Breaking News

Dewan Kerja, Masihkah Jadi Wadah Pembinaan Kepemimpinan Kwartir?

Oleh:
Musdar Asman
(Purna Dewan Kerja)

Kalau ada yang bertanya, “Dewan Kerja itu sebenarnya dibentuk untuk apa?”, jangan buru-buru menjawab, “Ya… buat ngurus Raimuna, Perkemahan Bakti, rapat, atau jadi panitia kegiatan kwartir.”

Kalau itu jawabannya, mungkin sudah waktunya kita buka lagi lembaran aturan Gerakan Pramuka.

Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, kemudian diperjelas dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka, serta berbagai Petunjuk Penyelenggaraan tentang Dewan Kerja, ditegaskan bahwa Dewan Kerja adalah wadah pembinaan, pengembangan, dan kaderisasi kepemimpinan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega di tingkat kwartir. 

Filosofinya sederhana tetapi besar maknanya: Dewan Kerja dipersiapkan menjadi ruang belajar memimpin organisasi, memahami tata kelola kwartir, mengelola dinamika organisasi, hingga melahirkan calon-calon pemimpin Gerakan Pramuka di masa depan.

Bahasa sederhananya, Dewan Kerja bukan tempat belajar menjadi panitia. Dewan Kerja adalah tempat belajar menjadi pemimpin.

Minimal… begitu cita-citanya.

Kalau kita melihat perjalanan Dewan Kerja dari masa ke masa, tidak ada yang berubah dari sisi eksistensi. Di semua tingkatan kwartir, Dewan Kerja selalu ada. Masa bakti selesai, Musppanitera digelar, pengurus berganti, lalu lahir generasi berikutnya. Dinamikanya terus berjalan.

Tetapi pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah Dewan Kerja masih ada.

Melainkan, apakah Dewan Kerja hari ini masih berjalan sesuai patron yang diinginkan para pencetusnya?

Atau jangan-jangan kita hanya berhasil mempertahankan bentuk organisasinya, tetapi perlahan kehilangan ruh pembinaannya.

Kalau boleh sedikit usil, coba kita lihat bagaimana Dewan Kerja dipersepsikan hari ini.

Kalau ada kegiatan, Dewan Kerja.

Kalau ada perkemahan, Dewan Kerja.

Kalau ada tamu datang, Dewan Kerja.

Kalau perlengkapan kurang, Dewan Kerja.

Kalau konsumsi terlambat, Dewan Kerja.

Lama-lama muncul pertanyaan yang agak nyeleneh, tetapi serius.

Ini Dewan Kerja atau Sangga Kerja?

Padahal dalam sistem kaderisasi Gerakan Pramuka, Sangga Kerja seharusnya menjadi ruang belajar sebelum seseorang dipercaya menjadi Dewan Kerja. Sangga Kerja adalah laboratorium kader. Tempat seseorang belajar bertanggung jawab, belajar bekerja, dan belajar organisasi sebelum akhirnya naik ke jenjang kaderisasi berikutnya.

Yang terjadi sekarang di banyak tempat justru terasa terbalik. Dewan Kerja ikut larut menjadi pelaksana teknis. Sibuk mengurus hal-hal operasional yang sebenarnya dapat dikerjakan oleh Sangga Kerja. Akibatnya, ruang untuk berpikir strategis, berdiskusi tentang arah organisasi, memahami regulasi, dan menempa kepemimpinan semakin menyempit.

Kalau boleh memakai istilah yang agak ekstrem, jangan-jangan Dewan Kerja sedang mengalami downgrade. Dari ruang kaderisasi kepemimpinan menjadi “Sangga Kerja dengan seragam yang berbeda.”

Padahal cita-cita besarnya jauh lebih tinggi.

Kalau Dewan Kerja memang menjadi wadah kaderisasi kepemimpinan kwartir, maka semestinya ada mata rantai yang berjalan secara alamiah. Seseorang selesai mengabdi di Dewan Kerja, lalu melanjutkan pengabdiannya sebagai pengurus kwartir.

Bahkan beberapa posisi strategis semestinya secara alamiah banyak diisi oleh para purna Dewan Kerja. Misalnya Wakil Ketua Bidang Bina Muda atau bidang-bidang lain yang erat kaitannya dengan pembinaan peserta didik. Mereka sudah ditempa bertahun-tahun. Mereka memahami karakter Penegak dan Pandega. Mereka memahami proses pembinaan. Mereka pernah merasakan dinamika organisasi dari dalam.

Lalu kalau faktanya hari ini posisi-posisi itu justru lebih banyak diisi oleh mereka yang bukan purna Dewan Kerja, pertanyaannya bukan siapa yang salah.

Tetapi, apakah proses kaderisasi yang kita bangun selama ini benar-benar efektif melahirkan pemimpin kwartir?

Atau jangan-jangan kita memang belum selesai membina.

Namun refleksi ini juga harus jujur diarahkan kepada kita sendiri.

Kita, para purna Dewan Kerja, juga perlu bercermin.

Apakah memang kita tidak pernah diberi ruang?

Atau ruang itu sebenarnya ada, tetapi kita yang memilih sibuk dengan profesi masing-masing?

Atau jangan-jangan setelah memakai jas purna, kita merasa masa pengabdian juga ikut selesai.

Kalau demikian, masalahnya bukan lagi hanya pada sistem, tetapi juga pada pilihan kita sendiri.

Karena sejatinya menjadi purna bukan berarti pensiun dari Gerakan Pramuka. Justru seharusnya di situlah pengabdian memasuki babak yang lebih besar.

Yang menarik, kalau kita melihat para purna Dewan Kerja hari ini, sesungguhnya mereka bukan orang-orang biasa. Mereka tersebar di berbagai profesi. Ada yang menjadi dosen, guru, ASN, pengusaha, advokat, konsultan, aktivis sosial, hingga pemimpin di berbagai lembaga. Mereka memiliki kapasitas, jejaring, pengalaman, bahkan sumber daya yang luar biasa.

Persoalannya bukan lagi soal mampu atau tidak mampu.

Persoalannya adalah apakah semua potensi itu masih merasa memiliki tanggung jawab yang sama untuk memperkuat Gerakan Pramuka.

Karena organisasi sebesar Gerakan Pramuka tidak akan pernah kuat hanya karena pengurus yang sedang menjabat. Ia menjadi kuat ketika para kader lintas generasi tetap saling menguatkan.

Ada satu lagi yang rasanya tidak boleh luput dari refleksi ini, yaitu peran Dewan Kerja Nasional.

Kalau Dewan Kerja di kwartir cabang atau daerah masih bisa dimaklumi apabila sebagian besar energinya terserap untuk aktivitas pembinaan dan pelaksanaan kegiatan, maka Dewan Kerja Nasional seharusnya memiliki posisi yang berbeda. Dewan Kerja Nasional bukan sekadar Dewan Kerja dengan wilayah yang lebih luas. Ia adalah tingkatan yang memiliki ruang untuk memformulasikan kebijakan, menyusun regulasi internal Dewan Kerja, sekaligus memastikan sistem kaderisasi berjalan sebagaimana mestinya di seluruh Indonesia.

Artinya, Dewan Kerja Nasional tidak cukup hanya dikenal karena sukses menyelenggarakan kegiatan-kegiatan nasional. Tentu itu penting. Namun, jauh lebih penting adalah bagaimana Dewan Kerja Nasional mampu memosisikan diri sebagai pengawal regulasi, perumus kebijakan, sekaligus penjamin arah kaderisasi Dewan Kerja di semua tingkatan kwartir.

Jangan sampai energi terbesar justru habis mengurus kegiatan teknis, sementara regulasi berjalan sendiri-sendiri, pola pembinaan berbeda-beda di setiap daerah, dan filosofi Dewan Kerja perlahan mulai ditafsirkan sesuai selera masing-masing.

Kalau itu yang terjadi, Dewan Kerja Nasional sedang sibuk mengurus hari ini, tetapi lupa menyiapkan masa depan.

Mungkin sudah waktunya Dewan Kerja Nasional lebih banyak menjadi ruang berpikir daripada sekadar ruang bekerja. Lebih banyak melahirkan gagasan daripada hanya melahirkan kepanitiaan. Karena kegiatan pasti selesai ketika penutupan dilaksanakan, tetapi regulasi yang baik akan terus hidup dan menjaga arah kaderisasi untuk generasi berikutnya.

Pada akhirnya, pertanyaan di awal tulisan ini tetap menarik untuk kita renungkan.

Masihkah Dewan Kerja menjadi wadah pembinaan kepemimpinan kwartir?

Saya sengaja tidak menjawabnya.

Karena mungkin jawabannya berbeda di setiap kwartir.

Tetapi satu hal yang saya yakini, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang paling banyak membuat kegiatan. Organisasi yang besar adalah organisasi yang mampu menyiapkan pemimpin-pemimpin berikutnya.

Kalau Dewan Kerja hanya sibuk menjadi pelaksana kegiatan, maka kita sedang menghasilkan panitia yang hebat.

Tetapi kalau Dewan Kerja kembali pada ruhnya sebagai ruang kaderisasi kepemimpinan, maka kita sedang menyiapkan masa depan Gerakan Pramuka.

Dan menurut saya, masa depan jauh lebih penting daripada sekadar suksesnya sebuah kegiatan.

Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM