Catatan Redaksi erabrita.com
Jauh sebelum Taptu dikenal sebagai pawai obor menjelang 17 Agustus, tradisi ini telah hidup dalam lingkungan militer di Hindia Belanda.
Salah satu jejaknya terlihat di Batavia pada 1859. Surat kabar Java-Bode edisi Januari tahun itu memberitakan rencana Batalyon Infanteri ke-10 menggelar taptoe pada malam hari dengan penerangan obor. Kegiatan tersebut bahkan dilanjutkan dengan pertunjukan kembang api.
Catatan ini menarik karena menunjukkan bahwa obor sudah menjadi bagian dari kegiatan taptoe di Hindia Belanda sejak abad ke-19. Artinya, pawai dengan membawa obor bukan bentuk yang baru muncul setelah Indonesia merdeka.
Memasuki awal abad ke-20, istilah taptoe semakin lekat dengan kehidupan militer Hindia Belanda. Pada 1904, A. Prell menerbitkan buku Taptoe! Herinneringen van oud-soldaten en invaliden van het Indische leger te Bronbeek. Buku setebal hampir 200 halaman itu berisi kenangan para mantan prajurit dan penyandang cacat perang dari Indische Leger yang tinggal di Bronbeek.
Keberadaan buku tersebut menunjukkan bahwa istilah taptoe bukan sesuatu yang asing bagi lingkungan tentara pada masa itu. Ia telah menjadi bagian dari kosakata sekaligus pengalaman kehidupan militer di Hindia Belanda.
Jejak lainnya muncul di lingkungan Angkatan Laut.
Dalam memoarnya, Gubernur Jenderal Hindia Belanda B.C. de Jonge mencatat pengalamannya mendengarkan marine-taptoe di Surabaya. Pada 1932, ia menulis tentang musik taptoe yang dimainkan korps musik Angkatan Laut dalam suasana malam tropis, diterangi cahaya obor.
Setahun kemudian, ketika kembali berada di Surabaya, ia kembali mendengar marine-taptoe. Menurut catatannya, suasana pertunjukan terasa lebih menarik ketika dimainkan tengah malam dengan cahaya obor.
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa pada dekade 1930-an, taptoe telah menjadi bagian dari kegiatan seremonial militer di Hindia Belanda. Tradisi itu tidak hanya dikenal di lingkungan pasukan darat, tetapi juga Angkatan Laut.
Dari berbagai catatan tersebut terlihat satu hal penting: Taptu yang dikenal sekarang memiliki akar yang jauh lebih tua daripada Republik Indonesia.
Nama dan bentuk kegiatannya memang mengalami perubahan. Namun, unsur dasarnya—malam hari, barisan, musik militer dan cahaya obor—sudah dapat ditemukan dalam kegiatan militer di Hindia Belanda sejak abad ke-19.
Setelah Indonesia merdeka, tradisi tersebut tidak serta-merta hilang. Ia justru masuk ke lingkungan militer Republik dan kemudian memperoleh konteks baru dalam berbagai peringatan nasional.
Jejak berikutnya membawa kita ke Jakarta pada 1952. Dalam dokumentasi arsip pertahanan dan keamanan era Presiden Soekarno, Taptu atau defile tercatat sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan. Kegiatan tersebut disaksikan Wali Kota Jakarta dan diikuti unsur TNI, polisi serta pelajar.
Dari sinilah perjalanan Taptu di Indonesia memasuki babak baru: dari tradisi kemiliteran menjadi bagian dari upacara dan peringatan nasional.
Kini, setiap 16 Agustus malam, sejumlah daerah di Indonesia menggelar Taptu dan pawai obor sebagai salah satu rangkaian menjelang upacara peringatan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus.
Taptu merupakan istilah yang berasal dari lingkungan militer. Dalam sejumlah sumber pemerintah daerah, Taptu disebut sebagai singkatan dari “Penetapan Waktu”, yang berkaitan dengan tradisi kedinasan untuk menandai waktu dan kesiapan pasukan.
Dalam perkembangannya, Taptu menjadi bagian dari kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan. Pesertanya pun tidak lagi terbatas pada unsur militer. TNI, Polri, ASN, pelajar, Pramuka, organisasi masyarakat dan berbagai kelompok masyarakat lainnya kerap ikut ambil bagian.
Yang paling mudah dikenali dari Taptu adalah pawai obor. Peserta berjalan kaki membawa obor menyusuri rute yang telah ditentukan. Biasanya kegiatan diawali dengan apel atau upacara pelepasan.
Pawai obor kemudian memperoleh makna yang lebih luas. Cahaya obor dipandang sebagai simbol penghormatan kepada para pejuang sekaligus pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan dan pengorbanan.
Taptu juga memiliki suasana yang berbeda dari kegiatan HUT Kemerdekaan pada siang hari. Pawai berlangsung pada malam 16 Agustus, ketika suasana kota mulai sepi. Deretan obor yang dibawa peserta menjadi pemandangan khas menjelang peringatan 17 Agustus.
Tidak ada catatan yang cukup kuat untuk memastikan kapan tepatnya Taptu pertama kali dilaksanakan di Indonesia. Namun, jejak sejarah menunjukkan bahwa tradisi ini telah lama dikenal dalam lingkungan militer dan kemudian memperoleh bentuk serta makna baru dalam rangkaian peringatan kemerdekaan di berbagai daerah.
Karena itu, Taptu bukan sekadar pawai malam dengan membawa obor. Di balik barisan peserta, irama musik dan cahaya yang bergerak di tengah malam, terdapat jejak tradisi militer yang telah berlangsung lebih dari satu abad dan terus diwariskan dalam suasana peringatan kemerdekaan Indonesia.
0 Komentar