Breaking News

Sejak 1998, Brasil Tetap Menjadi Pilihan Hati Ketua KONI Luwu Timur

Setiap kali Piala Dunia bergulir, ada satu pertanyaan yang hampir selalu diterima Herawan Raditya, Ketua KONI Luwu Timur dari teman-temannya.

"Masih Brasil?"

Jawabannya selalu sama.

"Iya, tetap Brasil."

Jawaban itu sudah bertahan sejak Piala Dunia 1998 di Prancis. Saat banyak orang berganti dukungan mengikuti pemain favorit atau tim yang sedang kuat, pilihannya tidak berubah. Brasil tetap menjadi tim yang paling ditunggu setiap kali tampil di lapangan.

Ia masih ingat bagaimana pertandingan- pertandingan Brasil pada era Ronaldo Nazario, Rivaldo, dan Roberto Carlos menjadi tontonan yang berbeda. Bukan karena selalu menang, melainkan karena cara mereka bermain.

Umpan-umpan pendek, gerakan spontan, keberanian menggiring bola dalam situasi sempit, hingga selebrasi yang penuh ekspresi membuat pertandingan Brasil terasa hidup dari menit pertama sampai peluit akhir.

"Kalau Brasil main, rasanya selalu ada yang ditunggu," katanya.

Perasaan itu terus terbawa hingga sekarang. Nama-nama pemain sudah berganti berkali-kali, pelatih datang dan pergi, tetapi ciri permainan Brasil tetap mudah dikenali.

Di mata banyak penggemarnya, Brasil tidak pernah jauh dari sepak bola menyerang. Mereka bermain dengan tempo cepat, mengandalkan kreativitas, dan sering melahirkan pemain yang berani mengambil risiko di lapangan.

Dari generasi Pelé, Zico, Romário, Ronaldo, Ronaldinho, hingga Neymar, selalu ada pemain yang mampu membuat penonton berdiri dari kursinya hanya karena satu sentuhan atau satu gerakan yang tidak terduga.

Dalam satu dekade terakhir, perhatian publik banyak tertuju kepada Neymar. Bagi banyak pendukung Brasil, Neymar menjadi simbol generasi baru Selecao. Kemampuan menggiring bola, keberanian menghadapi lawan satu lawan satu, dan kreativitasnya di lapangan membuatnya menjadi pemain yang selalu ditunggu aksinya.

Kini, ketika usia Neymar tidak lagi muda, Brasil kembali melahirkan talenta-talenta baru. Mereka hadir dengan karakter berbeda, tetapi tetap membawa warna permainan yang selama ini identik dengan Brasil. Cepat, kreatif, dan berani menyerang.

Menurutnya, pergantian pemain justru menjadi bagian menarik dari mendukung Brasil. Selalu ada wajah baru yang muncul, tetapi gaya bermain yang membuatnya jatuh hati sejak 1998 tetap bisa ditemukan hingga sekarang.

Lima gelar juara dunia yang diraih Brasil tentu menjadi bagian penting dari sejarah sepak bola. Trofi pertama datang pada 1958, disusul 1962, 1970, 1994, dan 2002. Namun bagi para pendukung setianya, catatan itu bukan alasan utama untuk terus mendukung Selecao.

Ada banyak tim yang pernah menjadi juara. Ada pula tim yang sedang berada dalam performa lebih baik. Tetapi hanya sedikit yang memiliki identitas permainan sekuat Brasil.

Suasana Piala Dunia 2026 menghadirkan cerita yang sama.

Di sela aktivitas sehari-hari, ia tetap menyempatkan diri mengikuti jadwal pertandingan Brasil. Grup percakapan kembali ramai, perdebatan antarpendukung tim nasional lain muncul lagi, dan jadwal tidur pun sering berubah mengikuti jam pertandingan.

Bagi sebagian orang, Piala Dunia adalah soal hasil akhir. Bagi dirinya, Piala Dunia adalah momen menunggu Brasil bermain.

Karena itu, kemenangan maupun kekalahan tidak pernah mengubah pilihan yang sudah dibuat sejak 1998.

Hampir tiga dekade berlalu sejak pertama kali mendukung Brasil. Banyak hal berubah selama rentang waktu itu. Namun setiap empat tahun sekali, ketika jersey kuning kembali muncul di panggung Piala Dunia, dukungan itu tetap berada di tempat yang sama.

Tetap Brasil.
Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM