ERABRITA.COM - Di Sulawesi Selatan, glamping bukan lagi hal baru. Tenda-tenda mewah berdiri di kawasan pegunungan, di tepi hutan, hingga menghadap lembah. Pemandangannya indah, udaranya sejuk, dan semuanya menjanjikan ketenangan.
Lejja dengan cerita yang berbeda.
Bayangkan membuka pintu tenda saat fajar. Kabut masih menggantung di sela pepohonan, udara pegunungan terasa segar, lalu beberapa langkah di depan mengalir air panas alami yang mengepul. Pengunjung tidak perlu memilih antara menikmati alam atau berendam, keduanya hadir dalam satu kawasan.
Ketika malam turun, suasana berubah semakin hening. Langit gelap membiarkan bintang-bintang tampil lebih terang, sementara suara hutan mengambil alih riuh perkotaan. Paginya dimulai dengan berendam di kolam air panas alami, kemudian menyusuri jalur hutan yang masih terjaga. Rangkaian pengalaman seperti ini belum banyak ditawarkan destinasi glamping lain di Sulawesi Selatan.
Itulah kekuatan Lejja. Air panas alaminya telah menjadi magnet wisata selama puluhan tahun. Saat dipadukan dengan konsep glamping yang nyaman dan menyatu dengan alam, Lejja memiliki peluang besar melahirkan pengalaman menginap yang memiliki identitas sendiri. Orang datang bukan hanya untuk bermalam, melainkan karena ada pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Perseroda PT Lamataesso Mattappa, Musdar Asman, mengatakan pembangunan glamping merupakan bagian dari upaya menghadirkan pengalaman baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Taman Wisata Alam Lejja.
"Selama ini Lejja dikenal karena sumber air panas alaminya. Potensi itu sangat besar, sehingga kami ingin menghadirkan fasilitas yang membuat wisatawan bisa menikmati suasana Lejja lebih lama, bukan hanya datang berendam lalu pulang," ujarnya.
Menurut Musdar, konsep glamping dipilih karena selaras dengan karakter kawasan Lejja yang dikelilingi hutan tropis dan memiliki udara yang sejuk.
"Kami ingin orang yang datang benar-benar merasakan suasana Lejja dari pagi hingga malam. Bangun pagi dengan udara yang segar, menikmati alam, lalu berendam di air panas alami. Pengalaman seperti ini menjadi daya tarik yang kami yakini akan memperkuat posisi Lejja sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Sulawesi Selatan."
Ia menambahkan, pengembangan glamping juga diharapkan mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan, sehingga memberi dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat sekitar melalui sektor kuliner, jasa, hingga pelaku UMKM.
Ketika glamping itu berdiri nanti, Lejja akan menawarkan cara baru menikmati waktu. Malam dihabiskan di tengah hutan yang tenang, pagi diawali dengan udara pegunungan yang segar.
Setelah itu, tubuh dimanjakan dengan berendam di kolam air panas alami atau menikmati refleksi yang selama ini menjadi favorit banyak pengunjung.
Di sela-selanya, secangkir kopi hangat, suara burung dari balik rimbunnya pepohonan, dan aroma hutan yang masih alami menjadi pelengkap yang sulit dicari di tempat lain.
Mungkin itulah yang akan membuat orang rela menempuh perjalanan sedikit jauh ke Lejja. Bukan semata untuk menginap, melainkan menikmati pengalaman yang membuat tubuh lebih rileks, pikiran lebih tenang, dan pulang dengan keinginan untuk kembali.
0 Komentar