erabrita.com. Malam kedua Pasar Ramadhan SUKSES 2026 di Watansoppeng belum sepenuhnya padat. Di salah satu kios minuman, Arwansyah berdiri melayani pembeli. Usianya 24 tahun, mahasiswa semester akhir yang sedang menyelesaikan skripsi.
Ia berasal dari Tanrajeng, Kecamatan Marioriwawo, sekitar 25 kilometer dari pusat kota tempat pasar itu berlangsung. Perjalanan pulang pergi setiap hari bukan jarak yang ringan bagi pedagang pemula.
Namun ia memilih masuk ke ruang ekonomi musiman ini sebagai pengalaman pertama yang benar-benar ia seriusi. Usaha sebelumnya belum pernah ia kelola secara penuh seperti sekarang.
Jenis usaha yang dipilih tergolong sederhana, minuman ringan dan minuman panas. Segmentasinya jelas dan perputaran produknya relatif cepat selama Ramadhan. Ia membaca pola konsumsi masyarakat yang meningkat pada waktu berbuka dan setelah salat tarawih.
Pilihan produk tersebut bukan tanpa pertimbangan, melainkan hasil pengamatan terhadap kebutuhan pasar.
Keputusan terjun berusaha di tengah penyelesaian studi menunjukkan pergeseran orientasi. Ia tidak menunggu wisuda untuk memulai aktivitas ekonomi.
Pasar Ramadhan menjadi ruang praktik yang konkret untuk memahami perhitungan modal, arus kas harian, serta dinamika persaingan antarpedagang.
Usaha ini dirintis tanpa melibatkan orang tua. Keluarganya bahkan belum mengetahui keterlibatannya di pasar tersebut. Sikap itu mencerminkan dorongan kemandirian finansial yang mulai tumbuh di kalangan anak muda desa. Mereka tidak sepenuhnya bergantung pada dukungan keluarga ketika mencoba membangun usaha, sekalipun masih berada pada fase pendidikan formal.
Aspek lain yang menarik adalah model permodalannya. Modal usaha dibangun melalui skema berbagi dengan kekasihnya. Pengelolaannya dilakukan berdasarkan proporsi saham. Keuntungan maupun kerugian dihitung sesuai porsi modal masing-masing. Relasi personal dipisahkan dari mekanisme usaha.
Pola ini menunjukkan bentuk kolaborasi ekonomi yang semakin lazim di kalangan generasi muda. Modal tidak selalu berasal dari lembaga keuangan atau keluarga inti. Jaringan pertemanan dan kedekatan sosial menjadi sumber pembiayaan alternatif, namun tetap dikelola dengan prinsip perhitungan rasional.
Pasar Ramadhan dalam konteks ini bukan sekadar arena jual beli musiman. Ia berfungsi sebagai ruang uji bagi wirausaha pemula. Periode yang singkat memaksa pelaku usaha berpikir cepat, membaca permintaan, dan mengelola risiko dalam waktu terbatas.
Jika berhasil, modal bisa berputar. Jika gagal, kerugian menjadi pelajaran awal.
Arwansyah berada pada titik itu. Ia memahami peluang dan kemungkinan rugi secara bersamaan. Pilihan untuk tetap menjalankan usaha menunjukkan bahwa risiko dipandang sebagai bagian dari proses belajar ekonomi, bukan sebagai penghalang untuk memulai.
Jarak 25 kilometer dari Tanrajeng ke Watansoppeng menjadi simbol perpindahan peran. Dari mahasiswa yang terbiasa dengan teori, ia memasuki praktik ekonomi riil. Dari ketergantungan pada lingkungan keluarga, ia mencoba membangun keputusan finansial sendiri.
Fenomena ini memberi gambaran lebih luas tentang generasi muda desa yang mulai aktif mengambil bagian dalam ekonomi lokal. Momentum Ramadhan menjadi pintu masuk yang realistis bagi mereka untuk mencoba, menghitung, dan mengukur daya tahan usaha.
Di balik kios minuman yang tampak sederhana, tersimpan proses pembelajaran ekonomi yang tidak ditemukan di ruang kuliah. Di sana ada perhitungan, risiko, dan tanggung jawab yang dijalankan secara langsung.
0 Komentar