Breaking News

Anak Tak Takut Lagi Jalani Fisioterapi, RSUD La Temmamala Siapkan Ruang Khusus

SOPPENG — Anak yang menjalani fisioterapi membutuhkan suasana yang berbeda. Ruangan yang penuh, antrean panjang, serta bercampur dengan pasien dewasa bisa membuat anak rewel, bosan menunggu, menangis hingga takut berhadapan dengan orang yang belum dikenalnya.

Kondisi itu pernah menjadi bagian dari pelayanan fisioterapi anak di UPTD RSUD La Temmamala Soppeng.

Persoalan tersebut semakin terasa ketika jumlah kunjungan anak yang mendapatkan pelayanan fisioterapi meningkat. Data rekam medik rumah sakit mencatat, pada 2021 terdapat 84 kunjungan pasien anak yang mendapat pelayanan fisioterapi. Setahun kemudian jumlahnya meningkat menjadi 215 kunjungan.

Bagi pelayanan fisioterapi, peningkatan itu sekaligus menunjukkan perlunya cara pelayanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak.

Dari kondisi tersebut lahir inovasi SAYANG USIA & AKSI KASIH, singkatan dari Usaha Peningkatan Pelayanan Fisioterapi Dengan Ruang Khusus Fisioterapi Anak & Media Komunikasi Keluarga Pasien Anak.

Gagasan ini menghadirkan ruang khusus bagi pasien anak sehingga mereka tidak lagi bercampur dengan pasien fisioterapi dewasa. Anak juga tidak mengikuti antrean pelayanan seperti sebelumnya.

Ruang tersebut dirancang dengan suasana yang lebih ramah anak. Selain alat terapi, tersedia pula sarana latihan dan permainan edukatif. Terapi pun dapat dilakukan sambil bermain agar anak lebih nyaman dan kooperatif selama sesi berlangsung.

Gagasan ini lahir dari Andi Farah Dinarni, S.Pd., S.St.Ft., fisioterapis RSUD La Temmamala Soppeng. Ia melihat kebutuhan pelayanan fisioterapi anak yang tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan pasien dewasa.

Perannya tercermin dalam gagasan peningkatan pelayanan yang tidak hanya memindahkan terapi anak ke ruangan khusus, tetapi juga memasukkan unsur komunikasi dengan keluarga pasien.

Setelah menjalani sesi terapi, keluarga pasien anak dapat bergabung dalam WhatsApp Group Media Komunikasi Keluarga Pasien Anak. Melalui media itu, keluarga dapat berkonsultasi mengenai perkembangan kondisi anak dengan petugas fisioterapis, termasuk di luar jam pelayanan terapi.

Keluarga juga tidak ditempatkan hanya sebagai pendamping. Dalam konsep family centered care, orang tua atau anggota keluarga dilibatkan dalam proses terapi. Latihan yang diberikan dapat dilanjutkan di rumah sehingga proses terapi tidak berhenti ketika anak meninggalkan rumah sakit.

Pelaksanaan inovasi ini melibatkan sejumlah profesi, mulai dari dokter spesialis anak, dokter spesialis rehabilitasi medik, fisioterapis, perawat hingga tenaga administrasi. Pasien dan keluarga juga menjadi bagian dari pelaksanaannya.

SAYANG USIA & AKSI KASIH mulai diuji coba pada 2 Agustus 2022 dan diterapkan sebagai inovasi daerah pada 2 Agustus 2023. Tolok ukurnya antara lain peningkatan kunjungan pasien anak, perbaikan tumbuh kembang serta kepuasan keluarga pasien anak.

Bagi RSUD La Temmamala, inovasi ini diarahkan untuk membuat pelayanan fisioterapi anak lebih nyaman sekaligus memberi ruang lebih besar kepada keluarga untuk ikut memahami dan melanjutkan proses terapi anak di rumah.

Andi Farah Dinarni tercatat sebagai inovator yang menggagas SAYANG USIA & AKSI KASIH, sebuah pendekatan pelayanan yang menempatkan kebutuhan anak dan keterlibatan keluarga sebagai bagian dari proses fisioterapi.
Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM