Breaking News

Rapor dan Rangking: Ketika Angka Diam-Diam Melukai

Oleh:
Andi Rahman Sulo M

Dua hari terakhir, sekolah-sekolah kembali ramai. Anak-anak datang dengan wajah beragam, ada yang berbinar, ada yang tegang, ada pula yang menyembunyikan cemas. Rapor dibagikan. Pemerintah bahkan mendorong para ayah hadir mendampingi. Sebuah niat baik, tentu. Namun, di balik momen yang tampak sederhana ini, ada cerita lain yang jarang kita dengar.

Di lembar rapor, angka-angka berdiri rapi. Nilai mata pelajaran, catatan guru, dan sering kali itu "rangking". Di sinilah semuanya bermula. Bukan dari rapornya, tetapi dari reaksi kita. Dari pertanyaan yang terdengar biasa, tapi terasa tajam bagi anak: “Rangking berapaki?” atau “Kenapa nilaimu kalah dari temanmu?”

Bagi orang dewasa, itu mungkin sekadar tanya. Bagi anak, itu bisa menjadi beban. Bahkan luka.

Ironisnya, pertanyaan itu kerap datang dari orang-orang yang paling mereka harapkan dukungannya, dari orang tua, keluarga dekat, atau lingkungan terdekat. 

Niatnya mungkin ingin memotivasi. Tapi yang sampai ke hati anak sering kali justru rasa kecewa, rasa tidak cukup, rasa gagal. Seolah seluruh usaha mereka selama satu semester runtuh hanya karena satu angka.

Padahal, tidak ada dua anak yang tumbuh dengan cara yang sama. Ada yang cepat memahami angka, ada yang kuat di empati, ada yang unggul dalam seni, ada yang baru berani bertanya di kelas. 

Membandingkan anak dengan anak lain bukan membuat mereka melompat lebih jauh, justru sering membuat mereka berhenti melangkah.

Bayangkan menjadi anak kecil yang harus memikul harapan banyak orang, sementara ia sendiri masih belajar mengenali dirinya. 

Tekanan itu nyata. Dan jika dibiarkan, ia bisa berubah menjadi rasa takut gagal, cemas berlebihan, bahkan kehilangan percaya diri. Anak bisa tumbuh bukan karena ingin belajar, tetapi karena takut mengecewakan.

Sekolah seharusnya bukan ruang ketakutan. Pendidikan mestinya membebaskan, bukan menekan. Masa depan tidak hanya ditentukan oleh rangking, tetapi oleh karakter, ketangguhan, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk mencoba.

Maka mungkin, yang perlu kita ubah bukan rapornya, tetapi cara kita menyikapinya.

Saat rapor dibagikan, mari lebih dulu bertanya: “Apa yang paling kita suka pelajari?” atau “Bagian mana yang paling menantang buatmu?” Rayakan usaha, bukan sekadar hasil. Hargai proses, bukan hanya peringkat.

Karena pada akhirnya, setiap anak berharga, bukan karena angkanya, tetapi karena dirinya. 

Tugas kita bukan menekan mereka menjadi siapa yang kita inginkan, melainkan menemani mereka tumbuh menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.


Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM