Breaking News

Empat Hari di Ompo, Tiga Pesan untuk 1.328 Peserta tentang Pramuka dan Pendidikan

SOPPENG — Perkemahan Pramuka Kwarran Lalabata 2026 telah berakhir di Kawasan Wisata Ompo, Sabtu (29/8/2026). Selama empat hari, sebanyak 1.328 peserta dari 57 pangkalan mengikuti rangkaian kegiatan yang mempertemukan perlombaan, kehidupan berkemah, pembelajaran di alam terbuka dan kegiatan yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan.

Ketua Kwarran Lalabata Muhammad Husni mengatakan ukuran keberhasilan perkemahan tidak berhenti pada daftar pemenang yang diumumkan di akhir kegiatan.

Menurut dia, pengalaman yang diperoleh peserta selama berada di perkemahan justru menjadi bagian penting dari tujuan kegiatan.

“Kegiatan ini bukan tentang siapa yang menjadi juara, tetapi bagaimana anak-anak kita belajar mandiri, bekerja sama, disiplin, peduli lingkungan, berani berkompetisi dan menghargai orang lain,” ujar Muhammad Husni.

Pesan itu menjadi relevan karena selama berada di Ompo, peserta tidak hanya mengikuti perlombaan. Mereka juga hidup dalam suasana perkemahan yang menuntut kemandirian, pembagian tugas dan tanggung jawab bersama.

Husni berharap kebiasaan yang terbentuk selama empat hari tersebut tidak berhenti ketika peserta meninggalkan lokasi perkemahan.

Ia ingin nilai-nilai kepramukaan tetap terlihat ketika peserta kembali ke sekolah, keluarga dan lingkungan tempat mereka tinggal.

“Semangat yang tumbuh selama perkemahan ini tidak berhenti ketika peserta meninggalkan Kawasan Wisata Ompo. Nilai-nilai kepramukaan harus terus dibawa ke sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat,” katanya.

Direktur PT Lamataesso Mattappa Perseroda Kabupaten Soppeng, Musdar Asman, melihat Ompo memberi ruang yang berbeda bagi peserta untuk mendapatkan pengalaman belajar.

Menurutnya, kegiatan pendidikan luar ruang seperti perkemahan memungkinkan anak-anak berhadapan langsung dengan situasi yang tidak selalu mereka temui di dalam kelas.

“Di perkemahan mereka belajar mandiri, bekerja sama, menjaga kebersihan, menghargai alam, menyelesaikan masalah dan membangun rasa tanggung jawab,” kata Musdar.

Ia menilai pemanfaatan kawasan wisata untuk kegiatan pendidikan dan kepemudaan juga mempertemukan kepentingan pendidikan, pariwisata, lingkungan dan masyarakat dalam satu kegiatan.

Perhatian terhadap lingkungan menjadi salah satu bagian yang menonjol selama perkemahan. Panitia bersama Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia atau FORSEPSI menyediakan kategori Green Camp dan kebersihan tenda. Bahkan, kategori Green Camp Madya menilai hasil daur ulang sampah yang dibuat pangkalan peserta.

Bagi Musdar, kebiasaan memilah sampah perlu dikenalkan sejak usia sekolah.

“Menjaga lingkungan adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Prinsip memilah sampah dan memanfaatkan sampah yang bernilai ekonomi merupakan edukasi yang sangat baik bagi generasi muda,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng, Dr. Drs. H. Nur Alim, M.Pd., menempatkan pengalaman seperti itu sebagai bagian dari proses pendidikan.

Ia mengatakan pembelajaran tidak seluruhnya berlangsung di ruang kelas. Saat mengikuti perkemahan, peserta berhadapan dengan kebutuhan untuk mengatur diri, bekerja dalam kelompok, menyelesaikan persoalan, mematuhi aturan dan menjalankan tugas.

“Anak-anak kita membutuhkan ruang untuk belajar melalui pengalaman,” ujar Nur Alim.

Karena itu, ia mengingatkan agar pengalaman yang diperoleh peserta tidak berhenti sebagai kenangan atau sekadar terlihat dari piala yang dibawa pulang.

“Jangan sampai setelah perkemahan selesai, nilai-nilai yang dipelajari juga ikut selesai. Justru setelah kembali ke sekolah dan lingkungan masing-masing, nilai-nilai itulah yang harus diterapkan,” katanya.

Nur Alim juga memberi perhatian pada Green Camp dan kebersihan tenda. Menurutnya, kebiasaan menjaga lingkungan perlu menjadi bagian dari budaya sekolah, termasuk membiasakan anak memilah sampah dan memahami bahwa sampah tertentu masih memiliki nilai ekonomi.

Perkemahan Kwarran Lalabata 2026 sendiri diikuti 43 pangkalan SD/MI, 10 pangkalan SMP/MTs dan empat pangkalan SMA/SMK. Setelah rangkaian kegiatan ditutup pada 29 Agustus, para peserta kembali ke sekolah masing-masing dengan hasil perlombaan, pengalaman hidup bersama di perkemahan dan pesan yang sama dari tiga pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Pramuka, bagi mereka, tidak berhenti di Ompo. Ukurannya justru akan terlihat setelah peserta kembali menjalani keseharian.

Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM