Breaking News

Suara yang Menjaga Khidmat Detik Detik Proklamasi di Lapangan Gasis Soppeng


Ada upacara yang berjalan sesuai protokol, dan ada upacara yang benar-benar terasa. Yang membedakan keduanya, kerap kali, bukan seremoni atau tata urutan acara, melainkan suara. 

Sebab tanpa paduan suara, sebuah upacara bendera bisa saja tetap khidmat secara prosedur, namun kehilangan getaran nilai-nilai patriotisme dan gema perjuangan yang seharusnya merasuk ke dada, tinggal menjadi rutinitas tahunan yang berlalu begitu saja.

Di situlah paduan suara menemukan maknanya yang sesungguhnya. Tak sebatas pengiring lagu kebangsaan, melainkan jembatan batin yang menyatukan masa kini dengan masa silam, menghubungkan mereka yang berdiri tegak di lapangan upacara dengan para pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan yang kini dinikmati.

Di Lapangan Gasis, Watansoppeng (17/8/2026), detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tengah diperingati. Saat sang Merah Putih perlahan merambat naik menyusuri tiang, dan lagu Indonesia Raya mengalun merdu memenuhi udara, seketika ingatan kolektif hadirin seakan ditarik mundur pada kisah perjuangan yang dahulu hanya dibaca dari buku sejarah, kini terasa begitu dekat, seolah hadir dan berdiri tepat di depan mata.

Suara yang menyertai momen sakral itu datang dari Tim Paduan Suara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng. Bukan penyanyi profesional yang biasa tampil di panggung megah, mereka adalah para guru dan pendidik dari berbagai penjuru Soppeng, pengajar TK, SD, hingga SMP, yang untuk sesaat menanggalkan peran di ruang kelas, lalu menyatukan suara demi satu tujuan yang sama, menghidupkan kembali rasa haru dan kebanggaan sebagai bangsa yang merdeka.

Yang menarik, tim ini bukan kumpulan orang-orang yang kebetulan berkumpul dari satu sekolah atau satu kecamatan saja. Mereka datang dari SD Negeri 167 Togigi, hingga SD Negeri 234 Watu, TK Asoka Akkampeng, TK Bustanul Atfhal Jerae, hingga SMP Pergis Ganra. 

Guru-guru ini, yang sehari-hari mendidik anak-anak membaca dan berhitung, rela menempuh jarak dan meluangkan waktu di luar jam mengajar demi satu latihan bersama, satu harmoni yang harus utuh saat hari-H tiba. Tidak ada jarak jenjang pendidikan di antara mereka, pengajar TK berdiri sejajar dengan guru SMP, semuanya melebur dalam satu barisan suara.

Proses menuju panggung upacara itu sendiri bukan perkara sederhana. Latihan demi latihan digelar untuk menyelaraskan tempo, artikulasi, dan dinamika suara puluhan orang menjadi satu kesatuan yang utuh, sebuah kerja kolektif yang menuntut kesabaran, di tengah kesibukan masing-masing sebagai pendidik. 

Enam pelatih yang ditunjuk, yakni Hasanuddin, Mas'ati, Andi Rosmini, Nurhani Latif, Irwan, dan Sitti Nurbaya, memikul tanggung jawab untuk memastikan setiap suara menyatu tepat pada momentumnya yaitu saat bendera mencapai puncak tiang, saat lagu kebangsaan menyentuh nada tertingginya, saat seluruh lapangan menahan napas dalam diam yang khidmat.

Dan ketika momen itu akhirnya tiba, kerja keras di balik layar itu seolah lenyap, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar teknis olah vokal. Yang tersisa hanyalah rasa dan getar haru yang menjalar ke setiap dada yang hadir di Lapangan Gasis pagi itu, bukti bahwa kemerdekaan tidak hanya tanggal di kalender, melainkan sesuatu yang terus dirayakan, dijaga, dan dihidupkan kembali oleh mereka yang mau menyumbangkan suaranya, sekecil apa pun peran itu tampak dari luar.

