SOPPENG — Peserta didik pendidikan kesetaraan dari PKBM Rumah Amma menunjukkan aksi nyata melawan stigma terhadap anak putus sekolah. Mereka turun ke jalan membagikan paket ta’jil kepada masyarakat di depan Taman Makam Pahlawan Salotungo, Minggu (15/3/2026) sore.
Kegiatan ini diikuti siswa Paket A, Paket B, dan Paket C bersama para tutor pendamping. Dengan mengenakan seragam putih, para siswa membagikan ratusan paket ta’jil kepada pengendara dan warga yang melintas menjelang waktu berbuka puasa.
Suasana berlangsung hangat dan penuh haru. Para siswa terlihat bergantian mengambil keranjang berisi kudapan berbuka dari bagasi mobil, lalu membagikannya kepada masyarakat dengan senyum tulus.
Salah seorang tutor pendamping mengatakan kegiatan tersebut sengaja dilakukan untuk menunjukkan bahwa anak-anak yang menempuh pendidikan kesetaraan tetap memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
“Sebagian dari mereka pernah putus sekolah karena berbagai kendala, terutama ekonomi dan lingkungan. Tapi di sini mereka belajar bahwa masa depan tidak berhenti hanya karena tidak lagi berada di sekolah formal,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan berbagi ta’jil juga menjadi cara para siswa menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka mampu berkontribusi dan memberi manfaat.
“Anak-anak ini sering dipandang sebelah mata karena statusnya. Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa mereka punya hati yang baik dan semangat untuk berubah,” tambahnya.
Lokasi kegiatan yang dipilih di depan Taman Makam Pahlawan Salotungo juga memiliki makna simbolik. Para peserta didik diajak meneladani semangat para pahlawan dengan melakukan hal-hal baik bagi sesama.
Salah seorang peserta didik Paket C mengaku senang bisa terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia mengatakan PKBM Rumah Amma memberinya kesempatan untuk kembali percaya diri setelah sempat kehilangan harapan.
“Dulu saya merasa masa depan saya sudah tidak ada karena berhenti sekolah. Tapi di sini saya diajarkan untuk tetap belajar dan berbagi dengan orang lain,” ungkapnya.
Sejumlah pengendara yang menerima ta’jil terlihat memberikan apresiasi kepada para siswa. Beberapa di antaranya bahkan menyempatkan berhenti sejenak untuk mengucapkan terima kasih.
Kegiatan berbagi ta’jil ini kemudian ditutup dengan doa bersama menjelang azan magrib. Aksi sederhana tersebut menjadi pesan kuat bahwa pendidikan kesetaraan tidak hanya membangun pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial.
Di bulan Ramadan, para siswa PKBM Rumah Amma membuktikan bahwa putus sekolah bukan berarti putus harapan. Justru dari keterbatasan, mereka belajar menjadi pribadi yang lebih kuat dan bermanfaat bagi masyarakat.
1 Komentar
Masyaallah
BalasHapus