Breaking News

Ketika Alam Menjadi Penanda, Legenda Kepemimpinan dan Pertanian di Soppeng

Dalam cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun, keyakinan bahwa alam mencerminkan kualitas kepemimpinan hidup kuat dalam ingatan kolektif. Gagal panen, rusaknya tanaman, dan datangnya paceklik dipahami sebagai tanda bahwa keseimbangan terganggu. Situasi itu dibaca sebagai isyarat adanya persoalan dalam kepemimpinan dan dorongan untuk mencari pemimpin baru.

Keyakinan ini hadir dalam berbagai kisah lokal yang berkembang di tengah masyarakat, salah satunya berasal dari Soppeng. Cerita ini terus diingat sebagai bagian dari asal-usul kepemimpinan di wilayah tersebut.

Konon, 765 tahun lalu, di wilayah Soppeng, para pemimpin adat dan masyarakat berkumpul membahas kegagalan panen yang melanda. Dalam kegelisahan itu, mereka bermusyawarah sambil membuka diri terhadap tanda-tanda dari alam.

Di tengah pertemuan tersebut, sepasang kakatua putih melintas di atas mereka sambil membawa sesuatu di paruhnya. Peristiwa itu dipahami sebagai isyarat yang perlu diikuti. Burung-burung itu seakan memberi arah dan mendorong mereka meninggalkan keraguan.

Petunjuk itu diikuti hingga membawa mereka ke sebuah tempat di mana padi tumbuh subur, berbeda dari wilayah lain yang dilanda gagal panen. Di sana mereka menemukan La Temmamala, sosok yang hidup selaras dengan alam dan tetap mampu menjaga lahannya menghasilkan.

Peristiwa itu menjawab kegelisahan yang dirasakan bersama. La Temmamala kemudian diyakini sebagai To Manurung, pemimpin yang hadir untuk memulihkan keseimbangan. Ia kemudian diangkat sebagai Raja Soppeng.

Rangkaian kisah ini memperlihatkan hubungan yang saling terhubung. Gagal panen memicu pencarian, alam memberi petunjuk, dan pemimpin baru ditemukan sebagai jawaban. Semua bergerak dalam satu alur yang sama, yaitu keselarasan antara manusia, alam, dan kekuatan yang dipercaya menyertainya.

Di Kabupaten Soppeng saat ini, pertanian menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Bagi banyak keluarga, bertani merupakan cara hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Luas lahan pertanian di kabupaten ini mencapai ratusan ribu hektar, mencakup sawah dan lahan kering untuk berbagai komoditas seperti padi, jagung, dan kakao. Sekitar 29.256 hektar merupakan sawah dan sekitar 41.631 hektar lainnya adalah lahan perkebunan serta lahan kering. Komoditas tersebut menopang ekonomi lokal dan memberi ruang kerja bagi ribuan petani.

Perjalanan mencapai kondisi saat ini berlangsung melalui proses panjang. Sinergi antara petani, kondisi alam, dan kebijakan pemerintah daerah menjadi faktor penting. Di balik peningkatan produksi, terdapat kerja keras di lapangan dan perencanaan yang terus diperbaiki untuk menjaga keberlanjutan usaha tani.

Perkembangan sektor pertanian di Soppeng berjalan melalui kerja sama berbagai pihak. Petani menyesuaikan diri dengan perubahan musim, sementara pemerintah daerah menghadirkan program yang menjawab kebutuhan di lapangan. Dukungan tersebut terlihat dalam kebijakan yang dijalankan oleh Suwardi Haseng dan Selle KS Dalle.