Di balik lantang dan syahdunya Indonesia Raya dan lagu lagu perjuangan yang menggema pagi itu, ada nama-nama berikut yang layak dicatat:

Pelatih:
1. Hasanuddin — SD Negeri 167 Togigi
2. Mas'ati — SD Negeri 244 Lawo
3. Andi Rosmini — SD Negeri 26 Tinco
4. Nurhani Latif — SD Negeri 22 Jerae
5. Irwan — SD Negeri 7 Salotungo
6. Sitti Nurbaya — TK Bustanul Atfhal Jerae

Penyanyi:
7. Asrianto — SD Negeri 5 Mattiropole
8. Falmunadi — SD Negeri 3 Lemba
9. Muh. Arfan Mubarak — SD Negeri 86 Lajoa
10. Musdalifah — TK Asoka Akkampeng
11. Adi Kurniawan — SD Negeri 17 Bila
12. Vivi Kasvita — SD Negeri 203 Lamalampe
13. Tasbir — SD Negeri 142 Langkemme
14. Nurlina Talib — SD Negeri 39 Sering
15. Nur Alim — SD Negeri 237 Aletellue
16. Hermawan Wirajaya — SMP Negeri 1 Watansoppeng
17. Andi Eka Purnamasari — SD Negeri 22 Jerae
18. Pradipta Dwi Putera — SD Negeri 5 Mattiropole
19. Muh. Irfan Kadir — SMP Perguruan Islam Ganra
20. Sumarni — SD Negeri 3 Lemba
21. Muh. Faisal — SD Negeri 14 Pangempange
22. A. Rahmayuddin — SD Negeri 3 Lemba
23. Nevi Karisma David — SD Negeri 26 Tinco
24. Sri Wahyuni — SD Negeri 39 Sering
25. Ermansyah — SD Negeri 82 Mannagae
26. Hasnaeni — SD Negeri 238 Laempa
27. Fitra Kusumasari — SMP Negeri 3 Watansoppeng
28. A. Fadliah — SMP Negeri 2 Marioriawa
29. Kamas Udi — SD Negeri 237 Aletellue
30. Defita Ikragvierasari — SD Negeri 238 Laempa
31. Ernawati — SD Negeri 211 Attang Benteng
32. Alfasana Nur — SD Negeri 211 Attang Benteng
33. Arni — SD Negeri 244 Lawo
34. Hamsal — SD Negeri 240 Walemping
35. Sri Rahmawati — SMP Negeri 1 Watansoppeng
36. Yuli Sri Wahyuningsih — SD Negeri 22 Jerae
37. Nirwana Mustamin — SD Negeri 17 Bila
38. Muhammad Aqdam — SMP Negeri 1 Watansoppeng
39. Mario Mandala Ridwan — SMP Negeri 1 Marioriwawo
40. Eva Trijuwita — SMP Negeri 1 Liliriaja
41. Erny Lisah — SMP Negeri 1 Watansoppeng
42. Eros Susanto — SD Negeri 140 Masumpu
43. Rosnaeni — SD Negeri 252 Patiroi
44. Sulastri Almida — SD Negeri 234 Watu
45. Harmadinayanti — SMP Negeri 2 Lilirilau
46. Muhammad Ilham — SD Negeri 1 Lamappoloware
47. Sulfikar — SD Negeri 5 Mattiropole
48. Nursalma Nur — SMP Negeri 1 Watansoppeng
49. Vivi Elvirasari — SD Negeri 103 Cabenge
50. Nurul Gusfirnindya — TK Teratai Soppeng
51. Sri Eka Puteri — SD Negeri 250 Bulu
52. Sismawati — TK Negeri Samaturue Salotungo
53. Nova Agusryana Syarif — SMP Pergis Ganra

Lima puluh tiga nama itu barangkali tidak akan diingat satu per satu oleh mereka yang berdiri khidmat di Lapangan Gasis pagi itu. Namun suara yang mereka rangkai bersama sudah cukup untuk melakukan tugasnya telah menembus batas panggung, menyentuh dada setiap orang yang hadir, dan untuk beberapa menit yang singkat, menghidupkan kembali semangat 17 Agustus 1945 seolah baru terjadi kemarin. 

Di situlah letak jasa sesungguhnya dari para guru penyanyi ini, bukan pada tepuk tangan yang mereka terima, sebab boleh jadi tidak ada, melainkan pada getar yang mereka tinggalkan di hati setiap orang yang mendengarnya.

Dan mungkin, itulah salah satu wujud paling sederhana dari cinta tanah air, bukan seremoni megah, melainkan sekelompok guru yang mau meluangkan waktu, menyisihkan suara, dan berdiri bersama demi satu lagu yang sama yakni Indonesia Raya, yang kembali bergema dengan khidmat di Soppeng, delapan puluh satu tahun setelah kemerdekaan itu diproklamasikan.


Baca Juga

1 Komentar

  1. Terima Kasih Banyak Pung Publikasinya, Insya Allah Kami Paduan Suara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng Akan Memberikan Yang Terbaik Untuk Soppeng Tercinta

    BalasHapus

© Copyright 2022 - ERABRITA.COM