Breaking News

PEDANG KSATRIA, Cara Puskesmas Ganra Memburu "Musuh Tak Kasat Mata" Demi Menyelamatkan Anak dari TBC


SOPPENG. Tuberkulosis (TBC) selama ini identik dengan penyakit orang dewasa. Padahal, anak-anak juga dapat terinfeksi, bahkan sering kali luput dari perhatian karena gejalanya tidak khas. Kondisi inilah yang membuat TBC anak kerap disebut sebagai hidden epidemic—kasusnya ada, tetapi sulit ditemukan.

Berangkat dari persoalan tersebut, UPTD Puskesmas Ganra, Kabupaten Soppeng, menghadirkan sebuah inovasi yang mengubah cara menemukan kasus TBC pada anak. Alih-alih menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, petugas justru mendatangi tempat-tempat di mana anak-anak berkumpul.

Inovasi itu diberi nama PEDANG KSATRIA, singkatan dari Pengambilan Dahak Keliling di Sekolah dan Posyandu untuk Menemukan TBC Anak di Wilayah Puskesmas Ganra.

Dilaksanakan sejak 2024, inovasi ini menjadi bagian dari upaya mendukung target eliminasi TBC Indonesia pada 2030 melalui pendekatan yang lebih aktif, cepat, dan dekat dengan masyarakat.

Sebelum inovasi ini berjalan, tantangan terbesar bukan hanya mengobati TBC anak, melainkan menemukannya.

Diagnosis TBC pada anak jauh lebih sulit dibandingkan orang dewasa. Gejalanya sering menyerupai penyakit lain, sementara anak-anak umumnya sulit mengeluarkan dahak sebagai bahan pemeriksaan. Di sisi lain, sistem pelayanan kesehatan selama ini lebih banyak menunggu pasien datang berobat. Akibatnya, banyak kasus tidak terdeteksi sejak dini.

Berbagai faktor lain turut menjadi kendala, mulai dari keterbatasan sumber daya, rendahnya kesadaran masyarakat, hingga masih adanya stigma di tingkat keluarga.

Kondisi tersebut tercermin dari data sebelum inovasi dilaksanakan. Di wilayah kerja Puskesmas Ganra, jumlah kasus TBC anak yang ditemukan tercatat nol. Namun angka nol itu bukan berarti tidak ada penderita, melainkan lebih menggambarkan belum optimalnya proses penemuan kasus.

Dari sinilah lahir gagasan untuk mengubah strategi.

Puskesmas Ganra memilih sekolah dan posyandu sebagai titik utama pelaksanaan inovasi. Alasannya sederhana namun sangat efektif. Sebagian besar anak usia di bawah 15 tahun berkumpul di dua tempat tersebut sehingga proses skrining dapat dilakukan secara aktif, masif, dan lebih efisien.

Petugas kesehatan tidak lagi menunggu anak datang ke puskesmas, tetapi hadir langsung di tengah aktivitas mereka.

Pelaksanaan PEDANG KSATRIA melibatkan berbagai unsur, mulai dari petugas puskesmas, kader Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), guru, hingga dukungan lintas sektor lainnya.

Kunjungan ke seluruh sekolah di wilayah kerja Puskesmas Ganra dilakukan sedikitnya satu kali setiap tahun, sementara pemantauan melalui posyandu dilaksanakan setiap bulan.

Alur kerjanya pun disusun sederhana namun sistematis. Anak-anak terlebih dahulu menjalani skrining untuk mengenali adanya gejala yang mengarah pada TBC. Bila ditemukan indikasi, pemeriksaan dilanjutkan melalui tes Mantoux maupun pengambilan sampel dahak. Setelah diagnosis ditegakkan, pasien segera mendapatkan pengobatan sesuai standar. Dalam kondisi tertentu, petugas juga melakukan kunjungan rumah agar proses pemeriksaan maupun pendampingan pengobatan dapat berjalan lebih optimal.

Pendekatan ini mempercepat proses diagnosis sehingga anak yang terinfeksi tidak perlu menunggu hingga penyakit berkembang menjadi lebih berat.

Sejak dilaksanakan pada 2024 hingga saat ini, sekitar 1.628 anak telah mengikuti skrining TBC melalui inovasi PEDANG KSATRIA.

Selain itu, 25 balita dengan kriteria gizi kurang telah menjalani pemeriksaan Mantoux sebagai bagian dari upaya deteksi dini.

Hasilnya mulai terlihat. Tiga kasus TBC anak berhasil ditemukan dan langsung mendapatkan penanganan. Dibandingkan kondisi sebelumnya yang tidak menemukan satu pun kasus, capaian tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan sistem dalam mendeteksi penderita.

Lebih dari sekadar bertambahnya angka penemuan kasus, inovasi ini juga menghasilkan dampak yang jauh lebih penting, yaitu mempercepat diagnosis atau zero delay. Anak yang teridentifikasi dapat segera diobati sehingga risiko penularan maupun komplikasi dapat ditekan sejak dini.

Inilah perbedaan mendasar antara PEDANG KSATRIA dengan pendekatan pelayanan TBC konvensional.

Program TBC pada umumnya masih mengandalkan passive case finding, yaitu menunggu masyarakat datang berobat ketika sudah mengalami keluhan. Konsekuensinya, beban penemuan kasus sebagian besar berada di tangan petugas program TBC di fasilitas kesehatan.

Sebaliknya, PEDANG KSATRIA menerapkan prinsip active case finding. Petugas secara aktif mencari kasus dengan mendatangi sekolah, posyandu, bahkan rumah warga bila diperlukan. Strategi ini membuat peluang menemukan kasus menjadi jauh lebih besar sekaligus mempercepat penanganan.

Nama PEDANG KSATRIA sendiri bukan hanya akronim.

"PEDANG" melambangkan ketajaman dan kecepatan dalam mendeteksi penyakit, sedangkan "KSATRIA" menggambarkan keberanian petugas kesehatan, kader, guru, serta seluruh unsur lintas sektor yang turun langsung ke lapangan untuk melindungi anak-anak dari ancaman TBC.

Filosofi tersebut lahir dari keyakinan bahwa TBC anak adalah musuh yang tidak terlihat. Karena itu, musuh tersebut tidak bisa hanya ditunggu datang, tetapi harus dicari secara aktif.

Semangat itu juga sejalan dengan nilai siri' na pacce yang hidup di tengah masyarakat Bugis, yakni kepedulian, keberanian, dan tanggung jawab bersama dalam melindungi sesama.

Melalui inovasi PEDANG KSATRIA, Puskesmas Ganra menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak selalu harus dimulai dari ruang pemeriksaan. Terkadang, langkah paling efektif justru dimulai dengan mendatangi masyarakat, menemukan mereka lebih awal, lalu memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat tanpa ancaman TBC.

Di tengah target eliminasi TBC nasional pada 2030, inovasi sederhana berbasis pelayanan aktif seperti ini menjadi bukti bahwa perubahan besar sering kali lahir dari keberanian mengubah cara kerja di tingkat pelayanan kesehatan paling dekat dengan masyarakat.

Melalui inovasi PEDANG KSATRIA, Puskesmas Ganra menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak selalu harus dimulai dari ruang pemeriksaan. Terkadang, langkah paling efektif justru dimulai dengan mendatangi masyarakat, menemukan mereka lebih awal, lalu memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat tanpa ancaman TBC.

Di tengah target eliminasi TBC nasional pada 2030, inovasi sederhana berbasis pelayanan aktif seperti ini menjadi bukti bahwa perubahan besar sering kali lahir dari keberanian mengubah cara kerja di tingkat pelayanan kesehatan paling dekat dengan masyarakat.

Inovasi PEDANG KSATRIA berada di bawah penanggung jawab Sartinawati, A.Md.Kep., yang bersama tim UPTD Puskesmas Ganra mengoordinasikan pelaksanaan skrining aktif TBC anak melalui sekolah, Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), hingga kunjungan rumah. 

Kolaborasi dengan kader kesehatan, guru, dan berbagai unsur lintas sektor menjadi kunci keberhasilan inovasi ini dalam memperluas cakupan skrining sekaligus mempercepat penemuan kasus TBC pada anak di wilayah kerja Puskesmas Ganra.
Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM