Catatan Redaksi:
Malam Minggu 2 Mei 2026, di Lapangan Gasis Soppeng, belum ada yang benar-benar dimulai. Masih test sound. Persiapan acara FKPPI Fun Run besoknya. Orang-orang kumpul tanpa susunan acara yang jelas, ada yang duduk di pinggir, ada yang berdiri dekat panggung.
Di atas panggung, beberapa anggota FKPPI nyanyi-nyanyi. Suara ya begitu saja. Tidak perlu juga jadi penyanyi untuk menikmati malam.
Di situ saya lihat Lurah Botto, H. Munadir, S.Sos. Ikut naik. Ikut pegang mic. Ikut nyanyi. Kalau soal suara, paspasan saja, bukan itu yang menarik. Tapi cara dia ada di situ, itu yang beda. Tidak ada jarak yang terasa. Tidak ada sikap “ini lurah, itu warga”. Dia masuk saja. Ngobrol ke siapa saja. Ketawa lepas. Duduk kalau capek, berdiri lagi kalau dipanggil naik.
Seolah-olah memang tidak ada peran yang sedang dijaga. Awalnya terasa biasa saja. Tapi makin lama dilihat, ini bukan hal yang terlalu sering.
Karena jujur saja, tidak semua pejabat nyaman berada di situasi seperti itu. Banyak yang tetap butuh batas. Tetap ada garis tipis yang dijaga, meskipun tidak diucapkan.
Di sini, garis itu seperti tidak terlalu terlihat. Di titik itu saya jadi teringat satu istilah dalam ilmu pemerintahan yaitu proximity governance.
Bahasanya memang terdengar berat. Tapi intinya sederhana, pemerintahan yang bekerja dari kedekatan. Bukan hanya dekat secara posisi, tapi juga secara rasa. Hadir, mendengar, dan tidak selalu berjarak.
Tentu, satu malam tidak cukup untuk menilai keseluruhan cara kerja seorang lurah. Bisa saja ini sekadar kebiasaan personal, atau memang bagian dari gaya masing-masing.
Tapi yang menarik, cara seperti ini tidak selalu mudah ditemukan. Karena kedekatan yang benar-benar terasa biasanya tidak dibuat-buat. Tidak dipoles. Tidak hadir hanya pada momen tertentu. Dan yang seperti itu, cepat atau lambat akan terbaca oleh warga.
Mungkin Lurah Botto sendiri tidak pernah menyebut apa yang dia lakukan sebagai proximity governance. Bisa jadi malah tidak pernah memikirkan itu sama sekali. Dia cuma datang, berbaur, dan menjadi bagian.
Dan mungkin, justru di situ letaknya.
Bahwa di tengah banyaknya cara pemerintah tampil di hadapan masyarakat, ada juga pendekatan yang berjalan lebih sederhana, tidak menonjol, tapi terasa.
Malam itu tidak ada yang luar biasa.
Tapi dari cara seorang lurah ikut bernyanyi dengan suara seadanya, kita diingatkan pada satu hal kecil, kadang kedekatan bukan sesuatu yang harus ditunjukkan, tapi cukup dijalani.
0 Komentar