SOPPENG - Di banyak rumah, pertanyaan yang kerap muncul bukan hanya "apa yang dimasak hari ini", tetapi juga "bagaimana menyajikan makanan bergizi dengan biaya yang terjangkau".
Keresahan itulah yang setiap hari ditemui Amaliyah Subair, Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) Kecamatan Citta, saat mendampingi keluarga di wilayah binaannya.
Tidak sedikit orang tua yang menganggap makanan bergizi identik dengan harga mahal. Padahal, di sekitar mereka tersedia berbagai bahan pangan lokal yang kaya nutrisi. Dari pengalaman tersebut, Amaliyah kemudian melahirkan sebuah inovasi sederhana namun sarat manfaat, yakni Buku Resep Atasi Stunting (BURAS).
Melalui buku ini, berbagai bahan pangan lokal seperti daun kelor, ikan air tawar, telur, hingga umbi-umbian disusun menjadi aneka menu yang mudah diolah, lezat, dan memenuhi kebutuhan gizi balita maupun ibu hamil. BURAS hadir bukan sebatas kumpulan resep, tetapi menjadi panduan praktis bagi keluarga untuk memanfaatkan potensi pangan yang ada di sekitar mereka.
"Banyak orang tua menganggap makanan sehat itu mahal. Melalui BURAS, kami ingin membuktikan bahwa bahan pangan lokal yang ada di sekitar kita dapat diolah menjadi sajian lezat yang disukai anak serta memenuhi kebutuhan gizi harian untuk mencegah stunting," ujar Amaliyah.
Keunggulan BURAS tidak berhenti pada resep masakan. Buku ini juga memuat informasi kandungan gizi setiap menu serta panduan pola asuh makan (feeding rules) bagi anak yang sulit makan. Dengan demikian, keluarga tidak hanya mengetahui cara memasak, tetapi juga memahami pentingnya pola pemberian makan yang tepat.
Inovasi yang lahir dari Kecamatan Citta ini mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Soppeng, Hj. A. Husniati.
Menurutnya, upaya pencegahan stunting membutuhkan langkah yang dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk melalui dapur rumah tangga.
Ia menilai BURAS merupakan inovasi yang menyentuh persoalan mendasar karena menghadirkan solusi yang dapat langsung diterapkan oleh keluarga dalam kehidupan sehari-hari.
DP3AP2KB juga berharap inovasi tersebut tidak hanya dimanfaatkan di Kecamatan Citta, tetapi dapat direplikasi di kecamatan lain. Kehadiran BURAS diharapkan menjadi referensi bagi Kader Pembangunan Manusia (KPM), Tim Pendamping Keluarga (TPK), maupun Posyandu dalam memberikan edukasi gizi kepada masyarakat.
Di tengah berbagai upaya menurunkan angka stunting, BURAS menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang rumit. Kadang, perubahan itu berawal dari meja makan keluarga, dari bahan pangan yang selama ini tersedia di sekitar rumah, lalu diolah dengan pengetahuan yang tepat demi tumbuh kembang generasi yang lebih sehat dan berkualitas.
0 Komentar