erabrita.com (12/12/2025). Di pagi yang sejuk di Kabupaten Soppeng, bel sekolah belum sepenuhnya berbunyi, tetapi halaman-halaman Sekolah di Gugus 3 sudah ramai oleh suara salam, sapaan, dan tawa anak-anak. Bukan sekadar rutinitas sebelum masuk kelas. Di gugus ini, salam, senyum, dan sopan santun adalah “bahasa resmi” sebelum pelajaran dimulai.
Di tengah tantangan zaman, deru gawai, dan derasnya informasi, sekolah-sekolah ini bergerak dengan arah yang berbeda: kembali ke dasar. Mereka sepakat bahwa kecerdasan tanpa adab adalah kehilangan terbesar bagi pendidikan.
Dan dari kesadaran itu, lahirlah puluhan inovasi yang berfokus pada kedisiplinan, karakter, dan tata krama dengan gaya dan wajah yang berbeda di setiap sekolah.
Berikut laporan jurnalistik indepth dari perjalanan beberapa sekolah di Gugus 3, yang bersama-sama merawat sesuatu yang kini menjadi langka: adab yang hidup dalam keseharian
SDN 3 Lemba — Adab yang Ditanam Setiap Pagi
Pagi di SDN 3 Lemba selalu dimulai dengan gerakan kecil tapi penuh makna. Guru berdiri di gerbang, siswa datang dengan ucapan salam dan sapaan yang dijaga sebagai kebiasaan. Program unggulan mereka, Makkiade’ (Mari Kita Kiatkan BerADab), tidak berhenti pada slogan, ia dihidupkan lewat langkah ringan anak-anak yang membungkuk sedikit saat melewati guru, senyum sopan pada temannya, dan sikap menghargai saat berbicara.
Kepala sekolah mengatakan, “Adab itu tidak lahir dari ceramah panjang. Ia tumbuh dari contoh. Dari hal kecil yang diulang setiap hari.”
Program Satu Hati, yang memberi ruang anak tampil di Sabtu pagi, juga melatih keberanian yang dibingkai dengan sopan santun. Anak-anak berdiri di depan teman-temannya, menyampaikan aspirasi dan inspirasi dengan gaya mereka sendiri, belum sempurna, namun jujur dan santun.
SDN 237 Aletellue — Gotong Royong sebagai Karakter Dasar
Di Aletellue, pendidikan karakter tidak diajarkan lewat buku, tetapi lewat aksi. Program Pargoy (Penerapan Gotong Royong) membuat setiap sudut sekolah adalah ruang latihan kepedulian.
Setiap Jumat, anak-anak tampak bekerja bergandengan, ada yang menyapu lapangan, ada yang menata pot bunga, ada yang membantu temannya yang kesulitan menata bangkunya.
“Gotong royong itu bukan kerja bakti,” kata seorang guru. “Itu cara kami mengajari bahwa hidup itu saling menopang.”
Karakter tumbuh ketika anak memilih untuk membantu tanpa diminta, bukan ketika diberi tugas.
SDN 30 Paowe — Disiplin dari Sebuah Tumbler
Program Sultan (Satu Tumbler Satu Anak) mungkin tampak sederhana. Namun di SDN 30 Paowe, tumbler itu menjadi simbol disiplin yang tak disadari anak-anak sedang mereka pelajari.
Setiap pagi, guru mengecek tumbler bukan sebagai formalitas, tetapi sebagai latihan tanggung jawab. Anak-anak belajar bahwa disiplin bukan hanya datang tepat waktu, tetapi juga mengingat kewajiban kecilnya sendiri.
Di halaman sekolah, seorang murid kelas empat pernah berkata lirih kepada temannya, “Kalau saya lupa tumbler, saya malu sama diriku sendiri.”
Itulah pendidikan karakter dalam bentuk paling jujur, kesadaran, bukan ketakutan pada hukuman.
SDN 166 Laburawung — Karakter Itu Dibangun dari Cara Berpikir
Laburawung adalah salah satu sekolah dengan inovasi terbanyak dalam penguatan karakter. Dan menariknya, sebagian besar inovasi itu terintegrasi dalam proses belajar.
CERDIK melatih siswa menjadi cerdas, disiplin, dan kreatif.
RASAKU mengajak siswa merenungkan apa yang sudah dipahami dan apa yang belum.
KUPAS melatih kemampuan memahami dan menyampaikan informasi dengan runtut, sebuah latihan berpikir yang membentuk kejujuran intelektual.
Dan melalui KOPI (Komentar Pintar), anak-anak belajar berbeda pendapat tanpa saling menyakiti. Mereka berdiskusi dengan kalimat yang sopan, memberi komentar dengan cara yang tidak merendahkan.
Di sekolah ini, karakter bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. Ia meresap dalam pola belajar, cara guru menegur, hingga cara anak menyampaikan gagasan.
Laburawung seperti sedang berkata: karakter bukan perilaku semata, tetapi cara kita berpikir sebelum bertindak.
SDN 225 Cirowali — Kedisiplinan yang Dimulai dengan Barisan
Setiap Senin di Cirowali, suasana berbeda terasa. Program UDARA BERSIH, yang menekankan disiplin dalam upacara bendera, membuat halaman sekolah tampak rapi dan penuh energi.
Tidak ada anak yang berdiri sembarangan. Barisan tertata, bendera dikibarkan dengan hikmat, dan setiap instruksi diikuti dengan kesungguhan.
Guru di sekolah ini percaya bahwa ketertiban di upacara adalah cerminan ketertiban belajar.
“Kalau anak sudah terbiasa berdiri dengan benar, mendengarkan aba-aba, dan menghormati simbol negara,” ujar gurunya, “maka ia akan lebih siap mematuhi aturan lain.” Kedisiplinan tumbuh dari kebiasaan paling dasar.
SDN 21 Mattabulu — Sekolah yang Menolak Kekerasan
Program Sahabat lahir dari harapan agar sekolah ini menjadi ruang damai bagi semua anak. Mattabulu menolak budaya perundungan yang kadang tumbuh dari candaan yang kebablasan.
Di kelas, guru mengajak anak-anak duduk melingkar dan berbicara tentang perasaan: apa yang membuat mereka senang, sedih, marah, atau takut. Mereka belajar bahwa menertawakan orang lain bukan sesuatu yang lucu.
Di sekolah ini, kata “maaf” bukan sekadar kata, tetapi latihan kerendahan hati.
Seorang murid kelas dua pernah berkata kepada gurunya, “Kalau kita bikin teman sakit hati, itu sama kayak jatuhkan hati kita juga.” Beginilah cara Mattabulu menumbuhkan empati.
SDN 12 Biccuing — Menjaga Harmoni dalam Ruang Belajar
Biccuing juga menjalankan program Sahabat, dengan fokus pada hubungan antarsiswa. Guru memberikan contoh bagaimana menegur tanpa memarahi, mengingatkan tanpa mempermalukan, dan menyelesaikan masalah tanpa bentak-membentak.
Lingkungan ini membuat anak merasa aman. Mereka tidak takut datang ke sekolah karena suasananya hangat, guru-gurunya lembut, dan teman-temannya saling menjaga. Jika ada satu kata yang menggambarkan Biccuing, itu adalah ramah.
SDN 31 Tellang — Adab dalam Bingkai Budaya Lokal
Di Tellang, adab tidak dipisahkan dari budaya. Program ALOSI (Assisumpungeng Lolo Sipakamase) menghidupkan kembali budaya saling memuliakan, saling membantu, dan saling memperhatikan.
Nilai lokal yang kuat ini membuat anak-anak tumbuh dengan kesadaran bahwa hidup bermasyarakat membutuhkan empati dan kepedulian.
Sementara itu, program Gulai Manis menanamkan kedisiplinan melalui tradisi menyanyikan lagu wajib di hari Kamis—pembiasaan yang mengajarkan rasa cinta pada negara dan kekompakan.
Tellang membuktikan bahwa karakter tidak harus lahir dari program modern; ia bisa tumbuh dari kearifan lokal yang diwariskan.
SDN 16 Liangeng — Salam yang Menghangatkan Sekolah
Di Liangeng, setiap hari dimulai dengan ritual kecil yang sarat makna: SAKA (Sapa Kata). Tidak ada anak yang lewat tanpa menyapa. Tidak ada guru yang tidak disalami. Kata-kata baik bergema di halaman, membangun suasana yang penuh hormat dan keakraban.
Guru di sini percaya bahwa sopan santun adalah “pintu masuk” bagi segala bentuk pembelajaran. Jika anak terbiasa menghormati orang lain, ia akan lebih mudah menghormati aturan, waktu, dan tanggung jawab.
Liangeng tumbuh menjadi sekolah yang hangat, lembut tetapi tegas pada nilai-nilai adab.
Ketika Sekolah-Sekolah Kecil Menjaga Nilai Besar
Menyaksikan inovasi di sekolah-sekolah Gugus 3 Soppeng, satu hal menjadi jelas: karakter tidak dibangun dari satu program besar, tetapi dari ratusan kebiasaan kecil yang dijaga setiap hari.
Inovasi mereka mungkin tampak sederhana; sebatas salam, tumbler, barisan, atau kerja sama. Namun di balik itu tersembunyi harapan yang besar: menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab, santun, bertanggung jawab, dan mampu hidup dalam keberagaman.
Ketika adab hidup di sekolah, ia ikut pulang ke rumah. Ketika karakter tumbuh di kelas, ia tumbuh pula di masyarakat.
Gugus 3 telah menunjukkan bahwa pendidikan karakter bukan wacana, ia adalah gerakan, yang lahir dari ruang-ruang kecil, dijaga oleh guru-guru besar hati, dan dihidupkan oleh anak-anak yang setiap hari belajar menjadi lebih baik.
Keterangan Gambar: Aktifitas K3S dan Kegiatan Guru di Gugus 3.
0 Komentar