GANRA SOPPENG - Matahari belum terlalu tinggi ketika hamparan sawah di Kecamatan Ganra mulai dipenuhi aktivitas. Sebagian petani berjalan menyusuri pematang sambil memeriksa aliran air. Sebagian lainnya membungkuk menanam padi atau mengangkat karung pupuk. Rutinitas itu berlangsung berjam-jam dan terus berulang mengikuti musim tanam.
Di balik pemandangan yang akrab tersebut, ada persoalan kesehatan yang selama bertahun-tahun nyaris dianggap lumrah. Nyeri punggung, pegal di bahu, kaku pada sendi, hingga pusing setelah bekerja seharian sering diterima sebagai bagian dari profesi petani.
Keluhan itu jarang dibawa ke fasilitas kesehatan. Waktu kerja di sawah hampir selalu bertepatan dengan jam pelayanan puskesmas. Ketika musim tanam atau panen tiba, meninggalkan pekerjaan untuk memeriksakan diri menjadi pilihan yang sulit.
Akibatnya, banyak penyakit berkembang tanpa disadari. Hipertensi, diabetes melitus, gangguan metabolik, hingga berbagai penyakit tidak menular baru diketahui ketika kondisinya sudah cukup berat.
Kondisi tersebut mendorong Puskesmas Ganra menghadirkan inovasi SAHABAT PETANI (Pemeriksaan Kesehatan Berkala dan Edukasi dalam Menangani Penyakit Akibat Kerja pada Kelompok Petani).
Inovasi yang digagas Munakisah, A.Md.Kep dan mulai diterapkan pada Juli 2024 itu lahir dari cara pandang yang sederhana. Pelayanan kesehatan seharusnya mengikuti kehidupan masyarakat yang dilayani. Jika petani sulit datang ke puskesmas karena pekerjaannya, maka pelayananlah yang harus hadir di tengah aktivitas mereka.
Dari pemikiran tersebut, lahirlah model pelayanan kesehatan yang menyesuaikan diri dengan ritme pertanian, mulai dari lokasi pelayanan, waktu pelaksanaan, hingga jenis edukasi yang diberikan.
Petugas kesehatan mendatangi kelompok tani dan melakukan pemeriksaan langsung di lapangan. Sawah, balai kelompok tani, maupun titik pertemuan petani berubah menjadi ruang pelayanan kesehatan. Para petani tetap dapat menjalankan aktivitasnya, sekaligus mengetahui kondisi kesehatannya tanpa harus kehilangan waktu bekerja.
Namun keunikan SAHABAT PETANI tidak berhenti pada pelayanan jemput bola.
Selama ini, skrining penyakit tidak menular umumnya dilakukan berdasarkan faktor usia, riwayat penyakit, atau hasil pemeriksaan kesehatan. Dalam inovasi ini, risiko kesehatan juga dianalisis dari pekerjaan yang dijalani setiap petani.
Petani yang setiap hari bekerja dengan posisi membungkuk memiliki risiko gangguan otot dan tulang yang berbeda dengan petani yang lebih banyak mengangkat beban atau mengoperasikan peralatan pertanian. Beban kerja fisik, pola aktivitas, hingga kebiasaan kerja menjadi bagian dari pemetaan risiko.
Pendekatan tersebut membuat tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi yang lebih tepat sasaran. Saran yang diberikan tidak lagi bersifat umum, melainkan disesuaikan dengan aktivitas harian masing-masing petani.
Nilai pembaruan lainnya terlihat pada cara Puskesmas Ganra menentukan waktu pelayanan.
Pelaksanaan skrining diselaraskan dengan kalender musim tanam. Saat musim tanam maupun panen, ketika aktivitas fisik meningkat dan tekanan pekerjaan lebih besar, pelayanan kesehatan diperkuat melalui pemeriksaan dan edukasi secara langsung.
Pendekatan ini membuat intervensi hadir pada saat risiko kesehatan sedang tinggi. Waktu pelayanan menjadi lebih relevan dengan kondisi nyata yang dihadapi petani.
