Sebagian masyarakat masih melihat jurnalis sebagai penjaga demokrasi. Ada pula yang menganggap bagian dari kebisingan informasi.
Di dalam ruang redaksi, perubahan terasa nyata. Kecepatan sering mengalahkan ketelitian. Judul lebih penting dari isi. Kedekatan kadang lebih berpengaruh dari jarak profesional.
Kode etik jarang runtuh karena satu peristiwa besar. Biasanya retak dari hal kecil.
Pilihan kata.
Sudut pandang.
Apa yang ditulis.
Apa yang sengaja tidak ditulis.
Publik mungkin tidak paham pasal kode etik. Tapi publik cepat merasakan ketidakjujuran.
Ada juga luka yang jarang dibicarakan terbuka. Pemberitaan yang dipakai sebagai tekanan. Relasi abu abu dengan kekuasaan. Transaksi kepentingan yang tidak pernah diakui.
Tidak semua jurnalis begitu.
Tapi publik tidak pernah menilai satu satu. Publik menilai profesi.
Hari ini, jurnalis bukan satu satunya sumber kebenaran.
Publik punya banyak pilihan.
Dan publik bebas pergi kapan saja.
HPN tahun ini terasa seperti pengingat sunyi. Bahwa reputasi profesi ini tidak pernah permanen.
Ia bisa naik pelan.
Bisa jatuh sangat cepat.
Dan publik selalu tahu.
Cepat atau lambat.
Tetap tegak, terus bergerak, dan Anti Baper. Salam kompeten
Jurnalisme Anti Baper
Saya lebih memilih bercermin dan merenung. HPN 2026 datang tanpa banyak tepuk tangan dari publik. Tidak ada lagi aura profesi yang otomatis dihormati. Kepercayaan itu masih ada. Tapi tipis.
0 Komentar