Breaking News

SDN 3 Lemba dengan 12 Inovasi Pembelajaran: Membangun Generasi Beradab, Kreatif, dan Melek Teknologi


Soppeng.erabrita.com
., —Di tengah tuntutan pendidikan abad 21 dan percepatan transformasi pembelajaran, SDN 3 Lemba, Kecamatan Lalabata, muncul sebagai salah satu satuan pendidikan yang paling progresif di Kabupaten Soppeng. Sekolah ini tidak hanya memenuhi standar Kurikulum Merdeka, tetapi mengembangkan ekosistem inovasi yang menyentuh aspek karakter, literasi, teknologi, sosial, hingga spiritual.

Dalam liputan mendalam ini, redaksi menelusuri bagaimana 12 program inovasi pembelajaran yang dirancang para guru mampu menciptakan lingkungan belajar yang aktif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik serta perkembangan zaman.

Membangun Karakter Sejak Dasar: Makkiade', Duren Surga, Ase Budu

Program Makkiade' (Mari Kita Kiatkan berADab) menjadi fondasi utama pembentukan karakter peserta didik. Program ini mengintegrasikan nilai adab, etika pergaulan, kedisiplinan, dan empati ke dalam aktivitas harian siswa.

Tidak berhenti di situ, karakter spiritual diperkuat melalui Duren Surga (Dhuha Dua Rakaat Menuju Surga) dan Selasa Literasi Al-Qur’an (Selasi) yang rutin melibatkan seluruh warga sekolah.

Sementara itu, empati sosial anak diuji lewat Ase Budu (Aksi Sejuta Butir Beras untuk Dhuafa)—program solidaritas yang sudah lama menjadi ciri khas sekolah dan membangun kesadaran kemanusiaan sejak dini.
“Inovasi tidak harus canggih dan serba digital. Di SDN 3 Lemba, inovasi justru berakar dari kebutuhan dasar, membangun karakter dan kepedulian, kami mencobanya,” ujar Kepala SD Neg. 3 Lemba, Falmunadi, S.Pd

Menghidupkan Literasi dan Jurnalisme Anak: Berca dan Julik

Gerakan literasi menjadi pilar kuat SDN 3 Lemba. Melalui Berca (Berani Baca), ruang membaca dihidupkan kembali dan menjadi zona favorit siswa. Tidak sekadar membaca, program Julik (Jurnalis Cilik) melatih siswa menulis berita, mengambil foto, hingga melakukan wawancara sederhana.
Program ini menjadikan sekolah sebagai ruang praktik jurnalistik mini, lengkap dengan redaksi kecil yang beranggotakan siswa-siswa kreatif.

Pemanfaatan Teknologi: Kornet, Beduk, dan Gamifikasi

Sejalan dengan tuntutan literasi digital, SDN 3 Lemba menghadirkan Kornet (Kios Internet) sebagai pusat akses digital siswa. Di beberapa waktu, siswa menggunakan fasilitas ini untuk mencari informasi, mengerjakan proyek, hingga membuat konten digital sederhana.

Sementara itu, Beduk (Bioskop Edukasi) menghadirkan pembelajaran tematik berbasis film edukatif. Setiap sesi Beduk biasanya diikuti diskusi interaktif yang dipandu guru.

Beberapa guru juga memadukan metode game-based learning dengan aplikasi sederhana sehingga pembelajaran lebih hidup dan kompetitif.

Pembelajaran Kontekstual: Sulap dan Sem

Sulap (Studi Lapang) adalah inovasi pembelajaran yang mempertemukan siswa dengan realitas di luar kelas. Siswa diajak mengamati lingkungan desa, belajar langsung dengan petani, pelaku UMKM, hingga mengunjungi kantor desa.

Inovasi ini sejalan dengan prinsip discovery learning dan project-based learning yang menekankan eksplorasi dan pengalaman nyata.

Adapun Sem (Sport Education Model) dirancang untuk mengintegrasikan pembelajaran PJOK dengan pendekatan sport science, membiasakan siswa mengelola emosi, sportif, serta menjaga kebugaran melalui aktivitas terstruktur.

Ngomong, Berpendapat, dan Mengasah Kepercayaan Diri: Program Satu Hati

Salah satu inovasi paling unik adalah Satu Hati (Sabtu Berani Tampil Ungkap Aspirasi dan Inspirasi). Program ini melatih siswa tampil di depan publik setiap hari Sabtu: bercerita, presentasi, menampilkan karya, bahkan menyampaikan unek-unek mereka secara santun.

Ini selaras dengan kebutuhan soft skills abad 21: komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan critical thinking.

Peduli Lingkungan: Cemaslah

Di tengah isu sampah plastik yang mendesak secara global, SDN 3 Lemba meluncurkan Cemaslah (Cermat Memilah Sampah Plastik).
Gerakan ini bukan hanya aksi satu kali, melainkan pembiasaan harian melalui edukasi, pemilahan sampah, pengumpulan botol plastik, hingga pengolahan sederhana.

Anak-anak diajak menjadi agen perubahan lingkungan sejak dini.

Mengapa SDN 3 Lemba Melompat Lebih Cepat?

Hasil liputan khusus tim redaksi erabrita.com, menemukan beberapa faktor kunci:

1. Kepemimpinan kepala sekolah yang inovatif. Kepala sekolah memberi ruang seluas-luasnya bagi kreativitas guru.
2. Tim guru yang kolaboratif. Inovasi muncul dari forum diskusi rutin, bukan instruksi tunggal.
3. Budaya sekolah yang sehat dan suportif. Siswa dilibatkan aktif. Orang tua sunber daya pendukung.
4. Pemanfaatan Kurikulum Merdeka
Fleksibilitas kurikulum dimanfaatkan optimal untuk pembelajaran berbasis proyek.
5. Akar budaya lokal yang kuat
Banyak program mengambil filosofi lokal Bugis: adab, sipakatau, gotong royong, dan literasi.

Dampak: Sekolah Menjadi Ekosistem Pembelajaran yang Hidup

Dampak inovasi terlihat nyata antara lain motivasi belajar meningkat, siswa lebih berani berbicara, literasi membaca dan menulis berkembang pesat, tumbuhnya karakter empati dan disiplin, pembelajaran terasa lebih kontekstual dan menyenangkan, dan orang tua semakin terlibat mendukung program sekolah. 

SDN 3 Lemba kini bukan hanya satuan pendidikan biasa, tetapi laboratorium inovasi daerah yang layak menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lain di Soppeng.

Inovasi pembelajaran di SDN 3 Lemba menunjukkan bahwa perubahan besar tidak harus menunggu fasilitas megah. Dengan kreativitas guru, kepemimpinan yang visioner, dan budaya sekolah yang kuat, pembelajaran dapat bergerak jauh lebih maju.

Kabupaten Soppeng patut menjadikan SDN 3 Lemba sebagai model dalam transformasi pendidikan, terutama di era Kurikulum Merdeka yang menekankan fleksibilitas, kebermaknaan, dan karakter peserta didik.
Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM