Breaking News

GENTA: Menghidupkan Kembali Musik Tradisional di Tengah Generasi Digital

SOPPENG. Suara suling bambu memecah keheningan ruang kelas di SMPN 1 Watansoppeng. Di sudut lain, beberapa siswa mulai memetik kecapi, sementara tabuhan gendang perlahan menyatukan irama. Masih ada nada yang meleset, tempo yang belum serasi, dan tawa yang sesekali pecah. Namun dari proses itulah mereka sedang belajar mengenal sesuatu yang sebelumnya terasa asing: musik tradisional.

Pemandangan seperti itu kini menjadi bagian dari pembelajaran Seni Budaya di sekolah tersebut. Bagi sebagian besar peserta didik yang baru memasuki bangku SMP, suling, kecapi, dan gendang bukan lagi sekadar nama alat musik yang tertulis di buku pelajaran. Mereka memegangnya, memainkannya, lalu memahami bahwa setiap bunyi yang dihasilkan menyimpan jejak panjang perjalanan budaya.
Kondisi itu berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Pengalaman belajar menunjukkan masih banyak siswa yang belum mengenal jenis dan fungsi alat musik tradisional. Lagu daerah pun semakin jarang terdengar dalam keseharian mereka. Perubahan pola konsumsi hiburan melalui gawai membuat musik modern lebih akrab dibandingkan warisan budaya yang tumbuh di lingkungan sendiri.

Kenyataan tersebut mendorong Hermawan Wirajaya, S.Pd., Guru Seni Budaya SMPN 1 Watansoppeng, mencari cara agar pembelajaran tidak berhenti pada penjelasan di depan kelas. Ia ingin peserta didik mengalami sendiri bagaimana rasanya memainkan musik tradisional, bekerja sama membangun harmoni, sekaligus memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Dari gagasan itu lahirlah GENTA (Gelora Nada Tradisi), sebuah inovasi pembelajaran yang mulai diuji coba pada 11 Oktober 2024 dan diterapkan secara penuh sejak 1 Januari 2025.

GENTA disusun selaras dengan materi pembelajaran Seni Budaya di kelas VII. Setiap peserta didik baru mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenal alat musik tradisional sejak awal memasuki jenjang SMP. Dengan pola tersebut, program terus berjalan setiap tahun ajaran sebagai bagian dari proses belajar di sekolah, bukan sebagai kegiatan yang bersifat insidental.

Di dalam kelas, siswa diperkenalkan pada suling bambu, kecapi, dan gendang. Mereka belajar membaca notasi angka, mengenal fungsi setiap alat musik, kemudian mempraktikkannya dalam permainan musik tradisional, termasuk mengiringi Tari Padduppa. Pembelajaran berlangsung secara bertahap sehingga setiap peserta didik dapat terlibat sesuai kemampuannya.

Suasana belajar pun berubah. Ruang kelas tidak hanya menjadi tempat menerima materi, tetapi juga ruang bereksplorasi. Setiap latihan menuntut siswa saling mendengarkan, menjaga tempo, dan menyesuaikan permainan dengan teman satu kelompok. Dari proses itu tumbuh kebiasaan bekerja sama, saling menghargai, dan berani tampil di depan orang lain.

Pembelajaran tidak berhenti ketika jam pelajaran usai. Hasil latihan kemudian ditampilkan melalui mini konser yang dilaksanakan secara berkala di lingkungan sekolah. Penampilan peserta didik juga direkam dalam bentuk podcast dan dipublikasikan melalui YouTube serta Instagram. Dokumentasi tersebut menjadi media pembelajaran sekaligus ruang bagi siswa untuk memperkenalkan hasil karya mereka kepada masyarakat.

Salah satu hal yang membuat GENTA memiliki warna tersendiri adalah penggabungan musik tradisional dengan sentuhan Ethno-EDM Fusion. Pendekatan ini mempertemukan bunyi alat musik tradisional dengan unsur musik modern sehingga lebih dekat dengan selera generasi muda, tanpa menghilangkan karakter musik daerah.

Pelaksanaan GENTA melibatkan berbagai pihak. Selain guru dan peserta didik, orang tua ikut memberikan dukungan terhadap proses pembelajaran. Sekolah juga menggandeng pengrajin alat musik tradisional, terutama pembuat suling bambu, kecapi, dan gendang. Kehadiran mereka memperkaya pengalaman belajar siswa sekaligus memperkenalkan hasil karya pengrajin kepada generasi muda.

Hingga saat ini, penerima manfaat inovasi tersebut telah mencakup seluruh peserta didik SMPN 1 Watansoppeng. Berdasarkan data Dapodik, jumlahnya mencapai 663 siswa. Karena diterapkan kepada setiap peserta didik baru melalui pembelajaran kelas VII, cakupan manfaatnya terus bertambah dari tahun ke tahun.

Bagi Hermawan, menjaga budaya tidak selalu harus dilakukan melalui pertunjukan besar. Ruang kelas pun dapat menjadi tempat yang efektif untuk menumbuhkan kecintaan terhadap seni tradisional. Ketika siswa mengenal alat musik daerah, memainkannya bersama teman-teman, lalu menampilkan hasil belajarnya kepada masyarakat, proses pewarisan budaya berlangsung secara alami.

Inovasi tersebut mendapat apresiasi pada ajang GTK Transformatif Tahun 2025. GENTA meraih Juara I tingkat Kabupaten Soppeng, kemudian mewakili daerah pada tingkat Provinsi Sulawesi Selatan dan berhasil memperoleh Juara II.
Penghargaan itu menjadi penanda bahwa pelestarian budaya dapat tumbuh dari ruang-ruang belajar di sekolah. Ketika pembelajaran memberi ruang kepada peserta didik untuk mengenal, memainkan, dan memaknai musik tradisional, warisan budaya tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia hadir dalam keseharian, hidup di tangan generasi muda, lalu diteruskan kepada generasi berikutnya.

Di SMPN 1 Watansoppeng, bunyi suling, kecapi, dan gendang kini kembali menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Nada-nada itu mengingatkan bahwa tradisi akan tetap bertahan selama ada ruang untuk mempelajarinya, ada guru yang menjaganya, dan ada siswa yang bersedia meneruskannya.
Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM