Breaking News

Euforia Piala Dunia dan Kedekatan yang Tumbuh di Tengah Masyarakat Soppeng

SOPPENG — Piala Dunia 2026 sedang menjadi cerita bersama masyarakat. Di warung kopi, teras rumah, kantor, hingga sudut-sudut kampung, obrolan tentang sepak bola hampir selalu menemukan tempatnya sendiri. Ada yang membahas hasil pertandingan semalam, ada yang sibuk menghitung peluang tim favoritnya lolos ke babak berikutnya, dan ada pula yang sekadar menikmati suasana.

Pemandangan itu juga dirasakan Bupati Soppeng, Suwardi Haseng. Di tengah aktivitasnya sebagai kepala daerah, ia melihat bagaimana Piala Dunia menghadirkan suasana yang berbeda di tengah masyarakat. Untuk beberapa pekan, banyak orang memiliki topik yang sama untuk dibicarakan, meski berasal dari latar belakang yang berbeda-beda.

Suwardi sendiri menjagokan Argentina. Kemenangan Argentina atas Algeria pada laga perdana Grup J tentu menjadi kabar yang menggembirakan bagi para pendukung Albiceleste. Namun baginya, yang menarik dari Piala Dunia bukan hanya soal tim yang menang atau kalah.

Yang lebih berkesan justru suasana yang tercipta di tengah masyarakat.

Dalam beberapa hari terakhir, ia melihat bagaimana sepak bola menjadi bahan percakapan yang menyatukan banyak orang. Seorang petani, pedagang, ASN, mahasiswa, hingga tokoh masyarakat bisa terlibat dalam obrolan yang sama. Kadang serius membahas taktik permainan, kadang hanya saling menggoda karena tim jagoannya kalah.

" Saya melihat Piala Dunia kali ini bukan hanya soal pertandingan sepak bola. Di mana-mana orang membicarakannya, mulai dari warung kopi sampai lingkungan perkantoran. Ada kegembiraan yang dirasakan bersama oleh masyarakat, dan itu hal yang positif," ujar Suwardi.

Suasana seperti itu mungkin terlihat sederhana. Namun di tengah kehidupan yang berjalan dengan ritmenya masing-masing, tidak banyak momen yang mampu menghadirkan kegembiraan bersama seperti yang diciptakan Piala Dunia.

Tidak semua orang mendukung tim yang sama. Ada yang setia kepada Argentina, ada yang memilih Brasil, Inggris, Prancis, Maroko, atau tim lainnya. Tetapi perbedaan itu tidak menciptakan jarak. Sebaliknya, justru menjadi bumbu yang membuat setiap percakapan terasa lebih hidup.

Bagi Suwardi Haseng, inilah salah satu hal yang membuat Piala Dunia selalu menarik untuk diikuti. Bukan semata karena kualitas pertandingan atau para pemain bintangnya, melainkan karena turnamen ini menghadirkan cerita yang sama di tengah masyarakat.

Saat pertandingan berlangsung, ribuan orang menatap layar yang berbeda tetapi mengikuti momen yang sama. Keesokan harinya, mereka kembali bertemu dan melanjutkan cerita yang sama pula. Dari situlah lahir kehangatan-kehangatan kecil yang sering kali tidak terlihat, tetapi terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari.

"Boleh saja kita berbeda tim dukungan, ada yang mendukung Argentina, Brasil, Inggris, atau tim lainnya. Tapi yang paling menarik adalah bagaimana Piala Dunia membuat banyak orang punya ruang untuk berkumpul dan berbagi cerita. Suasana seperti ini jarang terjadi," katanya.

Karena pada akhirnya, Piala Dunia bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, turnamen ini menghadirkan kegembiraan yang dinikmati bersama, mempertemukan banyak orang dalam percakapan yang sama, dan menghadirkan rasa kebersamaan yang sulit ditemukan pada momen-momen lain.

"Siapa pun yang nanti menjadi juara dunia, saya kira yang sudah menang lebih dulu adalah kebersamaan masyarakat. Piala Dunia memberi kita kesempatan untuk menikmati kegembiraan yang sama, meskipun pilihan tim favorit kita berbeda-beda," tutup Suwardi Haseng.

Dan di tengah euforia itu, seorang bupati tidak berdiri sebagai penonton yang berbeda dari masyarakatnya. Ia menjadi bagian dari cerita yang sama, menikmati kegembiraan yang sama, bersama warga yang dipimpinnya.
Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM