amran minimal 30 persen.

“Ini tidak boleh monopoli, minimal 30 persen rakyat. Jadi rakyat menikmati. Sekarang nggak boleh di bawah 20, harus 30 persen untuk rakyat. Harus tumbuh bersama kalau negara mau kuat,” tegasnya.

Bagi pengusaha daerah, keterlibatan dalam program tersebut tidak hanya berkaitan dengan investasi pembangunan pabrik. Posisi mereka dapat berada dalam rantai ekonomi yang terbentuk di sekitar kawasan bahan baku dan industri, meski bentuk kemitraan dan mekanisme investasi untuk pengusaha lokal belum dirinci pemerintah dalam rapat tersebut.

Amran menegaskan pemerintah ingin pengembangan bioetanol memberikan dampak ekonomi yang lebih luas di daerah.

“Pemerintah juga mendorong keterlibatan pengusaha daerah sehingga pengembangan bioetanol tidak hanya menciptakan industri, tetapi sekaligus membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah,” ujarnya.

Untuk tahap awal, pemerintah akan melihat kesiapan masing-masing daerah, termasuk potensi lahan dan komoditas. Pengembangan jagung, misalnya, akan dimulai melalui percontohan dengan dukungan 1.000 hektare per kabupaten dan dapat diperluas hingga 1.500 hektare jika produksinya menunjukkan hasil baik.

Dengan pola tersebut, peluang bisnis lokal akan sangat bergantung pada kesiapan daerah membangun rantai pasok bahan baku sekaligus kemampuan pelaku usaha mengikuti perkembangan industri yang akan dibangun.

Pengembangan bioetanol sendiri masih berada pada tahap konsolidasi. Amran menyebut pertemuan dengan 44 bupati sebagai titik awal untuk menggerakkan program tersebut secara nasional.

“Kita baru mau mulai konsolidasi hari ini. Ini adalah titik awal hari ini. Ya, doakan, mudah-mudahan bisa mulai tahun ini,” ujarnya.

Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM