Kehadiran alat tersebut menjawab kebutuhan layanan diagnosis cepat bagi masyarakat, khususnya untuk penanganan kasus-kasus kritis seperti cedera kepala, infeksi, dan deteksi dini tumor, tanpa harus dirujuk ke luar daerah.
Plt. Wakil Direktur RSUD Latemmamala, Amrullah, mengatakan pengadaan CT Scan berawal dari tingginya angka rujukan pasien ke Makassar akibat keterbatasan fasilitas sebelumnya.
“Alat yang ada sebelumnya sudah tidak berfungsi optimal, sementara pengadaan mandiri melalui APBD membutuhkan biaya yang sangat besar,” ujarnya.
Menurut Amrullah, kondisi tersebut menjadi perhatian serius Bupati Soppeng, Suwardi Haseng, yang kemudian menginstruksikan jajaran rumah sakit dan Dinas Kesehatan untuk mengupayakan dukungan anggaran dari pemerintah pusat.
Melalui program SIHREN, RSUD Latemmamala harus bersaing dengan sejumlah rumah sakit lain di Indonesia. Di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, hanya sekitar 7 hingga 9 rumah sakit yang dinilai memenuhi kualifikasi.
Persyaratan yang ditetapkan meliputi kesiapan infrastruktur dengan standar teknis tertentu, ketersediaan tenaga medis yang kompeten, serta rencana pemeliharaan alat secara berkelanjutan.
“Seluruh persyaratan tersebut dapat dipenuhi dengan dukungan penuh pemerintah daerah, termasuk penyampaian data rujukan pasien yang menunjukkan tingginya kebutuhan layanan CT Scan di Soppeng,” jelasnya.
Dengan mulai beroperasinya CT Scan tersebut, RSUD Latemmamala diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan kesehatan sekaligus memperkuat posisinya sebagai rumah sakit rujukan di wilayah Jazirah Tengah Sulawesi Selatan.
Langkah ini juga mencerminkan upaya pemerintah daerah dalam mengatasi keterbatasan fasilitas kesehatan melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat.
Di tengah keterbatasan anggaran daerah, pendekatan proaktif dalam mengakses program nasional menjadi salah satu strategi untuk memperluas akses layanan kesehatan yang lebih cepat dan tepat bagi masyarakat.
0 Komentar