Breaking News

Rekonstruksi Naskah Lontara di Soppeng Berhasil Ungkap Dua Teks Penting, Jadi Bukti Kuat Tradisi Literasi Bugis


SOPPENG – Proses rekonstruksi dan edisi teks terhadap naskah bergulung berbahan daun lontar yang ditemukan di Cangadi  Kel. Appanang, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng, berhasil mengungkap dua teks penting yang menjadi bukti berkembangnya tradisi literasi masyarakat Bugis pada masa lampau.

Kegiatan yang berlangsung selama tujuh hari, mulai 25 Juni hingga 2 Juli 2026, dilakukan melalui pendekatan filologi modern dengan model kritik teks. Rekonstruksi tersebut merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Sulawesi Selatan.

Filolog Abdi Mahesa, S.S., M.Hum., yang memimpin penelitian, menjelaskan bahwa hasil edisi teks menunjukkan naskah tersebut memuat dua genre berbeda.

"Naskah bergulung berbahan daun lontar ini mengandung dua teks, yaitu teks tentang hari-hari baik seputar perjodohan dan teks sastra berbentuk puisi naratif yang dikenal sebagai Sureq Baweng atau Hikayat Burung Bayan," ujar Abdi Mahesa.

Menurutnya, temuan tersebut menjadi informasi baru yang memperkaya khazanah manuskrip Bugis sekaligus menguatkan indikasi bahwa Kabupaten Soppeng telah memiliki peradaban yang mapan dengan tradisi literasi yang berkembang sejak masa lalu.

"Hasil rekonstruksi ini menghadirkan pengetahuan baru sekaligus menjadi indikasi kuat adanya peradaban yang terbina melalui tradisi literasi di Kabupaten Soppeng," tambahnya.

Beberapa waktu lalu, saat proses rekonstruksi masih berlangsung, Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng berkesempatan mengunjungi lokasi kegiatan di Cangadi. Dalam kunjungan tersebut, Bupati menyaksikan langsung tahapan rekonstruksi naskah bersama Abdi Mahesa dan tim peneliti.

Pada kesempatan itu, Suwardi Haseng mengapresiasi langkah ilmiah yang dilakukan tim filolog. Menurutnya, upaya rekonstruksi dan penyuntingan naskah kuno merupakan kontribusi penting bagi penguatan ekosistem kebudayaan di Kabupaten Soppeng.

Bupati menilai, pelestarian manuskrip kuno tidak hanya menjaga warisan sejarah, tetapi juga membuka kembali pengetahuan yang tersimpan dalam naskah-naskah peninggalan leluhur sehingga dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM