Oleh: Rima Aprilyani
PKBM Rumah Amma, Kabupaten Soppeng
PENDAHULUAN
"Dari Ruang Kelas Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur." Tema Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia mengajak kita merenungkan makna keadilan dalam pendidikan. Pertanyaannya, sudahkah setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang setara?
Kenyataannya, masih banyak anak yang terpinggirkan, bukan karena tidak ingin belajar, melainkan karena lingkungan pendidikan belum sepenuhnya mampu menerima keunikan dan keterbatasan mereka.
Bagi saya, pertanyaan itu bukan sekadar refleksi akademik, tetapi pengalaman hidup. Pada 2023, anak saya yang mengalami speech delay berulang kali menjadi korban bullying saat bersekolah di jenjang SD. Pengalaman tersebut mengikis rasa percaya dirinya. Ketika tiba saat melanjutkan ke SMP, kami dihantui kekhawatiran bahwa pengalaman serupa akan kembali terulang.
Kami sempat mencari layanan homeschooling agar ia dapat belajar di lingkungan yang lebih aman. Namun, pilihan itu hanya tersedia di kota besar seperti Makassar sehingga sulit dijangkau. Keterbatasan akses tersebut menyadarkan kami bahwa masih banyak keluarga di daerah yang tidak memiliki alternatif pendidikan yang ramah bagi anak dengan kebutuhan dan kondisi yang beragam.
Dari kegelisahan itu lahirlah sebuah tekad. Jika ruang belajar yang inklusif belum tersedia, maka kami harus menciptakannya sendiri. Melalui jalur pendidikan nonformal, kami mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Rumah Amma dengan sebuah keyakinan sederhana: setiap orang berhak belajar tanpa rasa takut. Keyakinan itu kemudian kami wujudkan dalam slogan "Belajar tanpa Batas."
Dari Teras Rumah Menembus Batas Geografis dan Sosial
PKBM Rumah Amma berdiri pada 2023 di sebuah rumah sederhana di Kabupaten Soppeng. Kami memulai semuanya dari teras rumah berukuran sekitar 4 × 8 meter. Tanpa ruang kelas yang megah, teras itu berubah menjadi ruang belajar yang hangat bagi anak-anak yang selama ini merasa tidak memiliki tempat. Di sana mereka belajar tanpa takut dihakimi, dikucilkan, ataupun dirundung.
Sejak awal, kami memaknai pendidikan inklusif lebih luas daripada sekadar melayani penyandang disabilitas. PKBM Rumah Amma membuka pintu bagi siapa saja yang kesulitan mengakses pendidikan, baik karena kondisi pribadi, ekonomi, pekerjaan, maupun tempat tinggal. Sedikit demi sedikit, teras rumah kami dipenuhi warga belajar dengan beragam latar belakang dan kisah perjuangan.
Kepercayaan masyarakat terus tumbuh. Peserta didik tidak hanya berasal dari Kabupaten Soppeng, tetapi juga dari Makassar dan daerah lain. Bahkan, beberapa di antaranya merupakan pekerja migran Indonesia di Malaysia yang tetap ingin menyelesaikan pendidikan meskipun berada jauh dari tanah air.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, kami menerapkan pembelajaran yang fleksibel melalui perpaduan moda daring dan luring. Warga belajar dapat belajar secara mandiri menggunakan modul, mengikuti tutorial kelompok, maupun menghadiri pertemuan tatap muka sesuai kondisi masing-masing. Dengan pendekatan ini, keterbatasan jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang untuk memperoleh pendidikan.
Dari Teras Rumah Menumbuhkan Kepercayaan
Fleksibilitas pembelajaran juga melahirkan banyak kisah yang menguatkan semangat kami. Setiap pelaksanaan ujian kesetaraan, beberapa peserta didik harus menempuh perjalanan jauh, bahkan pulang dari perantauan demi mengikuti ujian. Keterbatasan biaya membuat sebagian dari mereka menginap di PKBM Rumah Amma.
Dengan ruang yang terbatas, kami mengatur tempat beristirahat secara sederhana. Peserta laki-laki tidur di teras, sedangkan peserta perempuan menempati ruang tengah dan kamar rumah. Meski berdesakan, suasana itu menghadirkan kehangatan yang sulit digambarkan. Mereka saling mengenal, berbagi pengalaman, dan membangun rasa kekeluargaan yang selama ini tidak mereka rasakan karena lebih sering belajar secara daring.
Dari teras rumah sederhana itu, kepercayaan masyarakat terus tumbuh. Hingga 2026, PKBM Rumah Amma telah meluluskan 82 peserta didik Program Paket C, 45 peserta didik Paket B, dan 9 peserta didik Paket A. Saat ini sekitar 200 warga belajar aktif menempuh pendidikan di lembaga kami. Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap pendidikan alternatif yang inklusif, fleksibel, dan humanis masih sangat besar, terutama di daerah.
Menjemput Potensi, Mewadahi Bakat Warga Belajar
Di PKBM Rumah Amma, kami meyakini bahwa tidak ada anak yang gagal. Setiap warga belajar memiliki potensi yang mungkin belum pernah menemukan ruang untuk berkembang. Tugas kami bukan sekadar mengajar, tetapi membantu mereka menemukan kepercayaan diri dan mengubah potensi itu menjadi prestasi.
Berangkat dari keyakinan tersebut, kami berupaya menyediakan sarana belajar secara mandiri sesuai kemampuan lembaga. Sedikit demi sedikit kami melengkapi fasilitas berupa laptop dan komputer untuk pembelajaran digital, kamera DSLR untuk kelas kreatif, serta mesin las sebagai media pelatihan vokasi. Bagi kami, fasilitas tersebut bukan sekadar alat, melainkan jembatan bagi warga belajar untuk menemukan masa depan mereka.
Salah satu kisah yang paling membekas adalah seorang peserta didik perempuan yang memiliki bakat luar biasa dalam seni tari tradisional. Kemampuannya berkembang setelah diberi kesempatan tampil dan dipercaya melatih teman-temannya. Hasilnya, kelompok tari binaannya tampil memukau pada saat visitasi akreditasi PKBM Rumah Amma dan menjadi salah satu wajah kebanggaan lembaga.
Potensi lain muncul dari seorang peserta didik Paket C yang memiliki ketertarikan besar pada dunia fotografi. Dengan memanfaatkan kamera milik PKBM, kemampuannya berkembang pesat. Setelah lulus, kami merekrutnya sebagai tenaga kependidikan. Hingga kini, tiga alumni telah bergabung sebagai staf resmi PKBM Rumah Amma dan tercatat dalam Dapodik Kemendikdasmen.
Bagi kami, keberhasilan itu menjadi bukti bahwa pendidikan tidak berhenti pada pemberian ijazah, tetapi juga membuka jalan menuju kehidupan yang lebih mandiri.
Ruang belajar yang inklusif juga melahirkan beragam talenta lainnya. Ada yang menonjol dalam membaca puisi, menjadi kreator konten digital, hingga menguasai keterampilan pengelasan. Kami tidak membatasi keberhasilan hanya pada nilai akademik, tetapi memberi ruang bagi setiap warga belajar untuk tumbuh sesuai bakat, saling belajar, dan saling menguatkan.
Kedaulatan Ekonomi melalui "Sarabba AMA" dan Semangat Berinovasi
Bagi PKBM Rumah Amma, keberhasilan pendidikan tidak berhenti ketika warga belajar memperoleh ijazah. Pendidikan harus menjadi jalan menuju kemandirian dan kehidupan yang lebih bermartabat. Karena itu, selain pembelajaran akademik, kami memperkuat pendidikan kecakapan hidup melalui pelatihan komputer, tata boga, dan kewirausahaan.
Salah satu hasilnya adalah lahirnya "Sarabba AMA", produk minuman tradisional berbahan jahe dan rempah khas Sulawesi. Gagasan ini muncul dari potensi lokal Kabupaten Soppeng yang memiliki ketersediaan rempah cukup melimpah, tetapi belum banyak diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Melalui usaha tersebut, warga belajar tidak hanya mempelajari teori kewirausahaan, tetapi terlibat langsung dalam setiap proses, mulai dari memilih bahan baku, mengolah produk secara higienis, mengemas, hingga memasarkan hasilnya. Mereka belajar bahwa sebuah produk memiliki nilai ketika dikerjakan dengan kualitas, kreativitas, dan tanggung jawab.
Kebanggaan terbesar kami bukan semata lahirnya sebuah produk, melainkan tumbuhnya rasa percaya diri para warga belajar. Mereka yang dahulu pernah merasa tersisih kini mampu mempresentasikan "Sarabba AMA" di hadapan pengelola PKBM lain dan pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng. Keberanian berdiri di depan publik menjadi bukti bahwa pendidikan telah memerdekakan mereka dari rasa rendah diri.
Perjalanan itu tentu tidak selalu mudah. Kehadiran berbagai lembaga pendidikan alternatif, termasuk Sekolah Rakyat, menghadirkan dinamika baru dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Namun, kami tidak memandangnya sebagai ancaman. Persaingan justru menjadi pemacu untuk terus berbenah, memperkuat kualitas layanan, dan menghadirkan inovasi yang semakin relevan dengan kebutuhan warga belajar.
Bagi PKBM Rumah Amma, setiap perubahan adalah pengingat bahwa lembaga pendidikan tidak boleh berhenti belajar. Selama masyarakat masih membutuhkan ruang belajar yang inklusif dan manusiawi, selama itu pula kami harus terus beradaptasi dan melahirkan gagasan baru.
Menembus Jeruji: Pendidikan sebagai Kesempatan Kedua
Bagi PKBM Rumah Amma, pendidikan inklusif berarti membuka kesempatan belajar bagi siapa pun, tanpa memandang latar belakang maupun masa lalu. Keyakinan itu mendorong kami menjalin kerja sama dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Watansoppeng untuk memberikan layanan pendidikan kesetaraan kepada warga binaan yang putus sekolah.
Kami percaya, hukuman yang dijalani seseorang tidak boleh menghapus haknya untuk memperoleh pendidikan. Jeruji besi memang membatasi kebebasan, tetapi tidak boleh memenjarakan harapan dan masa depan.
Melalui program ini, warga binaan memperoleh kesempatan menyelesaikan pendidikan sekaligus membangun kembali rasa percaya diri. Harapannya, ketika kembali ke tengah masyarakat, mereka tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga bekal keterampilan dan keyakinan bahwa mereka mampu memulai kehidupan yang lebih baik.
Bagi kami, keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika seseorang lulus ujian, melainkan ketika ia kembali diterima sebagai bagian dari masyarakat dan mampu menjalani hidup secara mandiri serta bermartabat.
PENUTUP
Perjalanan PKBM Rumah Amma bermula dari keresahan seorang ibu yang ingin menghadirkan ruang belajar yang aman bagi anaknya. Dari sebuah teras rumah sederhana berukuran 4 × 8 meter, lahirlah sebuah ruang belajar yang kini melayani ratusan warga belajar dari berbagai latar belakang, bahkan menjangkau pekerja migran dan warga binaan di lembaga pemasyarakatan.
Perjalanan ini mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari fasilitas yang lengkap atau anggaran yang besar. Perubahan dapat lahir dari empati, keberanian mengambil langkah pertama, dan komitmen untuk terus melayani mereka yang sering luput dari perhatian.
Di PKBM Rumah Amma, pendidikan bukan sekadar proses mengejar ijazah. Pendidikan adalah upaya memulihkan kepercayaan diri anak yang pernah menjadi korban perundungan, membuka kesempatan bagi pekerja migran untuk tetap belajar, memberi ruang bagi bakat-bakat yang selama ini tersembunyi, membangun kemandirian melalui kewirausahaan, hingga menghadirkan harapan baru bagi warga binaan.
Bagi kami, makna "Dari Ruang Kelas Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur" terwujud ketika setiap warga negara memperoleh kesempatan belajar tanpa diskriminasi. Saat pendidikan mampu memanusiakan manusia, di situlah keadilan benar-benar hadir. Dari ruang belajar yang sederhana, kami percaya Indonesia yang lebih berdaulat, adil, dan makmur dapat dibangun, satu warga belajar pada satu waktu.
0 Komentar