Pagi di Desa Umpungeng selalu datang dengan cara yang tenang. Kabut tipis turun perlahan di antara perbukitan, udara dingin menyapa tanpa perlu diundang. Di ketinggian 700–800 mdpl, bahkan menanjak hingga 1.050–1.150 mdpl di wilayah Bulu Lameong dan Coppoleang
Jaraknya tak jauh, hanya sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Jalan beton yang mulus membuat perjalanan terasa ringan. Tapi sesampainya di sana, suasananya langsung berubah: lebih hening, lebih segar, dan entah kenapa, terasa lebih “hidup”.
Ia tidak datang dengan konsep besar atau jargon pariwisata yang rumit. Cara yang ia pilih justru sederhana: mengajak orang datang, melihat, dan merasakan sendiri.
Di Umpungeng, pilihan lokasi camping ground bukan cuma satu dan masing-masing punya karakter yang berbeda.
Di Bulu Lameong, hamparan terbuka berpadu dengan bentang perbukitan. Dari titik ini, pandangan bisa lepas jauh tanpa terhalang. Cocok untuk yang mencari suasana camping dengan view luas dan dramatis, terutama saat matahari terbit.
Bergeser ke Sance, suasana langsung berubah. Kawasan ini dikenal sebagai hutan pinus yang cukup rapat. Cahaya matahari masuk di sela-sela batang pinus, menciptakan suasana teduh yang khas. Tanahnya relatif landai, nyaman untuk mendirikan tenda, dan sering jadi pilihan untuk camping santai maupun kegiatan komunitas.
Masih di jalur yang sama, ada Lancae Jolle juga berupa kawasan hutan pinus, tapi dengan nuansa yang lebih “hidup”.
Selain cocok untuk camping, lokasi ini mulai dikenal karena kebun duriannya. Jadi, saat musim tiba, suasana di sini berubah jadi lebih ramai. Orang datang bukan cuma untuk bermalam, tapi juga untuk menikmati durian langsung dari kebunnya.
Lalu ada PaungE, yang juga dikelilingi pinus, tapi cenderung lebih sepi. Tempat ini biasanya dipilih oleh mereka yang benar-benar ingin menjauh dari keramaian. Tidak banyak gangguan, hanya suara angin dan sesekali bunyi serangga malam.
Selain camping ground, potensi agrowisata di Umpungeng juga mulai terlihat jelas.
Yang paling dulu dikenal adalah kebun durian di Lancae Jolle. Saat musim panen, kawasan ini hampir selalu didatangi pengunjung lokal. Tidak ada konsep wisata modern yang berlebihan, justru kesederhanaannya yang jadi daya tarik. Duduk di kebun, makan durian yang baru jatuh, ditemani udara dingin pegunungan.
Namun sebenarnya, Lancae Jolle bukan satu-satunya. Di Coppo Leang, Cenrana, dan Awo, kebun-kebun durian milik warga mulai tumbuh sebagai potensi berikutnya. Saat ini sebagian memang belum berbuah, tapi dari luas lahan dan jumlah pohon yang ada, kawasan ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan sebagai agrowisata berbasis masyarakat.
Menariknya, warga tidak hanya bergantung pada durian. Tanaman hortikultura dan sayuran juga berkembang cukup baik di desa ini. Ini membuka peluang wisata yang lebih beragam dari sekadar menikmati alam, hingga pengalaman edukasi pertanian.
Tanggal 2 Mei 2026, di tengah libur panjang, Agus Copli melakukan langkah kecil yang berdampak besar. Ia mengajak beberapa tokoh pemuda Soppeng untuk datang langsung ke Umpungeng.
Ada Sas Jayusman (Ketua KNPI Soppeng), Wawan Darmawan (Bendahara Ansor Soppeng), Rizaldi (IPNU Sulawesi Selatan), Erwin Yamin (pendiri komunitas pecinta alam Kapas), dan Wahyuddin (mantan Ketua PMII Soppeng).
Tidak ada agenda resmi. Tidak ada panggung. Mereka hanya datang, berjalan, duduk di bawah pinus, lalu bermalam.
Dari situ, cerita mulai terbentuk dengan sendirinya. Mereka melihat langsung potensi yang selama ini mungkin hanya terdengar sekilas. Mereka merasakan sendiri suasana yang tidak bisa dijelaskan lewat foto atau tulisan.
Dan di situlah kekuatan pendekatan Agus. Ia tidak menjual Umpungeng dengan kata-kata, tapi dengan pengalaman.
Umpungeng mungkin belum sepenuhnya siap disebut destinasi besar. Fasilitas masih terbatas, beberapa titik masih alami tanpa penataan khusus. Tapi justru itu yang membuatnya terasa jujur.
Di tengah tren wisata yang semakin ramai dan kadang terasa “dibuat-buat”, tempat seperti Umpungeng menawarkan sesuatu yang berbeda, keaslian.
Dan selama ada pemuda yang terus bergerak seperti Agus Copli, desa ini tidak akan berhenti di potensi. Ia sedang berjalan menuju identitasnya sendiri sebagai desa wisata unggulan di Kabupaten Soppeng.
Pelan, tapi pasti.
0 Komentar