Breaking News

Perseroda Lamataesso dan UNHAS Lakukan FGD Penguatan Model Bisnis SIHT Soppeng

SOPPENG — Focus Group Discussion (FGD) implementasi S-TIE (Soppeng Tobacco Integrated Ecosystem) digelar sebagai langkah strategis memperkuat model bisnis dan meningkatkan daya saing Sentra Industri Hasil Tembakau (SIHT) Soppeng, Rabu (3/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di ruang rapat Kantor PT Lamataesso Mattappa, Watansoppeng, ini melibatkan tim peneliti Universitas Hasanuddin, manajemen Perseroda PT Lamataesso Mattappa selaku pengelola SIHT, direksi kawasan, tim teknis, serta pelaku usaha rokok.

Tim peneliti Universitas Hasanuddin terdiri dari Prof. Dr. Indrianty Sudirman, SE., M.Si, Dr. Romi Setiawan, SE., MSM, Farhanah Ramdhani Sumardi, SE., MM, Muhammad Darwis, S.Pt., M.Si, Muhammad Faizal Ramli, S.Tp, M. Iqbal, SE, dan Ananda Lukman.

FGD difokuskan pada empat isu utama, yakni profil kawasan dan tekno-ekonomi, profil tenant, produksi dan analisis pasar, rantai pasok serta standarisasi mutu, serta dokumentasi dan arsitektur data digital.
Anggota tim peneliti, Dr. Romi Setiawan, mengatakan FGD ini bertujuan menggali kondisi riil di lapangan sebagai dasar penyusunan sistem yang tepat sasaran.

“FGD ini kami laksanakan untuk mendapatkan gambaran kondisi riil secara langsung dari pelaku usaha dan pengelola kawasan. Data dan informasi yang diperoleh akan menjadi dasar dalam merancang implementasi S-TIE yang sesuai kebutuhan SIHT Soppeng,” ujarnya.

Ia menegaskan, pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada kebutuhan pengguna di kawasan industri.

“Keberhasilan sebuah sistem tidak ditentukan oleh teknologinya, tetapi sejauh mana sistem tersebut mampu menjawab kebutuhan penggunanya. Karena itu, masukan pelaku usaha menjadi kunci dalam proses ini,” tambahnya.

Sementara itu, Plt Direktur Utama Perseroda PT Lamataesso Mattappa, Musdar Asman, menilai FGD ini menjadi langkah awal penting dalam mendorong transformasi industri hasil tembakau di Soppeng.

“FGD ini sangat strategis karena menjadi titik awal membangun sistem terintegrasi, mulai dari model bisnis, rantai pasok hingga digitalisasi data. Hasilnya diharapkan memperkuat daya saing SIHT Soppeng secara berkelanjutan,” katanya.

Menurutnya, kolaborasi antara akademisi, pengelola kawasan, dan pelaku usaha menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem industri yang efisien, kompetitif, dan berkelanjutan.

Melalui FGD ini, para peserta diharapkan mampu mengidentifikasi peluang perbaikan, mulai dari penguatan model bisnis kawasan, integrasi pasar, hingga pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong SIHT Soppeng berkembang sebagai kawasan industri hasil tembakau yang modern, terintegrasi, dan memiliki daya saing di tingkat regional maupun nasional.
Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM