CITTA, Soppeng. Air bening itu tetap mengalir tenang, meski kawasan di sekitarnya dipenuhi manusia. Sabtu, 27 Desember 2025, hari kedua libur Natal dan Tahun Baru, Pemandian Alam Citta kembali menjadi tujuan utama warga Soppeng dan sekitarnya.
Sejak pagi, dua kolam utama telah sesak. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, sebagian memilih bermain di saluran-saluran kecil yang mengalirkan air jernih dari mata air ke kolam. Riuh tawa dan percik air membentuk suasana khas liburan akhir tahun.
Lonjakan pengunjung membuat area parkir di dalam kawasan cepat penuh. Kendaraan roda dua dan roda empat kemudian berjejer di luar kawasan wisata, memanfaatkan ruas jalan poros sebagai tempat parkir alternatif.
Di titik inilah kontras mulai terasa. Di satu sisi kawasan wisata hidup dan ramai, di sisi lain akses jalan yang dilalui pengunjung menunjukkan kondisi rusak di beberapa bagian.
Pemandian Alam Citta bukan sekadar tempat mandi. Kawasan ini merupakan bagian dari bentang wisata alam Desa Citta yang lebih luas, mencakup Permandian Alam Jompi Pitue, spot budaya lokal, serta potensi atraksi alam lain yang masih bisa dikembangkan.
Setiap musim liburan, terutama libur panjang seperti Natal dan Tahun Baru, Citta hampir selalu mengalami lonjakan kunjungan, menegaskan posisinya sebagai destinasi favorit yang mudah dijangkau.
Pengelola Pemandian Alam Citta, Samad, menyebut kawasan ini terus diarahkan menjadi ruang wisata multifungsi. Target pendapatan dipatok sekitar Rp250 juta per tahun. Selain pemandian, kawasan ini kini sudah bisa digunakan untuk kegiatan camping dan bermalam.
Pengelola juga menerima kegiatan rapat, reuni, hingga kunjungan rombongan. “Masih ada lokasi di dalam kawasan yang bisa dikembangkan, minimal dua titik kolam tambahan, supaya pengunjung tidak menumpuk di satu area,” ujarnya.
Kedekatan geografis menjadi keunggulan utama Citta. Andi Sarianto, pengunjung asal Cabbenge, menilai jarak tempuh relatif singkat. “Dari Kota Soppeng sekitar 25 kilometer, dari Cabbenge cuma lima kilometer. Jadi dekat dan mudah dijangkau,” katanya.
Namun, ia juga mencatat persoalan utama yang dirasakan hampir semua pengunjung. “Sayangnya jalan provinsi yang melintas di kawasan wisata ini rusak parah. Kalau jalannya diperbaiki, tidak menutup kemungkinan Citta jadi favorit utama di Soppeng,” tambahnya.
Jalan yang dikeluhkan tersebut telah beralih status menjadi jalan provinsi sejak Januari 2016. Sejak saat itu, kewenangan penanganan dan pemeliharaan berada di tangan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Meski demikian, penanganan berskala besar terhadap ruas ini baru masuk dalam skema Multi Years Contract (MYC) pada tahun 2025. Ruas Lajoa – Pacongkang – Citta – Batas Bone tercatat sebagai bagian dari Pekerjaan Preservasi Jalan Provinsi Paket 4 MYC.
Paket ini mencakup penanganan jalan dengan total panjang lebih dari 286 kilometer, menghubungkan lima kabupaten, yakni Barru, Soppeng, Wajo, Sidrap, dan Bone. Paket 4 MYC merupakan program lintas wilayah yang mencakup berbagai jenis pekerjaan, mulai dari pemeliharaan rutin, pemeliharaan berkala, rehabilitasi, hingga peningkatan struktur jalan.
Lonjakan kunjungan saat libur akhir tahun kembali menegaskan pentingnya akses jalan bagi pengembangan pariwisata desa. Jalan bukan sekadar jalur kendaraan, tetapi pintu masuk utama yang menentukan kenyamanan dan keselamatan pengunjung.
Di tengah kolam yang penuh dan parkiran yang meluber, Pemandian Alam Citta memperlihatkan dua wajah sekaligus yaitu potensi wisata yang terus tumbuh dan infrastruktur yang masih menunggu sentuhan nyata.
Libur Nataru tahun ini menjadi pengingat bahwa pesona alam Citta telah terbukti menarik ribuan orang. Tantangan berikutnya adalah memastikan akses jalan provinsi yang melintasinya benar-benar sejalan dengan geliat wisata yang sudah lebih dulu hidup.
0 Komentar