Produksi padi meningkat signifikan

Produksi padi di Kabupaten Soppeng tahun 2025 menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Dibanding tahun 2024, produksi padi meningkat sebesar 24.616,46 ton GKG atau sekitar 9,93 persen. Angka ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap sektor pertanian mulai memberi hasil yang nyata.
Peningkatan tersebut didukung oleh ketersediaan prasarana, terutama yang berkaitan dengan pengairan. Jaringan irigasi yang lebih baik dan sumber air alternatif seperti sumur air tenaga listrik membantu menjaga ketersediaan air sepanjang musim tanam. Kondisi ini berpengaruh pada indeks pertanaman sehingga petani dapat menanam lebih dari satu kali dalam setahun. Program tersebut juga membantu petani menghadapi musim kemarau yang tidak menentu.
Sarana produksi seperti benih unggul, distribusi pupuk bersubsidi, dan pendampingan teknis memperkuat aktivitas di tingkat petani. Dukungan ini membuat petani lebih siap menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

Jagung dari lahan tidak terpakai menjadi sumber produksi

Produksi jagung tahun 2025 menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi dibanding tahun sebelumnya. Produksi naik sebesar 59.169,40 ton pipilan kering atau sekitar 32,50 persen.
Peningkatan ini terjadi seiring keputusan petani untuk memanfaatkan lahan yang sebelumnya belum digunakan. Tingginya minat masyarakat terhadap jagung mendorong perluasan area tanam.

Ketersediaan benih unggul dan pupuk bersubsidi yang merata sepanjang tahun memberi rasa aman bagi petani. Sebelumnya, kekhawatiran terhadap biaya produksi dan ketersediaan input sering menjadi hambatan dalam memperluas lahan.
Dengan kondisi yang lebih mendukung, jagung semakin dilihat sebagai peluang yang menjanjikan. Selain untuk konsumsi, jagung juga menjadi bahan utama industri pakan ternak sehingga permintaan tetap terjaga.

Kakao tetap tumbuh sebagai komoditas perkebunan

Kakao menjadi salah satu komoditas unggulan di Soppeng. Pemerintah daerah tetap memberi perhatian agar petani dapat menjaga produktivitas tanaman ini.
Produksi kakao tahun 2025 meningkat sebesar 100,17 ton biji kering atau sekitar 1,59 persen dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan ini dipengaruhi oleh harga pasar yang mendorong petani kembali fokus pada kakao.

Dukungan juga hadir melalui penyediaan bibit unggul dan pupuk bersubsidi dengan formula khusus. Hal ini membantu tanaman mendapatkan nutrisi yang sesuai sehingga produktivitas lahan tetap terjaga.
Tembakau kembali menunjukkan peningkatan

Tembakau pernah menjadi komoditas penting di Soppeng dan kembali menunjukkan perkembangan. Produksi tahun 2025 meningkat sebesar 42,15 ton daun kering atau sekitar 25,04 persen dibanding tahun sebelumnya.
Kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya minat petani serta harga pasar yang memberikan nilai ekonomi lebih baik. Dukungan pemerintah daerah melalui alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau ikut memperkuat usaha tani di sektor ini. Kondisi cuaca yang relatif mendukung juga membantu peningkatan produksi.

Keberhasilan pertanian di Soppeng terlihat dari perubahan yang dirasakan masyarakat. Pendapatan petani menjadi lebih stabil, kelompok tani semakin aktif, dan generasi muda mulai melihat pertanian sebagai pilihan masa depan.

Kepemimpinan Suwardi Haseng dan Selle KS Dalle memberi pengaruh pada perkembangan ini. Perencanaan yang terarah dan pendekatan yang sesuai kebutuhan lapangan membantu menghadirkan perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dengan perkembangan yang ada, sektor pertanian di Soppeng menunjukkan arah yang positif. Produksi meningkat, dukungan infrastruktur semakin merata, dan keterlibatan petani terus tumbuh.

Di tengah perkembangan produksi pertanian yang terus menunjukkan peningkatan di Soppeng, ingatan kolektif tentang kisah La Temmamala tetap menemukan relevansinya. Harmoni antara manusia dan alam yang dahulu dipercaya sebagai penentu lahirnya kepemimpinan, kini tercermin dalam upaya menjaga keberlanjutan sektor pertanian. 

Peningkatan produksi padi, jagung, kakao, hingga tembakau tidak hanya menunjukkan keberhasilan teknis, tetapi juga menggambarkan kesinambungan nilai yang telah lama hidup di tengah masyarakat, bahwa keseimbangan dengan alam dan kepemimpinan yang responsif tetap menjadi fondasi bagi kesejahteraan bersama.
Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM