Pemandangan seperti itu berlangsung berulang. Pasien dari kecamatan yang jauh rela berangkat tengah malam. Lansia datang ditemani anak atau cucunya. Sebagian memilih tidak tidur daripada kehilangan kesempatan memperoleh nomor antrean lebih awal. Ketika loket dibuka, antrean panjang sudah terbentuk.
Keadaan tersebut menarik perhatian dr. Hj. Sitti Mudirusniah, M.Kes., Sp.KJ. Dalam kesehariannya memimpin RSUD La Temmamala, ia melihat persoalan itu terus berulang. Kesulitan yang dihadapi pasien ternyata bukan hanya saat menjalani pemeriksaan atau tindakan medis, melainkan sudah dimulai ketika mereka berusaha memperoleh nomor antrean.
Pada penghujung 2021, gagasan itu mulai diperkenalkan sebagai inovasi di RSUD La Temmamala. Inovasi tersebut diberi nama DARAH RAJA, singkatan dari Pendaftaran Jarak Jauh, dengan tujuan mengubah pola pendaftaran agar pasien tidak lagi harus datang sejak tengah malam hanya untuk mendapatkan nomor antrean.
Ada satu pertanyaan yang terus mengusik pikirannya. Mengapa pasien harus datang sejak tengah malam hanya untuk memperoleh nomor antrean? Mengapa kepastian dilayani baru diperoleh setelah mereka menghabiskan waktu berjam-jam di rumah sakit?
Dari pertanyaan itulah lahir alur pendaftaran yang baru. Pasien dapat mendaftar dari jarak jauh dan memperoleh nomor antrean sebelum berangkat ke rumah sakit. Kedatangan pasien pun menjadi lebih teratur karena mereka sudah memiliki kepastian jadwal.
Dampaknya segera terlihat di loket pendaftaran. Penumpukan pasien berangsur berkurang. Arus kedatangan lebih tertata. Petugas dapat memverifikasi data dengan lebih leluasa karena antrean tidak lagi terkonsentrasi pada satu waktu.
Manfaatnya langsung dirasakan pasien. Mereka tidak lagi harus meninggalkan rumah pada tengah malam demi mengejar nomor antrean. Warga yang tinggal jauh dapat mengatur waktu keberangkatan dengan lebih baik. Lansia dan pasien yang memiliki keterbatasan mobilitas juga tidak lagi menghadapi antrean panjang sejak dini hari.
Pola kerja di lingkungan rumah sakit ikut berubah. Administrasi berjalan lebih tertib. Pengelolaan antrean lebih mudah dikendalikan. Waktu tunggu di loket berkurang sehingga petugas dapat lebih fokus melayani pasien.
Bagi dr. Hj. Sitti Mudirusniah, antrean panjang bukan persoalan yang bisa dianggap biasa. Pengalaman pasien dimulai sejak mereka mengakses rumah sakit. Karena itu, pembenahan harus dilakukan dari titik pertama yang mereka hadapi, yakni proses pendaftaran.
Dari cara pandang itulah DARAH RAJA dikembangkan. Sistem ini disusun untuk memudahkan masyarakat memperoleh akses layanan sejak tahap pendaftaran sekaligus membantu rumah sakit mengatur arus kedatangan pasien.
Gagasan ini berawal dari persoalan yang setiap hari terlihat di loket pendaftaran. Jalan keluarnya pun tidak rumit. Yang diubah adalah cara pasien memperoleh nomor antrean sebelum datang ke rumah sakit. Dampaknya kemudian dirasakan bersama, baik oleh masyarakat maupun petugas.
Kini, pemandangan pasien yang datang sejak tengah malam perlahan menjadi bagian dari cerita masa lalu. Masyarakat telah memiliki kepastian nomor antrean sebelum berangkat ke rumah sakit. Loket pendaftaran lebih tertib. Waktu tunggu berkurang. Petugas dapat bekerja dengan alur yang lebih teratur.
Bagi dr. Hj. Sitti Mudirusniah, itulah tujuan DARAH RAJA sejak pertama kali diperkenalkan pada penghujung 2021: membuat masyarakat datang ke rumah sakit untuk berobat, bukan untuk mengantre.
0 Komentar