Situasi itu menjadi perhatian Damayanti, AMK, tenaga kesehatan sekaligus inovator di UPTD Puskesmas Ganra, Kabupaten Soppeng. Berangkat dari pengalaman mendampingi masyarakat, ia melihat upaya pengendalian kusta membutuhkan pendekatan yang lebih aktif. Petugas kesehatan tidak cukup menunggu warga datang ke fasilitas pelayanan, tetapi harus hadir lebih dekat untuk menemukan kasus sedini mungkin.
Atas dasar itu, pada 2024 Damayanti mengembangkan PADUKA MESRA, akronim dari Pelacakan Terpadu Keliling Kontak Kusta dan Masyarakat Integrasi Lintas Program. Inovasi ini dirancang untuk memperkuat deteksi dini melalui pelacakan aktif terhadap kontak erat penderita, pemeriksaan kesehatan di lingkungan masyarakat dan sekolah, serta edukasi yang dilaksanakan secara terpadu bersama berbagai program pelayanan di UPTD Puskesmas Ganra.
Pendekatan jemput bola menjadi inti pelaksanaannya. Petugas kesehatan mendatangi rumah warga, menelusuri kontak erat penderita, melakukan skrining di lingkungan masyarakat maupun sekolah, kemudian memberikan penyuluhan kepada keluarga dan warga mengenai gejala awal kusta, cara penularan, serta pentingnya pengobatan sejak dini.
Langkah tersebut dilandasi kenyataan bahwa orang yang tinggal serumah atau memiliki kontak erat dengan penderita memiliki risiko lebih tinggi dibanding masyarakat pada umumnya. Pemeriksaan sejak awal memberi peluang lebih besar untuk menemukan kasus sebelum penyakit berkembang, sehingga penanganan dapat segera dilakukan dan risiko kecacatan dapat ditekan.
Pelaksanaan kegiatan dipadukan dengan berbagai layanan yang telah berjalan di UPTD Puskesmas Ganra. Melalui pola kerja terpadu, setiap kegiatan lapangan dimanfaatkan untuk menjangkau lebih banyak sasaran dalam satu waktu. Masyarakat memperoleh pemeriksaan kesehatan, sementara petugas dapat melakukan pelacakan kontak, memberikan edukasi, sekaligus memperkuat upaya pencegahan.
Sekolah juga menjadi bagian dari sasaran kegiatan. Pemeriksaan kesehatan di lingkungan pendidikan diharapkan memperluas cakupan deteksi dini sekaligus menanamkan pemahaman sejak usia sekolah bahwa kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila ditangani secara tepat. Pengetahuan yang benar diharapkan membantu mengurangi stigma yang masih melekat terhadap penyandang kusta.
Edukasi menjadi bagian penting dalam pendekatan ini. Masih berkembang anggapan bahwa penderita kusta harus dijauhi atau penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan. Persepsi seperti itu sering membuat penderita memilih menyembunyikan kondisinya sehingga kesempatan memperoleh pengobatan lebih awal terlewatkan. Melalui penyuluhan yang dilakukan secara langsung, masyarakat diberikan pemahaman bahwa kusta dapat disembuhkan dan semakin cepat pengobatan dimulai, semakin besar peluang mencegah kecacatan serta menghentikan penularan.
Damayanti menilai keterlibatan keluarga dan masyarakat memegang peranan penting dalam pengendalian kusta. Dukungan dari lingkungan sekitar akan mendorong penderita menjalani pengobatan hingga tuntas, sekaligus memudahkan petugas kesehatan melakukan pelacakan terhadap orang-orang yang pernah melakukan kontak erat.
Strategi pelayanan yang dikembangkan di Puskesmas Ganra juga memperkuat kolaborasi lintas program. Setiap kegiatan lapangan dimanfaatkan untuk menghubungkan berbagai pelayanan kesehatan sehingga jangkauan pelayanan menjadi lebih luas dan pelaksanaannya berlangsung lebih efektif. Pendekatan tersebut sekaligus mendekatkan pelayanan kepada masyarakat tanpa menambah beban kunjungan warga ke fasilitas kesehatan.
Hasilnya mulai terlihat sejak inovasi ini diterapkan. Melalui deteksi dini dan pelacakan aktif, petugas berhasil menemukan penderita yang sebelumnya belum teridentifikasi. Setiap penderita yang ditemukan segera mendapatkan pengobatan sesuai standar, kemudian dilanjutkan dengan pelacakan terhadap kontak erat serta pemberian Terapi Pencegahan Kusta atau kemoprofilaksis kepada kontak yang memenuhi kriteria.
Inovasi ini telah menemukan *enam penderita kusta* di wilayah kerja UPTD Puskesmas Ganra. Seluruh penderita memperoleh penanganan sesuai standar pelayanan, disertai pelacakan kontak dan pemberian kemoprofilaksis sebagai langkah pencegahan untuk memutus mata rantai penularan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pelacakan aktif mampu menjangkau masyarakat yang sebelumnya belum tersentuh pelayanan kesehatan. Semakin cepat penderita ditemukan, semakin cepat pula pengobatan diberikan sehingga risiko penularan dapat ditekan dan peluang terjadinya kecacatan akibat keterlambatan penanganan semakin kecil.
Perubahan juga mulai terlihat dari meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berkonsultasi ketika menemukan bercak atau gejala yang mencurigakan. Edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan membantu membangun pemahaman bahwa pemeriksaan sejak dini merupakan langkah penting untuk melindungi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Bagi Damayanti, keberhasilan pengendalian kusta tidak semata diukur dari jumlah penderita yang ditemukan. Keberanian masyarakat untuk memeriksakan diri, keterlibatan keluarga dalam mendukung pengobatan, serta semakin terbukanya warga menerima edukasi kesehatan menjadi bagian penting dari upaya memutus rantai penularan.
Melalui pendekatan jemput bola, Damayanti berupaya memastikan semakin sedikit warga yang terlambat mengetahui dirinya mengidap kusta dan semakin banyak masyarakat memahami bahwa penyakit tersebut dapat disembuhkan. Langkah itu diharapkan terus memperkuat deteksi dini, menekan risiko penularan, mencegah kecacatan, serta mendukung upaya eliminasi kusta di wilayah kerja UPTD Puskesmas Ganra.
0 Komentar