Dalam setiap kegiatan, petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, lingkar perut, kadar asam urat, serta skrining gangguan otot, tulang, dan sendi yang sering muncul akibat aktivitas bertani.
Hasil pemeriksaan kemudian dianalisis untuk melihat tingkat risiko masing-masing peserta.
Petani yang berada pada kategori risiko tinggi tidak berhenti pada tahap skrining. Mereka memperoleh pendampingan melalui kunjungan rumah atau home visit, pemantauan kepatuhan berobat, hingga rujukan ke fasilitas kesehatan apabila diperlukan.
Dengan pola tersebut, pelayanan berlangsung secara berkelanjutan. Data hasil pemeriksaan menjadi dasar untuk memantau perkembangan kondisi kesehatan petani dari waktu ke waktu.
Edukasi yang diberikan pun disusun berdasarkan realitas di lapangan.
Petugas membahas cara menjaga tekanan darah tetap stabil, mengendalikan kadar gula darah, memilih pola makan yang lebih sehat, mencegah cedera akibat posisi kerja, hingga mengelola kelelahan selama musim tanam. Bahasa yang digunakan dibuat sederhana sehingga mudah dipahami dan langsung dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan SAHABAT PETANI juga dibangun melalui kolaborasi lintas sektor.
Penyuluh pertanian membantu menyelaraskan jadwal kegiatan dengan agenda kelompok tani. Pemerintah desa mendukung pelaksanaan di lapangan. Kader kesehatan ikut melakukan pendampingan, sementara kelompok tani menjadi mitra utama dalam menggerakkan partisipasi masyarakat.
Kolaborasi tersebut membuat pelayanan kesehatan dan pembangunan pertanian berjalan saling melengkapi. Produktivitas petani dipandang memiliki hubungan yang erat dengan kondisi kesehatannya.
Kegiatan SAHABAT PETANI dilaksanakan dua kali dalam setahun dan terintegrasi dengan program Pengendalian Penyakit Tidak Menular di Puskesmas Ganra. Seluruh hasil pemeriksaan dicatat, dianalisis, kemudian digunakan sebagai dasar evaluasi dan pemantauan secara berkelanjutan.
Sejak diterapkan, inovasi ini mulai menunjukkan perubahan.
Semakin banyak petani yang sebelumnya belum pernah memeriksakan kesehatannya kini dapat dijangkau. Kasus hipertensi, diabetes melitus, dan gangguan metabolik ditemukan lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan juga meningkat. Petani mulai memahami bahwa menjaga tekanan darah, mengendalikan gula darah, serta mengurangi risiko cedera kerja merupakan bagian dari upaya mempertahankan produktivitas di sawah.
Bagi Puskesmas Ganra, keberhasilan inovasi ini tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, melainkan dari perubahan cara pelayanan kesehatan menjangkau masyarakat. Pelayanan tidak lagi menunggu masyarakat datang ketika sakit, tetapi hadir lebih awal untuk mengenali risiko, memberikan edukasi, dan mencegah penyakit berkembang.
Pendekatan tersebut menjadikan SAHABAT PETANI memiliki karakter yang berbeda dibanding layanan Posbindu Penyakit Tidak Menular pada umumnya. Unsur risiko pekerjaan, kalender musim tanam, pemantauan berkelanjutan, dan kolaborasi lintas sektor dipadukan dalam satu sistem pelayanan yang dirancang khusus untuk kehidupan petani.
Di tengah tantangan sektor pertanian yang semakin kompleks, kesehatan menjadi salah satu fondasi penting bagi keberlanjutan produksi pangan.
Melalui SAHABAT PETANI, Puskesmas Ganra menunjukkan bahwa inovasi pelayanan kesehatan dapat lahir dari pemahaman terhadap kehidupan masyarakat. Ketika pelayanan mampu mengikuti irama musim tanam, menjaga kesehatan petani menjadi lebih mudah, produktivitas tetap terpelihara, dan harapan mewujudkan "Petani Sehat, Panen Meningkat, Desa Kuat" semakin dekat menjadi kenyataan.
0 Komentar