Banyak pasangan memasuki gerbang pernikahan dengan persiapan yang matang untuk resepsi. Mereka meluangkan waktu memilih gedung, dekorasi, busana, bahkan menu hidangan. Namun, ketika pesta usai dan kehidupan rumah tangga dimulai, muncul berbagai pertanyaan yang jarang dibicarakan sebelumnya. Bagaimana membangun komunikasi yang sehat. Bagaimana merencanakan kehamilan. Bagaimana menjaga kesehatan pasangan. Bagaimana menyelesaikan perbedaan pendapat tanpa melukai satu sama lain.
Persoalan-persoalan seperti itulah yang mendorong UPTD Puskesmas Cangadi melahirkan inovasi KECAP PAHIT, akronim dari Kelas Edukasi Calon Pengantin Pasangan Harmonis dan Sehat. Program ini memanfaatkan masa sebelum pernikahan sebagai ruang belajar bagi calon pasangan agar memasuki kehidupan rumah tangga dengan bekal pengetahuan yang lebih utuh.
Dokumen rancang bangun inovasi mencatat masih banyak calon pengantin yang belum memperoleh pemahaman memadai mengenai kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi, perencanaan keluarga, maupun komunikasi dalam rumah tangga. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap berbagai persoalan setelah pasangan menikah, mulai dari kehamilan berisiko, konflik keluarga, hingga perceraian.
Di Kecamatan Liliriaja sendiri, pada 2024 tercatat 13 kasus perceraian.
Wilayah ini juga masih menghadapi berbagai persoalan kesehatan keluarga yang memerlukan perhatian sejak sebelum pasangan membangun rumah tangga. Kenyataan itu menjadi dasar lahirnya pendekatan yang menempatkan edukasi pranikah sebagai bagian dari pelayanan kesehatan masyarakat.
Nama KECAP PAHIT memang terdengar unik. Isi programnya justru membahas hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan setiap keluarga.
Calon pengantin diajak mengenal kesehatan reproduksi, memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum menikah, menyusun rencana kehamilan, menjaga kecukupan gizi, hingga membangun pola komunikasi yang saling menghargai. Seluruh materi disampaikan dalam suasana diskusi sehingga peserta leluasa bertanya, berbagi pengalaman, sekaligus memperoleh penjelasan dari tenaga kesehatan.
Pemeriksaan kesehatan menjadi bagian penting dari rangkaian layanan tersebut. Peserta menjalani skrining faktor risiko, pemeriksaan laboratorium sesuai kebutuhan, imunisasi tetanus, serta konseling kesehatan reproduksi. Dari proses ini, calon pasangan dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal sehingga berbagai risiko dapat diantisipasi sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Hasilnya mulai terlihat sejak inovasi ini diterapkan pada Juni 2023. Berdasarkan data UPTD Puskesmas Cangadi, hingga saat ini wilayah kerjanya tetap mencatat nol kasus angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa penguatan edukasi pranikah, skrining kesehatan, pendampingan calon pengantin, serta kolaborasi lintas sektor memberi kontribusi dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi sejak masa sebelum kehamilan.
Pendekatan yang diterapkan Puskesmas Cangadi memandang kesehatan keluarga sebagai proses yang dimulai jauh sebelum seseorang datang ke fasilitas kesehatan. Keluarga yang sehat tumbuh dari kebiasaan saling menjaga, saling memahami, dan membangun keputusan bersama.
Karena itu, pembahasan di dalam kelas tidak berhenti pada persoalan medis. Peserta berdiskusi mengenai kesiapan mental, peran suami dan istri, perencanaan keluarga, pola komunikasi, hingga pengelolaan ekonomi rumah tangga. Semua materi diarahkan agar pasangan memiliki bekal menghadapi perubahan yang akan mereka temui setelah menikah.
Pelaksanaan KECAP PAHIT melibatkan berbagai pihak. UPTD Puskesmas Cangadi bekerja sama dengan Kantor Urusan Agama, pemerintah kecamatan, PKB atau PLKB, PKK, serta unsur lintas sektor lainnya. Setiap lembaga mengambil peran sesuai bidangnya sehingga calon pengantin memperoleh pembekalan dari berbagai sudut pandang.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa membangun keluarga harmonis merupakan tanggung jawab bersama. Ketika keluarga memiliki fondasi yang kuat, dampaknya akan dirasakan dalam kehidupan sosial, kesehatan, pendidikan, hingga kualitas generasi yang lahir di kemudian hari.
KECAP PAHIT mulai diuji coba pada Juni 2023, kemudian diterapkan sebagai bagian dari pelayanan UPTD Puskesmas Cangadi. Antusiasme masyarakat terus meningkat. Pada 2023 sebanyak 198 calon pengantin mengikuti pelayanan, kemudian bertambah menjadi 210 orang pada 2024. Seluruh peserta menjalani skrining kesehatan untuk mendeteksi berbagai faktor risiko, termasuk kekurangan energi kronis, anemia, maupun usia menikah yang masih terlalu muda. Hasil pemeriksaan menjadi dasar bagi petugas kesehatan dalam memberikan edukasi dan pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing pasangan.
Dokumen rancang bangun inovasi menyebutkan KECAP PAHIT dikembangkan untuk memperluas akses pelayanan kesehatan reproduksi, memperkuat edukasi bagi calon pengantin, meningkatkan pendewasaan usia perkawinan, sekaligus mempererat kerja sama lintas sektor dalam pelayanan kesehatan reproduksi yang berkesinambungan.
Bagi UPTD Puskesmas Cangadi, keberhasilan sebuah pernikahan tidak diukur dari meriahnya pesta ataupun indahnya dokumentasi. Keberhasilan itu terlihat ketika pasangan mampu membangun rumah tangga yang saling menjaga, mengambil keputusan bersama, menghadapi persoalan dengan kepala dingin, dan menciptakan lingkungan yang sehat bagi keluarganya.
Melalui KECAP PAHIT, proses belajar itu dimulai sebelum akad nikah berlangsung. Di ruang kelas inilah calon pengantin dipersiapkan menjalani kehidupan yang sesungguhnya, sebuah perjalanan panjang yang akan mereka tempuh sebagai suami, istri, sekaligus keluarga.
0 Komentar