Kegiatan ini dihadiri pengawas pendamping, kepala sekolah SD Gugus 23 dan Gugus 24 Marioriwawo, ketua komite yang diwakili sekretaris, serta ketua komunitas.
Pada kegiatan tersebut, guru dan tenaga kependidikan terlihat mengenakan wastra corak “Lejja Ri Wanua Soppeng”.
Kepala SMPN 3 Marioriwawo, Kamaruddin, S.Pd., M.Pd., mengatakan penggunaan corak tersebut menjadi bagian dari pengenalan identitas daerah di lingkungan sekolah.
“Motifnya bagus dan punya ciri khas. Ada unsur Soppeng di dalamnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemilihan corak Lejja juga karena tampilannya yang mudah diterima.
“Warna dan susunannya enak dilihat. Dipakai di acara resmi juga tetap cocok,” kata Kamaruddin.
Menurutnya, kehadiran corak lokal seperti ini memberi ruang bagi sekolah untuk ikut memperkenalkan budaya daerah secara langsung.
“Anak-anak bisa melihat dari yang dekat dulu. Dari situ mereka tahu bentuk dan maknanya,” ujarnya.
Corak Lejja merupakan hasil kolaborasi PT Lamataesso Mattappa, Cantika Sabbena dan IKALONG. Motif ini memuat elemen khas Lejja, seperti beringin ara, lanskap geothermal, sumber air alami, serta simbol kalong. Aksara Lontara juga disisipkan dalam desainnya.
Corak tersebut baru diluncurkan oleh Perseroda PT Lamataesso Mattappa beberapa hari lalu dan mulai digunakan dalam sejumlah kegiatan di masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah.
0 Komentar