Breaking News

PSC 119 Soppeng Perkuat Kapasitas Petugas UKS dalam Penanganan Kegawatdaruratan Dengan LAGU TANPA MUSIK


SOPPENG
. Aktivitas di lingkungan sekolah selalu berjalan dinamis. Proses belajar mengajar, olahraga, upacara, hingga kegiatan ekstrakurikuler menyimpan risiko yang tidak dapat diprediksi. Seorang siswa bisa saja pingsan, mimisan, tersedak, mengalami kejang, atau cedera saat beraktivitas. Dalam situasi seperti itu, pertolongan pertama menjadi langkah penting sebelum tenaga medis tiba.

Kondisi tersebut menjadi perhatian A. Fatimah, S.Kep., Ns., M.Kes., saat menjalankan tugas di UPTD Pusat Pelayanan Keselamatan Terpadu (PSC) 119 Kabupaten Soppeng. Pengalaman menerima panggilan dari sejumlah sekolah menunjukkan masih ada petugas Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang belum memiliki bekal keterampilan memadai untuk memberikan pertolongan pertama.
"Kami melihat masih banyak petugas UKS yang memiliki kepedulian tinggi, tetapi belum pernah mendapatkan pelatihan yang terarah. Padahal, respons awal yang tepat dapat membantu menjaga kondisi korban sebelum mendapatkan penanganan medis," ujar A. Fatimah.

Berangkat dari kondisi tersebut, pada tahun 2025 lahirlah inovasi LAGU TANPA MUSIK, akronim dari Latih Petugas UKS Tanggap Tangani Pertolongan Pertama pada Murid/Pelajar di Sekolah. Inovasi ini dirancang untuk memperkuat kemampuan petugas UKS agar mampu melakukan penanganan awal secara cepat, tepat, dan aman ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan di lingkungan sekolah. 
Program ini dikembangkan melalui pelatihan yang memadukan edukasi, demonstrasi, praktik, dan simulasi. Materi disusun berdasarkan berbagai kondisi yang paling sering dijumpai di sekolah sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga terbiasa mengambil tindakan sesuai prosedur ketika menghadapi keadaan darurat. 

Pelaksanaan inovasi diawali dengan identifikasi kebutuhan di sekolah-sekolah wilayah kerja PSC 119 Kecamatan Donri-Donri. Hasil identifikasi tersebut menjadi dasar penyusunan materi, metode pembelajaran, serta tahapan pelaksanaan. Setelah melalui proses perencanaan dan uji coba, implementasi tahap kedua dilaksanakan pada 14 Juli 2026 sebagai bagian dari penguatan program sekaligus penyempurnaan sebelum dikembangkan secara bertahap ke sekolah-sekolah lain di Kabupaten Soppeng. 
Keunggulan inovasi ini terletak pada pendekatan pembelajarannya yang menempatkan peserta sebagai pelaku utama. Setiap materi diikuti dengan praktik dan simulasi sehingga petugas UKS memperoleh pengalaman langsung dalam menghadapi berbagai situasi yang mungkin terjadi di lingkungan sekolah. Pendampingan juga terus dilakukan agar keterampilan yang telah diperoleh tetap terjaga dan dapat diterapkan saat dibutuhkan. 

Keberhasilan inovasi diukur melalui perubahan yang terlihat dalam kesiapan petugas UKS setelah mengikuti pelatihan. Mereka diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pertolongan pertama, mampu melakukan penanganan awal sesuai prosedur, lebih percaya diri ketika menghadapi kondisi darurat, serta membangun koordinasi yang lebih efektif dengan PSC 119 apabila diperlukan penanganan lanjutan.

Berdasarkan laporan UPTD PSC 119 Kabupaten Soppeng, sepanjang tahun 2025 tercatat 3.062 panggilan layanan ambulans. Data tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah, memegang peranan penting dalam mempercepat penanganan kondisi kegawatdaruratan. 

Melalui LAGU TANPA MUSIK, A. Fatimah berharap setiap sekolah memiliki petugas UKS yang siap menjadi garda terdepan dalam memberikan pertolongan pertama. Ketika setiap detik sangat berharga, kesiapan orang yang berada paling dekat dengan korban dapat membantu menjaga keselamatan hingga tenaga medis mengambil alih penanganan. Inovasi ini diharapkan terus berkembang sehingga semakin banyak sekolah di Kabupaten Soppeng yang memiliki budaya tanggap darurat dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman bagi seluruh peserta didik.
Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM