Breaking News

Jejak Pengabdian Andi Muhtar Yahya Petta Baso Cambang: Tegas dalam Tugas, Teguh pada Nilai

WAJO (29/3/2026). Kabar duka itu datang di pagi hari, Andi Muhtar Yahya yang dikenal luas dengan nama Petta Baso Cambang, telah berpulang, meninggalkan jejak panjang pengabdian yang tak sedikit.

Di ingatan banyak orang, ia adalah sosok yang disiplin, tegas dalam mengambil sikap, namun tetap menjaga wibawa sebagai pelayan masyarakat. Cara bicaranya lugas, keputusannya terukur, dan kehadirannya kerap menjadi penanda bahwa pemerintahan berjalan dengan arah yang jelas.

Perjalanan pengabdiannya dimulai dari akar paling dekat dengan masyarakat. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Desa Gilireng pada periode 1975 hingga 1980. Dari sana, ia menapaki jalur birokrasi sebagai CPNS sejak 1 Maret 1976, lalu dipercaya sebagai Kasubag Sosial pada tahun 1984.

Kariernya terus berkembang. Ia pernah mengemban amanah sebagai Camat Takkalalla pada 1985 hingga 1990, kemudian Camat Pitumpanua pada 1990 hingga 1994. Di masa-masa itu, namanya dikenal sebagai pemimpin wilayah yang tegas dalam menata administrasi dan dekat dengan masyarakatnya.

Pengabdian itu berlanjut di level yang lebih luas. Ia dipercaya sebagai Penjabat Pembantu Bupati Wilayah Timur pada 1992 hingga 1998, lalu menjadi Pembantu Bupati Wilayah Barat pada 1998 hingga 2001. Hingga akhirnya, ia menutup masa tugasnya sebagai Kepala Bapedalda pada periode 2001 hingga 2008.

Di luar jabatan formal pemerintahan, ia juga dikenal aktif dalam ruang-ruang kultural. Semasa hidupnya, Andi Muhtar Yahya dipercaya sebagai Ketua Majelis Agung Raja Sultan Nusantara (MARSI) Kabupaten Wajo, sebuah posisi yang mencerminkan kedekatannya dengan nilai adat, tradisi, dan kearifan lokal.

Di kalangan keluarga, ia bukan hanya seorang orang tua, tetapi juga penjaga nilai. Ia kerap mengingatkan tentang pentingnya jati diri, tentang bagaimana seseorang tetap berpijak pada nilai, meski zaman terus berubah.

Pesan itu kembali diingat saat prosesi pelepasan jenazah dalam upacara sipil. Salah satu pesan yang dibacakan oleh Budayawan Sudirman Sabang adalah ajakan untuk “Patettongngi Ade’e ri Madecengnge” (Menegakkan adat dalam kebaikan) yang bersumber dari nilai-nilai luhur Maddanreng ri Pangaderengnge, Pasanre’i ri Saraq’e, Pakkallai ri Wari’e, Patettongngi ri Bicara’e, Pangkalungengi ri Tongenge, Pakkaleccai ri Rafangnge

Pesan itu seperti ringkasan hidupnya yang berpegang teguh pada adat, bersandar pada syariat, jujur dalam berkata, dan adil dalam bertindak.

Atas pengabdiannya, ia juga menerima tanda kehormatan dari Presiden Republik Indonesia berupa Satya Lencana Karya Satya untuk masa bakti 10, 20, hingga 30 tahun.

Kini, sosok itu telah tiada. Ia meninggal dunia pada Ahad, 29 Maret 2026, pukul 06.16 di RSU Maddukkelleng Sengkang.
Namun bagi banyak orang, terutama yang pernah merasakan kepemimpinannya, nama Andi Muhtar Yahya mungkin tidak benar-benar pergi. 

Ia tinggal sebagai cerita tentang disiplin, ketegasan, dan dedikasi, sekaligus tentang nilai-nilai yang terus hidup, dijaga, dan diwariskan.
Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM