Oleh: Rahmat Hidayat, S.Pd.I., M.Pd.
SMKN 2 Soppeng
Pendahuluan
"Bagaimana mungkin saya mengajar Bahasa Inggris, sedangkan saya sendiri adalah guru kelas yang tidak memiliki latar belakang Bahasa asing?"
Keluhan bernada cemas ini kerap kali terdengar dan menjadi gaung penolakan halus yang wajar ketika Bahasa Inggris kembali dicanangkan menjadi bagian penting dalam kurikulum sekolah dasar. Konteks kecemasan ini bukanlah tanpa alasan. Pemerintah telah mencanangkan rencana besar untuk menjadikan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di jenjang Sekolah Dasar (SD) pada tahun 2027 mendatang.
Kebijakan akseleratif ini tentu menuntut kesiapan mental dari garda terdepan pendidikan. Bagi sebagian besar guru kelas di jenjang SD, berdiri di depan murid untuk melafalkan kosakata asing terasa seperti melangkah ke medan laga tanpa senjata. Ada ketakutan akan salah pelafalan (pronunciation), kecemasan terhadap aturan tata Bahasa (grammar), hingga sindrom ketidakpercayaan diri yang akut.
Namun, roda transformasi Pendidikan tidak bisa menunggu rasa ragu itu hilang dengan sendirinya. Menyambut regulasi tahun 2027 tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan bergerak taktis dengan menyelenggarakan Program Pengembangan Kompetensi Guru SD dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI).
Di bawah langit Kabupaten Soppeng, sebuah amanah besar diletakkan di pundak saya. Meskipun sehari-hari saya mengabdikan diri sebagai guru Bahasa Inggris di jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), saya dipercaya untuk menjadi fasilitator bagi 32 guru SD yang berasal dari berbagai sekolah yang berbeda di wilayah ini.
Ke-32 peserta yang tangguh ini dipilih langsung oleh kepala sekolah mereka masing-masing dengan satu syarat mutlak yang seragam: mereka adalah guru kelas yang sama sekali tidak memiliki latar belakang Pendidikan Bahasa Inggris.
Tugas saya tentu bukan sekadar mentransfer teori linguistik atau mengajarkan tenses yang rumit. Lebih dari itu, tantangan terbesar sebagai seorang fasilitator lintas jenjang adalah bagaimana meruntuhkan tembok kecemasan di kepala 32 guru hebat ini, lalu menyalakan lentera kepercayaan diri agar mereka siap mengubah ruang kelas mereka menjadi ekosistem belajar yang menyenangkan.
Sebab, sebagai guru SMK, saya sangat menyadari bahwa kompetensi bahasa dan kesiapan kerja siswa di masa depan sangat ditentukan oleh seberapa kokoh fondasi literasi bahasa asing yang diletakkan sejak dini dari ruang kelas sekolah dasar.
Meruntuhkan Tembok Kecemasan Melalui Pendekatan Humanis
Pertemuan awal dengan 32 guru SD dari berbagai sekolah di Kabupaten Soppeng ini memperlihatkan ketegangan yang cukup jelas. Mayoritas dari mereka adalah guru kelas yang selama bertahun-tahun terbiasa mengajar mata pelajaran umum, bukan Bahasa asing.
Menghadapi situasi ini, langkah pertama yang saya lakukan sebagai fasilitator bukanlah langsung menuntut mereka menghafal struktur kalimat. Fokus utama saya adalah melakukan ice breaking psikologis; memvalidasi ketakutan mereka dan mengubah atmosfer pelatihan menjadi ruang aman tanpa penghakiman (safe place).
Salah satu momen yang paling membekas dalam ingatan saya adalah ketika seorang peserta dengan guratan usia yang sudah sepuh menegur saya di awal program. Dengan suara bergetar dan wajah penuh beban, beliau menyatakan niatnya untuk mengundurkan diri dari pelatihan ini.
"Nda bisa ma saya ndi’, tua ma, nda bisa ma menghafal, mau ma juga pensiun, kasikan mi yang muda-muda," ungkapnya jujur.
Mendengar hal tersebut, ego saya sebagai pengajar seketika runtuh dan berganti menjadi empati yang mendalam.
Beruntung, kegelisahan ini juga mendapat perhatian emosional dari pemangku kebijakan daerah. Kepala Bidang (Kabid) GTK Dinas Pendidikan Kabupaten Soppeng yang hadir memantau jalannya program turut memberikan penguatan personal. Beliau memberikan masukan yang menyentuh hati kepada guru tersebut agar tetap bertahan dan tidak menyerah mengikuti program ini, karena keberadaannya sangat berharga bagi sekolah.
Didorong oleh dukungan tersebut, saya mencoba memahamkan kembali ke esensi dari program ini dari hati ke hati. Saya merangkul beliau dan menegaskan sebuah prinsip penting:
"English in elementary school is not about structural perfection, it is about creating connection and affection."
Pengajaran Bahasa Inggris di tingkat SD tidak menuntut guru menjadi seorang ahli linguistik, melainkan menjadi fasilitator yang mampu menumbuhkan rasa suka anak-anak terhadap bahasa baru lewat ketulusan mengajar.
Saya katakan bahwa kehadiran beliau justru akan menjadi inspirasi luar biasa bagi murid-muridnya bahwa belajar tidak pernah mengenal Batasan usia.
Berkat pendekatan personal, masukan dari Kabid GTK, dan pemahaman ulang tersebut, beliau mengurungkan niatnya dan memilih bertahan.
Kejutan emosional kembali terjadi saat kegiatan tatap muka (face-to-face). Guru sepuh yang tadinya bersikeras ingin mengundurkan diri itu tiba-tiba melangkah menghampiri saya.
Dengan binar mata yang jauh berbeda dari hari pertama, beliau menjabat tangan saya erat-erat dan mengucapkan terima kasih karena telah "dipaksa" bertahan mengikuti program ini.
Bagi seorang fasilitator, momen seperti ini adalah pencapaian spiritual tertinggi.
Ketika beban keharusan untuk "selalu benar dan sempurna" itu diangkat dari pundak mereka, ketegangan di dalam ruangan pelatihan perlahan mencair, digantikan oleh binar semangat yang membara.
Merajut Kompetensi Lewat Alur "In-On-In" pada Level A1
Transformasi mindset ini kemudian dikonstruksi secara apik melalui struktur pelatihan yang sistematis dengan pola In-On-In.
Sebagai fasilitator, saya mendampingi ke-32 guru ini melintasi setiap fasenya untuk memastikan materi pengajaran Bahasa Inggris standar Level A1 yang berfokus pada kecakapan komunikasi dasar dan kontekstual benar-benar teraplikasikan di ruang kelas.
Saat ini, program PKGSD-MBI di Kabupaten Soppeng masih terus berjalan dan kami baru saja memasuki tahapan krusial berikutnya.
Perjalanan panjang dan intensif ini diawali dari fase In-Service Training 1 yang dilaksanakan mulai tanggal 9 Maret 2026 hingga 17 Mei 2026.
Selama kurang lebih dua bulan penuh, para peserta secara mandiri mengeksplorasi modul digital melalui Learning Management System (LMS).
Kemandirian ini kemudian diperkuat melalui ruang diskusi virtual menggunakan Google Meet yang terjadwal secara konsisten setiap 7 hari sekali.
Pertemuan mingguan secara daring ini menjadi ruang penting bagi saya untuk mengurai benang kusut pemahaman teori mereka, meluruskan miskonsepsi, dan menjaga ritme belajar agar tetap stabil di tengah kesibukan mereka mengajar di sekolah masing-masing.
Pada fase In 1 ini, fokus pengajaran ditekankan pada penguasaan topik-topik personal dan lingkungan terdekat yang sangat dekat dengan dunia anak-anak.
Materi-materi esensial tersebut meliputi keterampilan memperkenalkan diri sendiri (describing myself), mengenali keluarga inti yang Bahagia (introducing my happy family), menceritakan aktivitas keseharian keluarga (describing my family’s activities), hingga mengenali lingkungan sekolah melalui pembahasan fasilitas sekolah (talking about my school facilities), benda-benda di dalam kelas (talking about things in the classroom), serta orang-orang di lingkungan sekolah (talking about people in my school).
Tidak hanya itu, para guru juga dibekali materi untuk mengajarkan rutinitas pagi hari (describing my morning routine), menyatakan makanan favorit (telling my favorite meals), bermain dengan mainan (playing with my toys), hingga kemampuan menceritakan dan membagikan pengalaman hari-hari di sekolah yang indah (experiencing and sharing my wonderful school days serta sharing my school days).
Puncak dari fase In 1 ini ditutup dengan pertemuan luring tatap muka (face-to-face).
Di ruang luring inilah suasana menjadi sangat hidup melalui penguatan materi secara mendalam dan sesi peer teaching (praktik mengajar sesama rekan guru).
Pada momen inilah, saya menanamkan dan mengajarkan dengan kuat makna dari kolaborasi dalam menyelesaikan segala permasalahan.
Saya tekankan bahwa tidak ada kompetisi di ruang ini; semua kendala baik yang mereka temukan di LMS maupun kesulitan teknis di lapangan harus dipecahkan bersama-sama melalui semangat gotong royong.
Nilai kolaborasi ini berbuah manis: tidak ada satu pun peserta yang tertinggal. Mereka semua saling menggendong dan mampu menyelesaikan seluruh tuntutan materi serta tugas-tugas yang ada di LMS dengan tuntas.
Di sinilah tempat aman bagi mereka untuk mencoba, membuat kesalahan pelafalan, tertawa bersama, dan saling menguatkan.
Setelah modal percaya diri dan perangkat ajar matang, para guru memasuki fase On-the-Job-Training (OJT).
Mereka kembali ke sekolah masing-masing di berbagai penjuru Kabupaten Soppeng untuk mempraktikkan langsung seluruh ilmu yang telah diperoleh di hadapan peserta didik mereka.
Fase OJT ini tidak berjalan secara sunyi dalam ruang kelas masing-masing, melainkan juga dirancang secara kolaboratif hingga mencapai puncaknya pada sebuah agenda besar yang dilaksanakan selama dua hari penuh.
Pada momen puncak OJT ini, atmosfer pembelajaran berubah menjadi panggung diseminasi yang luar biasa.
Dipilihlah dua peserta untuk menjadi tuan rumah (host) di sekolahnya untuk pelaksanaan praktik pengajaran, di mana peserta (guru) lain bertindak menjadi observer.
Mengajar di hadapan peserta didik sendiri tentu sudah biasa, namun mengajar bahasa asing standar Level A1 dengan dihadiri oleh rekan sejawat, perwakilan dinas setempat, dan dipantau langsung oleh Kepala BBGTK Sulawesi Selatan di tengah-tengah ruang kelas ini memberikan suntikan moral sekaligus pengakuan sosiologis yang luar biasa bagi ke-32 guru kelas ini.
Hal ini menegaskan bahwa keberanian mereka melompat keluar dari zona nyaman adalah bagian dari Gerakan nasional yang sedang diuji sahih penjamin mutunya.
Selama dua hari pelaksanaan, proses On the Job Training ini berlangsung sangat dinamis.
Para guru yang bertindak sebagai observer dengan cermat mencatat bagaimana instruksi classroom language diterapkan, bagaimana media visual digunakan, dan bagaimana strategi mengatasi kebuntuan komunikasi anak didik di lapangan.
Di sisi lain, antusiasme peserta didik sekolah dasar yang menjadi objek pembelajaran menjadi pemandangan yang mengharukan.
Anak-anak tampak begitu ceria dan aktif merespon setiap gim serta lagu berbahasa Inggris yang dibawakan oleh guru kelas mereka sendiri.
Fase OJT ini menjadi pembuktian magis: guru kelas yang awalnya ragu, kini mampu berdiri tegak membawa keceriaan instruksi Bahasa Inggris ke ruang kelas yang nyata.
Kini, siklus pendampingan ini sedang disempurnakan dan dituntaskan dalam fase In-Service Training 2 yang tengah berjalan hingga tanggal 21 Agustus 2026.
Pada fase ini, alur belajar kembali bergerak dinamis dengan pendampingan daring berkala.
Para peserta tidak hanya mengevaluasi hasil OJT mereka, tetapi juga kembali menerima, mendalami, dan menuntaskan sisa topik-topik pembelajaran Level A1 yang tidak kalah aplikatif untuk diimplementasikan di kelas mereka.
Rangkaian materi pada fase In 2 ini mencakup materi yang sangat kontekstual dengan kehidupan sehari-hari anak, seperti simulasi berbelanja (let’s go shopping!), memasak (let’s cook!), bepergian (let’s go!), memeriksa harga barang (checking the price), membaca di perpustakaan (reading at the library), hingga seni mendongeng (telling a story).
Lebih jauh lagi, mereka juga menuntaskan topik ekspresi kesukaan terhadap sayuran (expressing vegetable preferences), menjaga kebersihan diri (keeping yourself clean), menceritakan pengalaman wawancara (telling an interview experience), menjelaskan cara bermain (telling how to play games), berbicara mengenai aktivitas harian (talking about our activities), serta ditutup dengan materi proses menceritakan langkah-langkah dan berbagi pengalaman (telling processes and sharing experiences).
Seluruh rangkaian program ini nantinya akan ditutup secara formal dengan pelaksanaan asesmen akhir pada tanggal 6 September 2026.
Melalui penuntasan materi dan asesmen ini, kompetensi pedagogis ke-32 guru kelas ini dikunci secara utuh dan komprehensif sebagai bekal mereka dalam mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris di masa depan.
Penutup
Keberhasilan implementasi Bahasa Inggris di jenjang Sekolah Dasar tidak melulu ditentukan oleh kualifikasi akademis yang linier, melainkan oleh besarnya volume kemauan untuk bertransformasi dan melenting melampaui zona nyaman.
Pengalaman memfasilitasi 32 guru kelas di Kabupaten Soppeng dalam program PKGSD-MBI Level A1 ini menjadi bukti nyata bahwa kecemasan bisa diubah menjadi kekuatan, dan keraguan bisa dikikis oleh kolaborasi yang suportif.
Ketika para guru kelas ini melangkah kembali ke sekolah mereka dengan senyum dan rasa percaya diri yang baru, sejatinya satu bata pembangun masa depan Pendidikan telah diletakkan.
Dari ruang-ruang kelas sekolah dasar di Bumi Latemmamala inilah, sebuah langkah kecil namun progresif sedang diayunkan, melatih generasi masa depan sejak dini agar kelak siap mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, makmur, dan berdaya saing global.
0 Komentar