Breaking News

“Rapor Anak Dibagikan, Ayah Ikut Dinilai”


"Yang duduk di kursi tunggu bukan cuma anak, melainkan juga ego, rasa bersalah, dan ingatan ayah tentang seberapa sering ia benar-benar hadir. Karena diam-diam, yang sedang dibagikan hari itu bukan hanya nilai anak, melainkan rapor ayah sendiri"

(Perspektif: AM Zulkarnain) 

Begitu gerakan ayah mengantar anak menerima rapor diumumkan, media sosial langsung bereaksi.
Ada yang setuju.
Ada yang kontra.
Ada juga yang langsung bertanya: “Kalau ayahnya merantau bagaimana?”

Pertanyaannya masuk akal. Tapi juga cepat sekali meloncat ke kesimpulan.

Perlu luruskan cara berpikir, 
gerakan tersebut sejatinya bukan perintah administratif, apalagi syarat kehadiran orang tua ideal. Ia adalah pesan simbolik, mengingatkan bahwa ayah punya peran penting dalam pendidikan dan perkembangan emosi anak, peran yang selama ini sering dianggap sekadar urusan ibu.

Bukan soal datang ke sekolah.
Bukan soal tanda tangan rapor.
Dan jelas bukan soal pamer foto ayah berdiri di depan kelas.

Lagipula, menemani anak menerima rapor satu hari tidak otomatis berarti ayah sudah patuh pada ajakan negara.
Apalagi langsung bisa disimpulkan ayah itu dekat, hangat, dan terlibat dalam hidup anaknya.

Kedekatan tidak dibangun dalam satu pagi saja.Ia dibangun dari obrolan kecil, dari bertanya “hari ini capek tidak?”, dari hadir saat anak butuh ditemani, bukan saat ada perintah negara. 

Ini lebih mirip ajakan makan bersama keluarga. Tidak semua bisa. Tapi semua paham maksudnya.
Mirip hari tanpa gawai. Tidak selalu dijalankan, tapi pesannya jelas, hadir yang sungguh-sungguh.
Mirip ayah bermain dengan anak. Tidak harus tiap hari, tapi jangan cuma jadi penyedia uang saku.
Mirip cerita sebelum tidur. Kadang terlewat, tapi anak ingat rasanya ditemani.

Ini semua simbol dukungan, bukan ujian kepatuhan.

Bagaimana dengan ayah yang merantau?
Bagaimana dengan ayah yang kerja di luar daerah?
Bagaimana dengan anak yatim?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting, tapi tidak untuk mematikan pesannya. Realitas sosial tidak sedang dihapus. Yang sedang disentil justru kebiasaan lama, urusan sekolah dianggap otomatis wilayah ibu, sementara ayah cukup hadir dalam cerita “kerja keras”.

Ini mungkin sederhana. Bahkan mungkin terasa naif. Tapi ia menyentuh satu masalah lama yang jarang dibicarakan yaitu absennya ayah di ruang-ruang emosional anak.

Kalau kita membaca ini terlalu kaku, kita akan sibuk mencari celah.
Kalau terlalu sinis, kita akan kehilangan maknanya.

Negara tidak sedang bertanya siapa ayah yang datang ke sekolah?
Negara sedang mengingatkan, jangan terlalu sering tidak hadir dalam hidup anak.

Dan itu, kita tahu, tidak bisa diukur dari satu hari pembagian rapor.
Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM