Rabu, 6 Mei 2026, menjadi penanda dimulainya rangkaian pelaksanaan program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Soppeng. Program yang digagas Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Sulawesi Selatan itu mulai disosialisasikan kepada petani yang akan menjadi pelaksana utama di lapangan.
Di sebuah pertemuan yang mempertemukan penyuluh, pemerintah daerah, tim teknis, dan kelompok tani, satu pesan besar mengemuka: petani Soppeng sedang disiapkan memasuki era pertanian modern.
Program ini dipusatkan di lahan seluas 100 hektare dengan melibatkan 163 petani dari Kelompok Tani Addiange dan Mattunru-Tunrue. Penetapan lokasi bukan dilakukan secara acak. Tim BBRMP Sulawesi Selatan bersama penyuluh pertanian lapangan terlebih dahulu melakukan survei teknis untuk memastikan kawasan tersebut memenuhi syarat penerapan sistem PM-AAS.
Hadir dalam kegiatan itu tim BBRMP Sulawesi Selatan, penyuluh pertanian tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Soppeng, Lurah Apanang, serta para petani peserta program.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Soppeng yang diwakili Sekretaris Dinas Pertanian, Alia Warjuni, S.TP., M.Si., menegaskan bahwa Soppeng sebelumnya telah merasakan hasil dari penerapan program serupa.
“Diharapkan kegiatan PM-AAS ini mampu meningkatkan hasil produksi padi lebih tinggi dibandingkan metode konvensional yang selama ini digunakan petani,” ujar Ibu Alia Warjuni.
Pernyataan itu menjadi gambaran arah besar program ini: mengubah pola pertanian tradisional menuju sistem produksi yang lebih terukur dan produktif.
Dari Cara Konvensional Menuju Sistem Modern
Di hadapan para petani, Basrum, SP., M.Si. memaparkan bagaimana PM-AAS dirancang sebagai adaptasi sistem pertanian modern yang diterapkan di Amerika Serikat.
Konsepnya bukan hanya soal penggunaan alat canggih, tetapi perubahan menyeluruh dalam pola budidaya. Mulai dari penggunaan benih unggul, pengaturan jarak tanam, pemupukan berbasis kebutuhan tanaman, hingga mekanisasi penuh dalam proses produksi.
Ia menjelaskan bahwa program ini merupakan adopsi dari sistem pertanian modern yang diterapkan di Amerika Serikat, yang mampu menghasilkan produksi padi di atas 10 ton per hektare.
Bagi sebagian petani, angka produksi di atas 10 ton per hektare tentu terdengar ambisius. Namun pemerintah melihat potensi itu bisa dicapai jika seluruh komponen teknologi diterapkan secara disiplin.
Program PM-AAS sendiri dijalankan di 15 provinsi di Indonesia. Khusus Sulawesi Selatan, hanya empat daerah yang menjadi lokasi penerapan, yakni Maros, Sidrap, Bone, dan Soppeng.
“Program ini dilaksanakan di 15 provinsi di Indonesia. Khusus di Sulawesi Selatan, kegiatan dilaksanakan di empat kabupaten, yaitu Maros, Sidrap, Bone, dan Soppeng, masing-masing seluas 100 hektare,” jelasnya.
Drone, Atabela, dan Pola Tanam Baru
Modernisasi yang dimaksud dalam PM-AAS tampak jelas pada metode budidaya yang akan diterapkan.
Petani diarahkan menggunakan pola jarak tanam rapat dengan sistem legowo. Penanaman tidak lagi dilakukan secara manual sepenuhnya, tetapi memakai alat tanam modern atau atabela.
Di sisi lain, teknologi drone juga mulai diperkenalkan sebagai bagian dari sistem penyemprotan pertanian. Bagi petani yang selama ini terbiasa bekerja secara manual, perubahan tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri. Namun di balik itu, tersimpan harapan besar terhadap efisiensi tenaga kerja dan peningkatan hasil panen.
Tak hanya metode tanam, pola pemupukan juga diubah lebih terukur. Petani diminta mendahulukan penggunaan pupuk NPK, kemudian menyesuaikan pemberian urea berdasarkan kebutuhan tanaman yang diukur menggunakan Bagan Warna Daun (BWD).
Dosis pupuk yang diterapkan bahkan lebih tinggi dibanding pola konvensional, yakni 350 kilogram urea dan 400 kilogram NPK per hektare. Langkah ini dilakukan untuk mengejar target produktivitas tinggi yang menjadi orientasi utama program.
Persoalan Tanah Jadi Perhatian
Di balik optimisme modernisasi pertanian, persoalan dasar lahan juga menjadi perhatian serius. Dalam sesi diskusi, petani aktif mempertanyakan berbagai hal, mulai dari bantuan pemerintah hingga kondisi tanah yang akan digunakan.
Tim teknis menjelaskan bahwa penggunaan pupuk organik bersifat wajib dalam program ini. Alasannya, kondisi pH tanah di lokasi kegiatan masih berada di bawah kategori ideal. Karena itu, lahan membutuhkan pembenah tanah berupa pupuk organik dan kapur agar kesuburannya meningkat.
Bantuan pemerintah dalam program ini meliputi benih, pupuk organik petroganik, alat tanam, hingga silika. Untuk benih hibrida, sebagian telah tersedia dan petani diminta memanfaatkan stok yang ada lebih dahulu.
Diskusi berlangsung aktif. Para petani terlihat tidak hanya menjadi peserta penerima program, tetapi mulai memahami bahwa modernisasi pertanian membutuhkan perubahan cara berpikir dan disiplin penerapan teknologi.
Menuju Tanam Perdana
Rangkaian kegiatan PM-AAS di Soppeng belum berhenti pada tahap sosialisasi. Pemerintah telah menjadwalkan tanam perdana pada Jumat pagi, 8 Mei 2026. Kegiatan itu direncanakan dihadiri jajaran Kementerian Pertanian.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, maka Apanang akan menjadi salah satu titik penting transformasi pertanian modern di Sulawesi Selatan, tempat di mana petani mulai meninggalkan pola lama dan bersiap memasuki sistem pertanian berbasis teknologi, efisiensi, dan produktivitas tinggi.
0 Komentar