Breaking News

PANDU SIDIK JIWA Menjaga Sambung Obat ODGJ, Kolaborasi yang Tumbuh dari Ganra

SOPPENG (20/7/2026) — Putus obat masih menjadi tantangan terbesar dalam penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Ketika pengobatan terhenti, peluang pasien mengalami kekambuhan kembali meningkat. Kondisi itu bukan hanya berdampak pada pasien, tetapi juga membawa beban yang lebih besar bagi keluarga yang setiap hari mendampingi mereka.

Persoalan tersebut mendorong Fitriani, S.Kep., Ns., tenaga kesehatan di UPTD Puskesmas Ganra, mencari pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan pasien. Baginya, menjaga keberlanjutan pengobatan tidak mungkin dibebankan kepada tenaga kesehatan saja. Ada keluarga, tetangga, pemerintah desa, kader kesehatan, hingga berbagai unsur lain yang sesungguhnya memiliki peran penting dalam proses pemulihan.
Pemikiran itu melahirkan PANDU SIDIK JIWA, singkatan dari Penguatan Pelayanan Terpadu Deteksi Dini dan Penatalaksanaan Gangguan Jiwa, sebuah inovasi yang mulai diperkenalkan pada 2021.

Fitriani mengatakan, selama mendampingi pasien ia menyadari bahwa obat bukanlah persoalan yang paling sulit. Tantangan sebenarnya muncul ketika pasien kembali ke rumah.

"Pasien tidak selamanya berada di ruang perawatan jiwa RS atau Puskesmas. Selebihnya mereka hidup bersama keluarga dan masyarakat. Kalau dukungan berhenti saat pasien pulang, pengobatan juga sulit bertahan. Karena itu kami memilih membangun dukungan di lingkungan tempat pasien menjalani kehidupannya," katanya.

Cara pandang tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan PANDU SIDIK JIWA. Pelayanan kesehatan jiwa tidak lagi bertumpu pada kunjungan pasien ke puskesmas, melainkan bergerak bersama keluarga, masyarakat, dan lintas sektor agar pasien tetap menjalani pengobatan secara berkesinambungan.

Keluarga didampingi agar memahami pentingnya pengobatan rutin. Kader kesehatan membantu pemantauan di lapangan. Pemerintah desa ikut memfasilitasi ketika muncul kendala. Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat, dan unsur lintas sektor lainnya mengambil peran sesuai kebutuhan.

Untuk memperkuat koordinasi, pada 2021 dibentuk Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) Kecamatan Ganra berdasarkan Surat Keputusan Nomor 17.B/KGR/II/2021. Melalui tim tersebut, komunikasi antarlembaga menjadi lebih terarah sehingga penanganan pasien dapat dilakukan lebih cepat dan berkesinambungan.

Pendekatan kolaboratif itu kini menjadi bagian dari pelayanan kesehatan jiwa di Kecamatan Ganra.
Data UPTD Puskesmas Ganra menunjukkan seluruh pasien ODGJ yang tercatat telah memperoleh pelayanan kesehatan jiwa. Hingga 2025 terdapat 37 pasien yang tersebar di empat desa, terdiri atas delapan orang di Desa Ganra, tujuh orang di Desa Enrekeng, empat belas orang di Desa Belo, dan delapan orang di Desa Lompulle.

Keberhasilan inovasi ini diukur melalui persentase sambung obat, yaitu kemampuan pasien mempertahankan pengobatan secara berkesinambungan.

Hasilnya menunjukkan perkembangan yang konsisten. Persentase sambung obat meningkat dari 52 persen pada 2022, menjadi 56 persen pada 2023, kemudian 64 persen pada 2024, dan mencapai 76 persen pada 2025.
Bagi Fitriani, angka tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar capaian statistik.

"Setiap kenaikan persentase sambung obat berarti ada lebih banyak pasien yang tetap menjalani pengobatan. Di balik angka itu ada keluarga yang terus mengingatkan, kader yang datang berkunjung, pemerintah desa yang membantu, dan banyak orang yang memilih peduli. Kami percaya pemulihan akan lebih mudah dicapai ketika pasien tidak menghadapi semuanya sendirian," ujarnya.

Ia menambahkan, kesehatan jiwa merupakan urusan bersama. Tenaga kesehatan memiliki pengetahuan medis, tetapi keluarga mengenal kebiasaan pasien, masyarakat mengetahui kondisi lingkungan, dan lintas sektor dapat membantu ketika muncul hambatan yang tidak bisa diselesaikan oleh puskesmas sendiri.

Prinsip itulah yang terus dipertahankan dalam PANDU SIDIK JIWA sejak pertama kali diperkenalkan. Setiap pihak bekerja sesuai perannya, saling berbagi informasi, dan menjaga agar pasien tetap berada dalam pendampingan.

Bagi masyarakat Ganra, pola kerja seperti itu perlahan membangun kebiasaan baru. Pasien tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab satu institusi, melainkan bagian dari warga yang membutuhkan dukungan agar dapat menjalani pengobatan secara teratur.

Empat tahun setelah diperkenalkan, PANDU SIDIK JIWA terus berjalan dengan semangat yang sama. Persentase sambung obat yang meningkat dari tahun ke tahun menjadi catatan dari kerja yang berlangsung setiap hari, melalui percakapan di ruang keluarga, kunjungan ke rumah pasien, koordinasi antarinstansi, dan kepedulian yang tumbuh di tengah masyarakat.




Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM